Artikel

Benarkah manusia berpikir?

19 Sep 2022 11:27 WIB
188
.
Benarkah manusia berpikir? Akal menempatkan manusia berada di tingkat yang paling tinggi dari makhluk-makhluk lainnya.

Pada 2015 lalu sebuah batuan Monolit ditemukan di perairan Sisilia. Batu ini diperkirakan berusia sekitar 10.000 tahun lamanya. Para peneliti mengatakan bahwa adanya monolit ini menunjukan bahwa manusia pada masa itu sudah mampu bekerja sama, yaitu memotong batu seberat 15 ton secara presisi dan membawanya sejauh 300 meter.

Lebih dekat lagi, di belahan negara Afrika sana, telah berdiri bangunan paling bergengsi pada masanya, piramida, yang beberapa darinya masih bisa kita saksikan. Piramida merupakan karya monumental bangsa Firaun paling bergengsi di masanya, karena eksklusif untuk menyimpan jasad para raja saja.

Kemudian lebih dekat lagi, sekitar tahun 1998M, ketika anak-anak sepantaranku masih minta gendong ke ibunya, NASA, sebuah badan penerbangan dan antariksa Amerika Serikat meluncurkan International Space Station (ISS) atau yang lebih dikenal dengan stasiun luar angkasa yang beroperasi di bawah kemitraan US, Rusia dan beberapa negara bagian lainnya.

Beberapa peristiwa yang telah disebutkan di atas merupakan secuil dari tanda eksistensi dan keunggulan manusia yang telah hidup puluhan ribu tahun lamanya di muka bumi ini. Lalu, apakah peristiwa-peristiwa di atas terjadi begitu saja tanpa sebab atau merupakan akibat dari rentetan peristiwa-peristiwa lainnya yang mungkin tidak tercatat sejarah?

Saya sebagai salah satu bagian dari makhluk hidup bernama manusia sejak diberikannya kemungkinan menggunakan potensi nalar sendiri, sangat meyakini bahwa manusia memang makhluk terbaik yang pernah ada, belum pernah saya mendengar berita bahwa kera telah menemukan sebuah teori tentang gerak-gerik manusia yang berbahaya, atau mungkin segerombolan kucing oyen sedang merumuskan masalah serta solusi untuk apa yang terjadi pada sebagian kawanannya yang lain. Tidak pernah ada, kecuali jika itu ditayangkan oleh salah satu stasiun tv yang biasa menayangkan elang terbang atau juga mayat terkena azab tertimbun puluhan tabung gas sebab penggelapan gas bersubsidi.

Dalam hal ini, Tuhan sendiri yang menjelaskan keistimewaan dan kesempurnaan itu di dalam Al-Qur’an, surat at-Tin ayat 4, dan itu masyhur di kalangan para pelajar. Namun, hal mendasar yang membuat manusia itu benar-benar menjadi satu-satunya yang teristimewa di kalangan makhluk hidup lainnya serta yang membuat mereka mampu menciptakan banyak peristiwa besar seperti yang telah disebutkan diatas adalah akal. Imam Ghazali beserta para filosof yunani juga mengatakan demikian.

Jika kita lihat definisi manusia itu sendiri, maka akan ditemukan al-insanu hayawaanun naatiqun, al-insan sebagai muarraf, yaitu mubtada yang terkena hukum, sedangkan hayawan natiq itu sebagai muarrif atau ta’rif, yaitu khobar yang menghukumi si insan, juga sebagai sifat mausuf di mana hayawaanun yang artinya makhluk hidup, itu disifati naatiqun yang memiliki arti berpikir. Dengan demikian arti kalimat al-insanu hayawaanun naatiqun itu berarti manusia adalah makhluk hidup yang berpikir.

Tidak berhenti di situ, apakah dengan dipatenkannya definisi manusia sebagai makhluk hidup yang berpikir oleh para ilmuan lantas begitu saja sejajar membuat setiap satu dari manusia di alam semesta ini dihukumi berfikir selama rentang hidupnya?

Mari kita kroscek lebih dalam lagi. Hal ini dirasa perlu lebih dijelaskan karena sering kali manusia menemukan dirinya di dalam tubuh manusia yang lain, keliru dalam mengambil kesimpulan dari kalimat yang terlihat begitu sederhana tersebut, padahal itu adalah definisi tentang dirinya sendiri. Itu tak lain dan tak bukan karena kurangnya ketelitian dalam mempelajarinya.

Definisi hayawanun atau makhluk hidup mungkin sudah tidak perlu lagi kita bahas, sedangkan naatiq atau berakal sangat dirasa perlu, karena inti dari kalimat ini ada padanya. kalimat an-naatiq memiliki definisi mudrikun bil-quwwah, mudrikun merupakan isim fail dari adroka yang memiliki arti menalar. Kalau menggunakan sighat isim fa'il maka artinya adalah yang bernalar, failnya dikembalikan kepada al-insan sebab satu-satunya makhluk yang bernalar adalah manusia.

Sedangkan bil quwwah mempunyai makna potensi. Dan potensi sendiri maksudnya adalah bisa sedang, bisa juga tidak sedang berpikir. Manusia dinilai hanya mempunyai syarat bawaan berpikir tapi belum tentu melakukannya, dan itu mengikuti keadaan si manusianya sendiri. Dari situ an-natiq mudrikun bil-quwwah berarti manusia yg bernalar secara potensi.

Sesuai kaidah mantiq, bahwa setiap satu peristiwa dapat mewakili makna kalimat sebagian (ba’dun), maka sebagian peristiwa yang telah disebutkan di atas merupakan tanda kongkrit bahwa manusia pernah benar-benar berpikir, pernah menggunakan potensi akalnya untuk menelurkan sebuah gagasan, sebuah ide, sebuah teori yang disusun dari pengetahuan-pengetahuan yang mereka dapatkan dalam proses bernalar lainnya.

Mereka benar-benar pernah mempraktekkan hal itu sehingga untuk dikatakan sebagai manusia seutuhnya bisa menjadi sah, sebab pernah keluar dari zonasi yg sifatnya hanya potensial menuju bentuk konkrit berfikir yang sebenar-benarnya.

Kalau pertanyaannya apakah manusia pernah berpikir? Tentu sepakat bahwa jawabannya adalah ya. Namun, jika pertanyaannya adalah benarkah manusia berpikir yang artinya adalah mencangkup seluruh rentang hidupnya tanpa titik koma, selama 24 jam penuh mereka hidup? Maka jawabannya, entahlah.

Faiz Hosainie Rafsanjanie
Faiz Hosainie Rafsanjanie / 1 Artikel

Alumni Al-Azhar Kairo Mesir. Aktivis PCINU Mesir, meminati kajian keislaman Timur dan Barat.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: