Artikel

Giliran Qatar dan Iran Kritik Sikap Politik Emmanuel Macron

28 Oct 2020 11:02 WIB
456
.
Giliran Qatar dan Iran Kritik Sikap Politik Emmanuel Macron

Kementerian Luar Negeri Qatar mengutuk meningkatnya hasutan terhadap Islam dan menegaskan penolakannya atas semua bentuk ujaran kebencian berdasarkan keyakinan, ras atau agama termasuk penistaan yang disengaja dilakukan majalah satir Perancis, Charlie Hebdo.

Qatar memperingatkan Perancis agar berhenti menyinggung Nabi Muhammad SAW, yang dapat mengakibatkan "peningkatan gelombang permusuhan terhadap umat Islam, yang sudah menjadi komponen kunci masyarakat di berbagai negara di dunia".

"Pidato yang menghasut ini telah menyaksikan perubahan yang berbahaya dengan meningkatnya seruan sistematis untuk berulang kali menyerang hampir dua miliar muslim di seluruh dunia melalui pelanggaran yang disengaja terhadap sosok Nabi Muhammad SAW," kata Kemenlu Qatar dalam pernyataan yang dikutip Middle East Monitor Selasa (27/10).

Negara monarki yang dikepalai oleh Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani ini meminta dunia internasional untuk membela tanggung jawabnya dengan menolak pidato kebencian dan hasutan, menekankan bahwa mereka akan terus mendukung nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan dan bekerja menuju pembentukan prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan internasional.

Baca juga: Akibat Menghina Nabi, Produk Perancis Diboikot Di Timur Tengah

Kemudian Menteri Luar Negeri Iran menuduh Perancis tengah mengipasi api "ekstremisme" setelah Presiden Emmanuel Macron membela penerbitan kartun kontroversial yang menghina Nabi Muhammad SAW oleh majalah satir Charlie Hebdo.

"Umat muslim merupakan korban utama dari 'pemujaan kebencian' yang diberdayakan oleh rezim kolonial dan diekspor oleh klien mereka sendiri," bunyi cuitan Menlu Mohammad Javad Zarif pada Senin (26/10).

"Menghina 1.9 miliar muslim karena kejahatan menjijikkan ekstremis semacam itu adalah penyalahgunaan kebebasan berbicara yang oportunis. Itu hanya akan memicu ekstremisme." imbuhnya.

Komentar ini muncul di tengah perselisihan yang memanas akibat dukungan Perancis untuk karikatur Nabi Muhammad.

Para pemimpin agama Iran belum menyerukan aksi boikot, tetapi beberapa pejabat negeri Mullah itu menuduh Macron menghidap "Islamophobia".

Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan bahwa perilaku irasional Macron menunjukkan kekasarannya dalam politik.

Dalam sebuah postingan Twitter, Shamkhani juga melayangkan komentar bahwa sikap Macron menunjukkan kekurangpengalamannya dalam politik. “Jika tidak, dia tidak akan berani menghina Islam.” tulisnya dikutipMiddle East Eye Senin ((26/10).

Ali menyarankan kepada pemimpin Perancis agar "membaca lebih banyak sejarah" dan tidak bergantung pada "dukungan dari Amerika dan Israel".

Baca juga: Muslim Council of Elders Bentuk Komite Hukum Internasional untuk Gugat Charlie Hebdo

Ketua parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf mengecam "permusuhan bodoh" Perancis dengan Nabi Muhammad, dan mengatakan kalau "cahaya tidak bisa dipadamkan dengan tindakan buta".

Pekan lalu, Macron memuji Samuel Paty, seorang guru sekolah Perancis yang terbunuh karena mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Umat Islam meyakini bahwa penggambaran Nabi adalah bentuk penistaan agama. Pada hari Jumat, kartun tersebut diproyeksikan ke gedung-gedung pemerintah di Perancis.

Dia telah membela penistaan Charlie Hebdo pada bulan September dan pada awal bulan ini dia berjanji akan melawan apa yang disebutnya "terorisme Islam".

Protes Masyarakat Muslim dan Boikot Produk Prancis

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta warganya untuk tidak membeli barang-barang buatan Perancis.

Sebelumnya dia mengkritik Emmanuel Macron dan memintanya mengecek kesehatan mentalnya. "Masalah apa yang dimiliki orang bernama Macron ini dengan Muslim dan Islam? Macron membutuhkan perawatan mental," kata Erdogan dalam pidatonya.

Di banyak negara mayoritas muslim, aktivis dan pengusaha telah membuat kampanye boikot produk Perancis. Mereka mengedarkan daftar produk yang harus dihindari termasuk perusahaan seperti Lancôme, Yves Saint Laurent, Louis Vuitton, Chanel dan Givenchy.

Baca juga: Syekh Al-Azhar: Jangan Memicu Konflik dengan Alasan Kebebasan Ekspresi

Komentar Macron juga memicu protes di beberapa negara mayoritas muslim. Orang-orang di Suriah dan Libya membakar foto dirinya. Seruan boikot Perancis di Qatar juga mendapatkan momentum karena supermarket di sana menghindari menjual produk-produk dari negara Eiffel itu.

Redaksi
Redaksi / 376 Artikel

Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial. 

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: