Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang memiliki akhlak nan agung serta mulia. Umat Islam menganggap beliau adalah sosok yang sangat sakral sehingga penghinaan terhadap pribadi bahkan simbol mengenai dirinya merupakan penistaan yang dapat memancing amarah.

Semasa hidupnya, Nabi Muhammad SAW seringkali menghadapi orang-orang yang mencacinya, baik orang-orang kafir Quraisy, maupun kaum Yahudi dan Nasrani yang dengki terhadap kesuksesan dakwah Islam di kota Madinah.

Pernah suatu ketika, serombongan orang Yahudi datang kepada Nabi dan mengucapkan hal yang tak pantas di hadapan Aisyah, Istri Rasulullah, “Kecelakaan bagimu, Wahai Muhammad”, ucap sang Yahudi.

Sontak saja, Aisyah yang tidak terima akan perkataan tersebut lalu membalasnya, “Kecelakaan dan laknat Allah bagi kalian.”

Mendengar balasan Aisyah tersebut, nabi menenangkan istrinya, “Santai saja wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kasih sayang dalam setiap hal.”

Saat itu, nabi hanya tersenyum simpul kepada Aisyah dan berkata, “Aku juga mendengar ucapan itu wahai Aisyah, dan aku sudah menjawabnya: Dan demikian juga bagi kalian”.

Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, ketika ditanya bagaimana seharusnya sikap seorang muslim bagi orang-orang yang menghina Rasulullah? Beliau menjawabnya dengan menganalogikan sikap Rasullullah saat berhadapan dengan pencacinya.

“Tahukah anda prediksiku jika penghinaan ini sampai pada Nabi?, beliau menengadahkan tangan dan berdoa. Ya Allah, tunjukkan mereka, sebab mereka tidak tahu." ucap Habib Ali.

Pun saat terjadi perang Uhud, dimana paman tercinta Rasulullah, Sayyidina Hamzah terbunuh bersimbah darah. Putra bibi beliau, Abdullah Ibn Jahsy juga bersimbah darah.

Dalam kondisi semacam itu, yang Rasulullah lakukan adalah berdoa kepada Allah, “Ya Allah, tunjukkanlah kaumku, sebab mereka tidak tahu.”

Kisah apalagi yang menunjukkan begitu indahnya akhlak Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi pencacinya? Simak jawaban Habib Ali Al-Jufri dalam video yang telah diterjemahkan oleh Tim Youtube Sanad Media.

Habib Ali Al-Jufri adalah merupakan ulama Sunni kelahiran Jeddah tahun 1971 dari orang tua yang masih keturunan dari Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib, Suami dari Fatimah Azzahra, putri Rasulullah.

Guru-guru beliau adalah para ulama besar dari berbagai negara, baik Mesir, Suriah, Yaman bahkan Mauritania.

Diantara guru beliau; Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Said Ramadhan Al-Buthi, Syekh Abdullah bin Bayah, dan lain sebagainya.

Saat ini beliau tinggal di Mesir dan merupakan salah satu ulama muda yang menjadi rujukan fatwa-fatwa keislaman kontemporer di berbagai forum dunia.