Turki sering terjebak di tengah-tengah konflik antara Barat dan Rusia dalam beberapa isu strategis.  Status Turki menjadi semakin rumit dengan adanya berita bahwa China akan menjadi sponsor utama dalam pendanaan dan pembangunan jalur air Turki yg kontroversial untuk Laut Hitam.

Gara- gara Turki membeli sistem pertahanan udara dari Rusia, ditambah dengan tudingan AS terhadap bank publik Turki karena telah membantu Iran dalam menghindari sanksi dari AS, hubungan mereka semakin renggang. Belum lagi polemik terkait jajaran atas kurdi Syiria dan posisi Turki di Mediteranian Timur malah menambah bara api dalam kobaran ketegangan antara Turki dengan AS.

Maka agar membiarkan Turki semakin leluasa bergerak, Ankara baru-baru ini pindah untuk memperbaiki hubungannya dengan Barat. Seperti yang dilansir dari AlMonitor, mereka berusaha menjalin mitra dengan Barat terutama di bidang kemiliteran dan ekonomi.

Salah satu usaha yang mereka lakukan yaitu keterlibatan Turki di NATO untuk mencegah Rusia menghentikan agresinya ke Ukraina.

Turki sudah siap bekerja sama dengan Ukraina membantu perkembangan militer termasuk menyediakan drone untuk Kyiv. Januari lalu, Turki juga mengambil perintah satuan tugas NATO dengan kesiapan tinggi yang berdiri sejak 2014 untuk menghalangi Rusia.

Dalam langkah nyata lainnya untuk membujuk Barat dan dalam hubungannya dengan strategi Barat untuk menyusahkan Rusia di Laut Hitam, Ankara mempercepat proyeknya untuk membangun alternatif buatan ke selat Bosphorus, yg disebut kanal Istanbul, dengan maksud untuk membuka konvensi Montreux 1936 untuk berdiskusi atau bahkan mengabaikannya.

Konvensi tersebut menghubungkan Bosphorus dan Dardanella yang menjadi rute utama maritim dan menghubungkan Laut Hitam dan Laut Mediterania.

Harapannya Turki memiliki kuasa agar bisa membatasi masuknya pasukan angkatan laut non-pesisir ke laut hitam.

Kanal Istanbul, disebut ‘proyek gila’ oleh presiden Recep Tayyib Erdogan saat pertama kali diluncurkan pada 2011 dan telah memancing minat China untuk ikut andil.

Saat ini perusahaan Cina tampak mengincar tender untuk jalur air tersebut,  dengan estimasi biaya melebihi $ 9 milyar.

Mengingat keadaan ekonomi Turki yang sedang menurun, banyak yg berasumsi bahwa masalah keuangan akan menghalangi proyek. Rupanya tidak.

Sejak 20 maret, Ankara telah mengumumkan undang-undang amandemen yang mengantarkan jalan untuk pembangun kanal Istanbul untuk mendapatkan keuntungan dari jaminan negara, persetujuan rencana perkembangan proyek dan persiapan untuk mengundang tawaran dari kontraktor.

Erdogan sendiri mengumumkan bahwa pembangunan akan dimulai saat musim panas.

"Kanal atau Terusan Istanbul akan menjadi jalur baru dan kami akan segera meluncurkan tender secara bertahap di musim panas," katanya pada 7 April lalu.

Apa yang membuat Erdogan tiba-tiba mempercepat prosesnya? Tentu saja karena adanya dukungan sponsor dari Cina. Seorang jurnalis Turki, Jale Ozgenturk, menyatakan,

"Dukungan sponsor yang ditunggu-tunggu akhirnya datang dari pihak yang sama sekali tidak terduga, Cina. Ankara sibuk menangani masalah ini. Ada empat proposal saat ini untuk tender yg akan datang, dan semuanya berasal dari perusahaan Cina," tulis Ozgenturkpada 9 April.

Dia juga menjelaskan bahwa selain sponsor, Cina juga akan menanggung pembangunan dan banyak lagi lainnya.

Menurut jurnalis bisnis lainnya, Serpil Yilmaz, dana dukungan dari Cina berasal dari ICBC dan bank Inggris yg berbasis di Hong Kong, HSBC.

Sementara itu, situs berita keuangan finans365 melaporkan bahwa ICBC juga sedang mencoba untuk membuat sebuah konsorsium untuk membiayai pembangunan jalur air tersebut.,

Karena tender kanal Istanbul telah diserahkan kepada China, tetap saja Turki menghadapi beberapa rintangan.

Pertama, akan ada resiko yang biasa muncul dari pendanaan yang berasal dari China. Menurut laporan media Turki, Cina pernah mengajukan tawaran serupa dua tahun lalu, dengan dana mencapai 65 miliar USD, termasuk pinjaman untuk membiayai pembangunan jalur air dan investasi lain sebagai bagian dari proyek tersebut.

Berkaca dari kasus di atas, pembelian tender bisa jadi hanya akal-akalan Cina. Banyak pengamat bisnis melihat bahwa pembelian tender ini dimaksudkan sebagai hutang kasat mata yang harus ditebus Turki ke Cina di kemudian hari.

Bahkan Desember lalu, Ahmad Davutoglu, mantan perdana menteri dan menteri luar negeri Erdogan yang saat ini berdiri sebagai pihak oposisi, menyatakan bahwa kesetujuan pemerintah untuk menyediakan lahan bagi Cina di sekitar Terusan Istanbul itu bakal membunuh negara secara perlahan.

Dia memperingatkan, “Erdogan telah menginjak langkah pertama menuju jalan untuk terhapusnya kedaulatan nasional dan kelangsungan ekonomi Turki.”

Adapun resiko kedua, tampak Ankara telah menyusun siasat untuk menjadikan Terusan Istanbul sebagai kambing hitam Turki agar mereka bisa melewati konvensi Montreux dan mendekat ke Washington.

Tetapi dengan memberikan proyek tender tersebut ke Cina, tentu Turki bakal mempunyai keuntungan geostrategis di titik temu antara Eropa dan Asia ketika US mencoba menahan Cina.