Berita

Abu Bakar Ba'asyir akui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia

03 Aug 2022 12:56 WIB
434
.
Abu Bakar Ba'asyir akui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia Abu Bakar Ba'asyir.

Abu Bakar Ba'asyir mengakui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo Jawa Tengah itu dalam sebuah video yang muncul di media sosial seperti Facebook dan Twitter, Senin (1/8).

Dalam video berdurasi 41 detik itu, Abu Bakar Ba'asyir tampak mengenakan baju koko dan berbicara sambil memegang mikrofon. 

Mantan Pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), sebuah organisasi yang menaungi berbagai kelompok Islamis di Indonesia itu mengatakan bahwa para ulama pendiri bangsa telah menyetujui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. "Karena dasarnya (adalah) tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa." kata dia dalam video yang dilihat Sanad Media pada Rabu (3/8).

"Setelah saya belajar, saya tidak memahami kemungkinan ulama melakukan tindakan syirik. Pancasila itu dasarnya Tauhid dan cocok untuk Bangsa Indonesia. Ini pengertian saya terakhir," tandas Abu Bakar yang kini berusia 84 tahun.

Eks narapidana terorisme itu mengaku bahwa dahulu memandang Pancasila sebagai syirik atau menyekutukan Allah. Bahkan dia menyebutkan para ulama yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara adalah ulama-ulama yang ikhlas.

Abu Bakar Ba'asyir sudah setahun lebih menghirup udara bebas. Dia dibebaskan dari Lapas Gunung Sindur Bogor Jawa Barat pada Jumat 8 Januari 2021 setelah dipenjara sebagai terpidana terorisme selama 15 tahun.

Menurut penuturan putranya, Abdul Rochim Ba'asyir, pernyataan Abu Bakar Ba'asyir dalam video singkat itu diambil sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan. 

Abu Bakar Ba'asyir sudah sempat mau dibebaskan pada tahun 2019 lalu oleh Presiden Joko Widodo dengan alasan kemanusiaan. Namun Ba'asyir menolak karena harus menandatangani ikrar setia Pancasila dan NKRI.

Redaksi
Redaksi / 404 Artikel

Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial. 

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: