Darul Ifta’ memberikan imbauan kepada masyarakat yang berniat menunaikan ibadah umrah tetapi tidak dapat menunaikannya karena udzur dengan mengerjakan ibadah-ibadah lain yang pahalanya setara dengan pahala nafilah haji dan umrah. Salah satunya adalah menyedekahkan biaya perjalanan umrah kepada para korban yang terdampak wabah Corona.

Darul Ifta' Mesir meluncurkan tagar الصدقة_أولى# (sedekah lebih baik) dan كأني_اعتمرت# (seolah saya sudah berumrah) yang berisikan imbauan kepada masyarakat yang berniat menjalankan ibadah umrah dan berziarah ke tanah suci tahun ini tetapi terhalang oleh wabah Covid-19 agar menginfakkan biaya umrah tersebut kepada fakir miskin dan kalangan yang membutuhkan.

Darul Ifta' menegaskan bahwa infak atau sedekah untuk mencukupi kebutuhan fakir miskin dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat terdampak virus Corona, akan dibalas pahala berlimpah dari Allah SWT, karena mewujudkan salah satu tujuan utama syariat, yaitu menyelamatkan nyawa.

Hal ini sejalan dengan kaidah yang menyatakan, "Orang yang bersujud diperhatikan terlebih dahulu sebelum tempat bersujud (masjid) dan nasib insan diprioritaskan sebelum bangunan."

Sebelumnya, Darul Ifta' menerima pertanyaan dari seseorang tentang ibadah paling utama untuk dilakukan oleh orang kaya dan berkecukupan.

"Dalam keterpurukan ekonomi seperti sekarang, manakah yang lebih baik untuk dilakukan: apakah menunaikan haji sunnah dan umrah sunnah, ataukah meringankan kebutuhan fakir miskin, membantu biaya pengobatan orang sakit dan membayar pelunasan mereka yang terlilit hutang?" demikian bunyi pertanyaan itu seperti dikutip elbalad.news pada Selasa (14/4).

Mufti Mesir, Dr. Syauqi Alam menjawab bahwa mencukupi kebutuhan fakir miskin, membantu pengobatan orang sakit dan membayar pelunasan mereka yang terlilit hutang serta bentuk bantuan lain yang sekiranya meringankan beban dan kebutuhan orang lain, harus didahulukan sebelum haji sunnah dan umrah sunnah.

"Para ulama tidak berselisih dalam masalah ini dan justru mendatangkan pahala yang lebih banyak serta lebih mudah diterima di sisi Allah," tuturnya.

Beliau menerangkan bahwa orang-orang kaya dari kaum muslimin berkewajiban secara fardhu kifayah untuk meringankan beban ekonomi orang-orang yang membutuhkan. Tidak boleh menelantarkan fakir miskin dengan alasan memperbanyak ibaadah sunnah. Yang wajib tidak boleh ditinggalkan untuk menunaikan kesunnahan.

"Orang yang melaksanakan kewajiban fardhu kifayah itu lebih besar pahalanya daripada orang yang menunaikan kewajiban fardhu ain, karena ia tengah berupaya menghilangkan dosa dari semua orang (andai tidak ada satu pun yang melaksanakan)." jelas beliau.

Selain itu, Darul Ifta' juga menyebutkan amalan-amalan yang pahalanya sepadan dengan pahala haji sunnah dan umrah sunnah. Pesan ini secara khusus ditujukan kepada orang-orang yang berniat ibadah ke tanah suci pada bulan Ramadhan namun tidak mampu menunaikannya karena udzur wabah Corona.

Selanjutnya

Berikut daftar ibadah yang pahalanya setara dengan umroh rekomendasi Darul Ifta' Mesir:

1. Tekad menunaikan haji bila keadaan sudah memungkinkan

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang. Pertama, hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allah dalam hartanya. Dengannya ia menyambung silaturahmi dan menyadari bahwa dalam harta itu ada hak Allah.

Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allah). Kedua, hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta. Dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama.

Ketiga, hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allah.

Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allah). Dan keempat, hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Maka dengan niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama." (HR. at-Tirmidzi)

Artinya: seorang hamba dengan niatnya yang tulus, akan mendapatkan pahala ibadah yang tidak dapat dia lakukan. Haji dan umrah termasuk dari ibadah ini.

2. Bakti kepada kedua orang tua

Pahala berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua atau salah satunya, itu sama seperti pahala haji dan umrah.

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW. Dia berkata, "Saya ingin sekali pergi berjihad, tetapi aku tidak mampu melakukannya."

Nabi menjawab, "Apakah salah seorang dari orang tuamu masih hidup?"

"Ibuku," jawab laki-laki itu.

Lalu Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah  terhadap ibumu. Jika engkau melakukan itu, maka engkau seperti orang haji, umrah dan jihad. Apabila ibumu memanggilmu, maka bertakwalah (kepada Allah) dan berbaktilah kepadanya." (HR. al-Baihaqi dalam kitab Syu'ab al-Iman).

3. Hadiri majelis ilmu di masjid

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berangkat ke masjid dan tidak ada yang dia inginkan kecuali untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka dia akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang berhaji dengan sempurna.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

4. Zikir sampai Dhuha setelah shalat Subuh berjamaah

Rasulullah SAW menjelaskan pahala duduk berdzikir dan membaca al-Quran sesudah shalat Subuh berjamaah hingga terbit matahari lalu disusul shalat Dhuha setelah matahari terbit. Beliau menyampaikan bahwa pahala melakukan semua itu sama seperti pahala haji dan umrah.

Beliau bersabda, "Barang siapa mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat Dhuha, maka dia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna." (HR. at-Tirmidzi)

5. Bantu penuhi kebutuhan orang lain

Berjalan untuk membantu kebutuhan orang lain memiliki pahala sebesar pahala haji. Diriwayatkan bahwa Hasan al-Bashri pernah mengutus salah satu orang shaleh untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan.

Lalu orang itu menjawab, "Maaf, aku sedang i’tikaf.” Kemudian beliau berkata, "Tahukah engkau bahwa jika engkau berjalan menolong saudaramu dalam memenuhi kebutuhannya, itu lebih baik daripada haji setelah haji?”


Reporter: Abdul Majid

Editor: Erik Erfinanto