Peradaban Islam akan terus berkembang mengikuti zaman dan keadaan. Dari perkembangan tersebut para ulama tiada henti mengupayakan sebuah ijtihad agar Islam tetap relevan dengan keadaan. Meski para ulama mutaqaddimin telah begitu banyak menulis kitab untuk mengurai dan menjawab berbagai persoalan yang terjadi, tentu era selanjutnya akan tidak sama dengan era sebelumnya dan perlu akan adanya rujukan dan bahan bacaan baru untuk menyelesaikan persoalan umat Islam.

Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari merupakan salah satu cendekiawan muslim yang menulis banyak kitab. Di antara kitab karangan beliau ada yang menjelaskan tentang cara hidup dalam lingkungan masyarakat, ada juga tentang pedoman dalam rumah tangga, dan ada juga yang membahas tentang akidah dan tradisi yang terjadi di Nusantara.

Di antara kitab Mbah Hasyim Asy’ari yang menjelaskan tentang akidah secara luas dan juga membahas tradisi secara ringkas adalah kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Kitab ini menjelaskan tentang akidah; tentang kelompok yang selamat (an-najiyah), dan kelompok yang salah dalam memahami akidah. Tidak hanya itu, KH Hasyim Asy’ari juga mengurai beberapa kesalahan-kesalahan kelompok yang salah dijadikan tokoh, dengan dalil dan hujjah yang kuat, serta penjelasan yang akurat.

Tentang Risalah Ahlissunnah wal Jama’ah

Kitab kecil setebal 36 halaman ini secara khusus membahas tentang seputar akidah disertai dengan dalil argumentatif serta menyinggung topik di luar akidah seperti tidak bolehnya mengajak pada kesalahan. Sebagaimana kitab-kitab sejenis pada umumnya, kitab ini berisikan hadist-hadist Nabi seputar akidah, serta argumentasi ilmiah tentang penolakan terhadap akidah yang tidak sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah.

KH Ishom Hadziq dalam pengantar kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah dengan tegas menyampaikan bahwa kebanyakan orang Islam saat ini sangat membutuhkan penjelasan perihal akidah yang benar. Karena sudah tidak bisa dibedakan antara seorang tokoh dan orang biasa, tidak bisa ditentukan mana yang benar dan mana yang salah, serta begitu percaya dirinya orang bodoh mengeluarkan fatwa padahal sama sekali tidak mempunyai ilmu yang cukup dalam menjelaskan agama.

Oleh sebab itu, KH Hasyim Asy’ari menulis kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, dengan penjelasan yang akurat dan sarat akan makna, jauh dari pemahaman salah dan penyelewengan agama. Dengan harapan, mudah-mudahan umat Islam menjauhi dari upaya-upaya penyelewengan Islam dalam perihal Akidah yang disampaikan oleh orang bodoh yang merasa pintar. Dengan demikian, umat Islam akan sesuai dalam ucapan, tindakan, dan keyakinannya dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebenarnya tidak ada penyebutan secara eksplisit perihal latar belakang penulisan kitab tersebut, namun secara implisit terkandung dalam tujuan penulisannya yaitu supaya bisa menjadi pedoman bagi umat Islam agar tidak salah dalam menentukan akidah.

Pandangan KH Hasyim Asy’ari terhadap Kelompok di Nusantara

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari memandang bahwa pada mulanya masyarakat Nusantara sepakat untuk berpedoman mengikuti Imam As-Syafi’i dalam permasalahan fikih, mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam masalah akidah, dan mengikuti Imam Al-Ghazali dalam masalah tasawuf. Kesepakatan itu terus mengakar kuat di bumi Nusantara.

Namun, setelah tahun 1330 H mulai muncul kelompok-kelompok yang menggerogoti kesepakatan itu. Banyak masyarakat Nusantara yang mulai tidak meyakini akan kebenaran yang sudah mengakar disebabkan kelompok baru yang mulai bermunculan.

Pertama, Salafiyun (bukan salafi-wahabi) yang masih berpedoman terhadap ajaran terdahulu sesuai keyakinan pada awalnya, mencintai ahlu bait Rasulullah, para ulama dan orang shaleh, mengambil berkah dari mereka, ziarah kubur, dan meyakini adanya syafaat, manfaatnya mendoakan mayat, dan meyakini tawasul.

Kedua, kelompok yang mengikuti pemahaman Muhammad Rasid Ridha, dan berpedoman pada bid’ah yang disampaikan oleh Abdul Wahab an-Najdi, Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Kelompok ini mulai mengharamkan apa yang diyakini kesunnahannya oleh masyarakat Nusantara, seperti melakukan ziarah. Kelompok kedua ini menurut pandangan KH Hasyim Asy’ari telah menjadi penyakit bagi masyarakat Nusantara. Mereka telah menggerogoti sebuah kebenaran dan menggantinya dengan kesalahan, maka kewajiban bagi masyarakat Nusantara ialah menghindari dari pemahaman seperti ini. Mereka bagaikan orang yang terkena penyakit judam, wajib dihindari agar tidak tertular dari penyakit bahanyanya, mereka telah mempermainkan Islam dan tidak layak untuk diikuti.

Ketiga, kelompok Rafidiyun, yaitu orang-orang yang membenci sahabat Abu Bakar as-Siddiq radiyallahu ‘anhu, dan mencintai Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Sebagian dari mereka ada yang terjerumus pada kufur dan zindiq disebabkan pemahamannya yang salah. Kelompok ini menurut KH Hasyim Asy’ari juga tidak boleh untuk diikuti dan wajib dihindari.

Keempat, kelompok Ibahiyun, yaitu orang-orang yang mempunyai pemahaman bahwa jika seorang hamba telah sampai pada puncak spiritualitas dan memilih iman daripada kufur, maka gugur darinya semua perintah dan larangan, serta tidak menjadikannya ahli neraka sebab melakukan dosa besar. Bahkan ada yang menganggap bahwa kewajiban ibadah telah gugur darinya. Kelompok ini sudah terjerumus pada kekafiran dan tidak boleh diikuti. Pada hakikatnya kelompok ini adalah orang bodoh yang tersesat, tidak mempunyai guru yang bisa meluruskan pemahaman salahnya.

Kelompok kedua, ketiga, dan keempat tidak boleh diikuti menurut pandangan KH Hasyim Asy’ari. Masyarakat Nusantara harus waspada dan hati-hati terhadap kelompok tersebut. Mereka lebih berbahaya dari orang-orang yang jelas kafir dan ahli bid’ah. Mereka menyamar untuk mengajak memeluk agama Islam padahal kenyatannya mereka justru merusak Islam. Mereka menyebarkan paham-paham salah penuh kebencian. Tentu semua ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam pada kenyataannya.

Bab yang Disampaikan Lengkap

Secara global, kitab kecil yang memiliki 10 bab ini lebih pada penjelasan tentang tradisi yang sudah mengakar di Nusantara. Pada awalnya membahas tentang esensi sunnah dan bid’ah. Tidak hanya itu, dalam kitab itu mengurai tentang pelbagai bid’ah yang bisa dianggap baik dan tidak.

Melalui kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, KH Hasyim Asy’ari juga menjelaskan tentang tradisi-tradisi yang ada di Nusantara, mulai dari yang sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak, serta menjelaskan awal munculnya ahli bid’ah di Nusantara.

Dalam kitab tersebut, beliau membahas esensi bid’ah. Beberapa bid’ah disampaikan secara detail dan komprehensif. Misalnya pendapat Syaikh Zarruq membagi bid’ah menjadi tiga bagian; yaitu: bid’ah yang jelas, bid’ah yang disandarkan, dan bid’ah yang diperselisihkan.

Bid’ah yang jelas adalah suatu pekerjaan yang ditetapkan tanpa mempunyai dasar hukum. Bid’ah yang disandarkan adalah bid’ah yang mempunyai landasan hukum dan dapat diterima oleh masyarakat. Sedangkan yang terakhir adalah bid’ah yang masih ada dalam ranah perdebatan; yaitu bid’ah yang berpijak pada dua dalil atau saling tarik menarik. (hlm 4).

Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah terdiri dari 10 pasal. Pasal pertama menjelakan tentang esensi dari kata sunnah dan bid’ah; mulai dari tinjauan secara etimologi, dan tinjauan secara terminologi, dilengkapi dengan berbagai contoh dari keduanya.

Pasal kedua membahas tentang pedoman masyarakat jawa (baca: Nusantara) terhadap akidah Ahlussunnah wal Jamaah, dan menjelaskan awal munculnya bid’ah dan menyebarnya di tanah Jawa, serta membahas tentang macam-macam kelompok ahli bid’ah yang ada di sana.

Pasal ketiga membahas tentang garis kebenaran bersama ulama salaf, menjelaskan tentang maksud as-sawadul a’dzom, serta pentingnya berpedoman pada salah satu mazhab 4.

Pasal keempat membahas tentang wajibnya mengikuti para ulama mujtahid bagi orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk ijtihad.

Pasal kelima membahas tentang kewajiban berhati-hati dalam mencari guru dan mengambil ilmu darinya, serta takut terhadap fitnah ahli bid’ah, orang munafik, dan tokoh-tokoh yang tersesat.

Pasal keenam membahas tentang hadist-hadist dan atsar tentang diangkatnya ilmu, maraknya kebodohan, serta penjelasan bahwa akhir zaman adalah buruk, dan lebih menariknya juga membahas tentang agama yang hanya dimiliki oleh kalangan khusus.

Pasal ketujuh membahas tentang dosa mengajak terhadap kesesatan dan mengajak pada pekerjaan yang buruk.

Pasal kedelapan membahas tentang terjadinya perpecahan umat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi waallam menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, serta kelompok-kelompok sesat dan kelompok yang selamat yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pasal kesembilan membahas tentang tanda-tanda hari hari kiamat sudah dekat.

Pasal kesepuluh membahas tentang hadist-hadist yang berkaitan dengan keadaan orang meninggal dunia mampu mendengar, berbicara, mengetahui orang yang memandikan, mengkafani, dan memakamkannya. Serta membahas tentang kembalinya ruh ke dalam jasad setelah mati.

Identitas Kitab

Judul : Risalah Ahlissunnah wal Jamaah fi Hadist al-Mawta wa Asyrat al-Saa’ah wa Bayani Mafhumi al-Sunnah wal Bid’ah.
Penulis : Haratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Tebal : 36 halaman
Penerbit : Al-Hikmah Printing Tepa’nah Barat Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur
Tahun : 2019