Tokoh

Catatan Keilmuan Umi Prof. Dr. Huzaemah Tauhid Yanggo, MA (Bagian 2-Habis)

31 Aug 2021 08:38 WIB
756
.
Catatan Keilmuan Umi Prof. Dr. Huzaemah Tauhid Yanggo, MA (Bagian 2-Habis)

Jika banyak yang mengenal Umi Huzaemah seorang ulama pakar fikih perbandingan mazhab, lebih dari itu umi juga seorang hafidzah dan memiliki sanad al-Qur'an kepada masyayikh di Mesir. Dalam sebuah kesaksian dari Habib Ali bin Muhammad Al-Jufri, ketua umum PB Alkhairaat, umi mengkhatamkan hapalan al-Qur'an dalam beberapa bulan saja saat beliau hendak menyelesaikan program S3 beliau dan terus dimurajaah dan ditasmi'kan kepada para guru-guru beliau di  Al-Azhar.

Umi Huzaemah berangkat ke Kairo pada tahun 1977 saat usia beliau 32 tahun. Sebuah rentang usia yg sudah cukup matang dan tidak lagi muda dalam perjalanan hidup seorang perempuan.

Sebagaimana kisah perjalanan keilmuan para ulama terdahulu yang menjadikan Timur tengah sebagai pemantapan  rihlah ilmiyah mereka, rihlah umi ke Kairo pun bukan 'kosongan' dan bisa dikatakan sebagai  rihlah pengokohan keilmuan beliau.

Saat pertama kali datang ke Kairo, bulan-bulan pertama kedatangan beliau ke bumi para Nabi ini dimanfaatkan untuk berziarah dan mengenal tempat-tempat bersejarah di Mesir. Dalam sebuah obrolan dengan Dr. Hendra Kholid, dosen UIN Jakarta, umi pernah ditanya tentang kegiatannya saat di Kairo, apakah benar umi memang tidak pernah jalan-jalan ke Nil atau melihat Piramida? Beliau menjawab bahwa ziarah dan berkunjung ke tempat semacam Nile atau Piramid juga merupakan proses belajar dari  sejarah yang ditinggalkan, dan umi di awal kedatangannya juga melakukan hal itu. Hanya saja, beliau menghabiskan periode itu di awal kedatangan. Setelah dirasa cukup, umi fokus dan tekun untuk belajar.

Bahkan umi pernah bercerita, saking fokusnya umi membaca dan menulis di dalam kamar, beliau sampai tidak tahu jika di luar sedang bulan pernama; Sebuah kisah unik namun penuh makna dari perjalanan keilmuan seorang ulama.

Beliau mendapatkan gelar MA  tahun 1981 pada spesialisasi Hukum Islam  Perbandingan dengan judul tesis "Mujibat Ath-Thaharah fi At-Tasyri' Al-Islamiyyi" (Kewajiban Thaharah dalam Syariat Islam) dan meraih gelar Doktor pada tahun 1984 pada jurusan Fikih dan Ushul Fikih dengan judul disertasi "Manhaj Al-Islam fi Tasharrufat Ash-Shagir wa Ri'ayatih"( Metode Islam dalam Mengasuh dan Mendidik Anak) yang keduanya di bawah bimbingan Prof.Dr. Ahmad Sayid Ahmad Usman, Guru Besar Ushul Fikih Universitas Al-Azhar kala itu.

Mesir merupakan tempat pemantapan keilmuan dari seorang Umi Huzaemah. Meskipun secara keilmuan, umi telah mendapatkan banyak hal dan pengalaman dari perjalanan keilmuannya sebagai santri dan guru di Alkhairaat, namun Al-Azhar telah melegitimasi keilmuannya sebagai seorang ulama yang patut diperhitungkan di dunia internasional. Terbukti, umi adalah perempuan Indonesia pertama yang dapat menyelesaikan study doktoralnya meskipun di usia yang saat itu tidak lagi muda, 39 tahun; Sebuah capaian prestisus yang dapat diraih seorang perempuan pada masa itu.

Sejak kedatangannya di Kairo sampai menyelesaikan program doktornya, Umi Huzaemah mendapati dua Grand Syekh Al-Azhar; Pertama yaitu Syekh Muhammad Abdurrahman Al-Bishar (1979-1982), seorang ulama mazhab Syafii dan guru besar dalam bidang filsafat Islam. Kedua adalah Syekh Jadul Haq Ali Jadul Haq (1982-1996), seorang Qadhi dan pernah menjabat sebagai Grand Mufti Mesir kala itu.

Di Mesir, menurut salah satu kerabat umi, Om Qasim Sholeh Lahido, Umi Huzaemah sering mengikuti pengajian dari Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi (1911-1998) dan talaqqi secara intens kepada Prof. Dr. Anis Ubadah, seorang dosen senior fakultas syariah di Universitas Al-Azhar yang juga merupakan salah satu pembimbing disertasi beliau.

Sebagaimana seorang ulama, tentu umi memiliki tokoh-tokoh yang beliau kagumi. Kepada beberapa orang saya sempat menanyakan siapa saja tokoh yang umi kagumi.  Beberapa tokoh luar negeri yang umi kagumi diantaranya Syekh Mahmud Syaltut (1893-1963), seorang Grand Syekh Al-Azhar yang pertama kali mendapat gelar Al-Imam Al-Akbar, lalu Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi, Syekh Ali Shobuni (1930-2021), Syekh Sayyid Sabiq (1915-2000) dan beberapa ulama lainnya.

Di dalam negeri, selain  tentunya Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, pendiri Alkhairaat, umi mengagumi Prof.Dr. Zakiah Daradjat (1929-2013), seorang ulama perempuan dan guru besar psikologi Islam Indonesia serta Prof. Dr. Quraish Shihab, pakar tafsir Indonesia yang juga senior beliau di Al-Azhar, Kairo.

Umi juga mengagumi penyanyi Ummi Kultsum (1904-1975) , sebagai seorang penyanyi perempuan Mesir yang dijuluki 'Kawkab Al-Syarq' (Bintang dari Timur) yang pada era itu memang sangat  masyhur di Kairo.

Jika ada yang bertanya, apakah umi bertarekat? Tentu sebagai seorang ulama, umi memiliki riyadhoh ruhani yang begitu kuat. Beliau adalah pengagum para tokoh-tokoh tasawuf dan begitu mengenal ajaran setiap tarekat. Bahkan menurut abi Prof. Dr. Abdul Wahab Abdul Muhaimin, umi memiliki wirid yang beliau rutinkan semasa hidup, mulai dari wirid tarekat Alawiyah maupun Syadziliyah. Namun semasa hidupnya, umi memang tidak menisbatkan dirinya kepada lembaga ketarekatan tertentu meskipun tentu umi tetap berthariqah (baca: melakukan riyadhoh ruhani) yang umi lazimkan setiap hari.

Dr. Syarif Hidayatullah, S.S.I., MA.
Dr. Syarif Hidayatullah, S.S.I., MA. / 3 Artikel

Dosen Program Pasca Sarjana Hukum Ekonomi Syariah (HES) Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: