Berita

Giliran Sudan 'Menikam dari Belakang' Rakyat Palestina

24 Oct 2020 11:17 WIB
1015
.
Giliran Sudan 'Menikam dari Belakang' Rakyat Palestina

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Sudan dan Israel sepakat untuk menjalin hubungan baru dalam bentuk normalisasi, di Gedung Putih AS, Jumat, 23 Oktober 2020.

Normalisasi itu ditandani dengan penandatanganan nota kesepatakan oleh Trump melalui sambungan telepon yang melibatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Perdana Menteri Sudan Abdallah Hamdok beserta Kepala Dewan Transisi Sudan, Abdel Fattah Al-Burhan.

“Para pemimpin sepakat untuk melakukan normalisasi hubungan antaa Sudan dan Israel sebgai penanda berakhirnya peperangan,” pernyataan ketiga negara tersebut, mengutip dari Aljazeera News Agency, Sabtu (24/10/2020).

Lebih lanjut, Trump berharap Palestina dan sejumlah negara Timur Tengah lain termasuk Arab Saudi agar segera menjalin hubungan baik dengan Israel dalam beberapa bulan ke depan.

“Ini akan menjadi negara ketiga yang sepakat memperbaiki hubungan dengan Israel, ke depan, akan banyak lagi negara yang ikut serta,” kata Trump.

Diketahui, Sudan menjadi negara Arab ketiga setelah Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain sepakat untuk melakukan normalisasi dengan Israel dalam dua bulan terakhir.

Sementara itu, UEA menyambut baik kesepakatan antara Sudan-Israel, “Ini akan menjadi langkah penting untuk meningkatan keamanan dan kemakmuran di wilayah tersebut.”

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Sudan mengatakan, bagaimana pun perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel masih menunggu persetujuan dari dewan legislasi yang belum dibentuk.

“Kesepakatan normalisasi dengan Israel akan diputuskan setelah lembaga konstitusi selesai membentuk dewan legislasi,” kata Omar Gamareldin.

Dewan legislasi masih pada tahap penggodokan dan belum diketahui pasti kapan akan selesai. Dewan tersebut rencananya akan dibentuk berdasarkan kesepakatan antara perwakilan sipil dan militer.

Perwakilan sipil dan militer di Sudan telah berjalan berdampingan untuk mengatur negara sejak penggulingan Omar Al-Bashir pada 2019 lalu.

Babak Baru "Penikaman dari Belakang”

Petinggi Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO), Wasel Abu Youssef mengatkan keputusan Sudan untuk menjalin normalisasi hubungan dengan Israel adalah babak baru “penikaman dari belakang” bagi Palestina.

“Begabungnya Sudan dengan Israel dalam hubungan normalisasi merupakan penghianatan atas perjuangan rakyat Palestina,” katanya di Ramallah.

Abu Youssef melanjutkan, keputusan negara-negara Afrika untuk mengikuti langkah UEA dan Bahrain tidak akan menggoyahkan keyakinan Palestina untuk melanjutkan perjuangan.

Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum di Gaza mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa keputusan Sudan—yang juga sekutu Hamas--merupakan langkah yang salah arah.

Terpisah, Benyamin Netanyahu menyambut baik langkah Sudan yang ia sebut sebagai ‘lingkaran perdamaian’ yang merupakan awal dari ‘era baru’.

Kemenangan Politik Trump

Sebelumnya, Donald Trump meminta menghapus Sudan dari daftar penyokong aksi terorisme di AS. Langkah ini dinilai untuk memuluskan diplomasi agar Sudan menyepakati normalisasi dengan Israel.

Sudan masuk sebagai daftar negara penyokong terorisme pada 1993,. Sebagai kompensasi atas pencabutan status tersebut, AS mengucurkan dana untuk Sudan sebesar 335 juta dolar AS. 

Sebelum mengumumkan normalisasi Sudan-Israel, Trump memberi tahu Kongres perihal niat untuk mencabut status Sudan sebagai negara penyokong terorisme. 

Sementara itu, Menteri Luar Negari AS, Mike Pompeo mendukung langkah Trump mengingat saat ini Sudan telah melakukan transisi ke kepemimpinan sipil.

Menurut kesepakatan ketiga negara, Sudan dan Israel berencana membuka hubungan ekonomi dan perdagangan yang akan berfokus pada sektor pertanian.

Dengan begitu, Pompeo berharap ke depan Sudan dan AS akan lebih banyak bekerjasama di bidang perdangan.

Meski Sudan tidak menjadi negara prioritas AS, namun pengamat mengatakan bahwa langkah Trump ini sebagai kemenangan politik dan akan meningkatkan elektabiltasnya di pemilu mendatang.

Redaksi
Redaksi / 438 Artikel

Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial. 

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: