Mengingat bulan suci Ramadlan masih berada di tengah pandemi Covid-19, seorang Muslim yang cerdas sepantasnya mampu bersikap bijak dengan selalu waspada dan berhati-hati dalam menjalankan ibadah di luar rumah.

Dua tahun berturut-turut pemerintah Mesir memutuskan larangan i’tikaf di masjid karena merebaknya virus Corona. Khawatirnya, virus Corona semakin menyebara di antara orang-orang yang beriktikaf dan semakin memicu banyaknya korban jiwa.

Seperti yang dilansir dari laman resmi Darul Ifta Mesir, para ulama menjelaskan hukum iktikaf adalah sunnah bagi laki-laki maupun perempuan dan tidak berlaku selain di masjid karena itu bagian dari syarat.

Tidak diperbolehkan juga untuk melaksanakan iktikaf di rumah, karena hilangnya rukun ‘bertempat di masjid’ yang sepantasnya ada dalam iktikaf.

Mengingat kondisi yang dialami negara-negara di dunia akibat wabah Corona (COVID-19), masjid-masjid ditutup untuk orang-orang yang beriktikaf. Masjid-masjid tersebut hanya dibuka untuk shalat lima waktu.

Darul Ifta lantas memutuskan untuk meniadakan iktikaf karena hilangnya salah satu rukun yaitu tidak tersedianya masjid. Para ulama Ifta juga menganjurkan untuk mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah demi kemaslahatan masyarakat.

Maka seorang muslim yang patuh pada protokol dan tetap ingin beriktikaf di masjid, dia sudah memperoleh pahala iktikaf karenia niatnya.

Begitu juga jika ada seorang muslim yang telah berniat untuk beriktikaf di masjid sebelum merebaknya wabah ini. Darul Ifta sendiri menghimbau untuk tetap patuh kepada pemerintah dengan mengikuti instruksi yang ada demi kemaslahatan bersama.

Para ulama juga menekankan bahwa syariat telah menjelaskan dengan maqashid dan banyak ayat al-ahkam yang ada, tidaklah diturunkan suatu hukum kecuali ada ganjaran pahala di baliknya. Dan sungguh karunia Allah SWT sangatlah luas.

Darul Ifta Mesir juga menghimbau kepada seluruh umat muslim untuk memanfaatkan kesempatan untuk tinggal di rumah pada hari-hari ini dan menghidupkan rumah mereka dengan memperbanyak doa, melafalkan banyak dzikir serta memperbanyak di dalamnya ibadah-ibadah sunnah.

Syeikh Syauqi selaku Mufti Republik Mesir juga pernah menyinggung tentang keberkahan, Rahmat dan kemuliaan di dalam sebuah rumah dengan turut dihadiri oleh banyak malaikat dengan menghidupkan amalan-amalan sunnah di suatu rumah.

Setan juga akan melarikan diri dari Rumah tersebut. Dengan memperbanyak tilawah, berdzikr dan amalan-amalan sunnah lainnya, banyak juga hikmah tersembunyi dalam ibadah-ibadah tersebut. Seorang hamba juga akan semakin merasa dekat dengan Sang Khaliq, Allah SWT.

Syeikh Syauqi Alam juga menegaskan bahwa tidak sah secara hukum bagi seorang pria untuk menjalankan iktikaf di luar masjid (seperti rumah hunian) dan hal yang sama berlaku untuk wanita di zaman kita sekarang ini.

Beliau juga menjelaskan, apa yang dikatakan Hanafi tentang diperbolehkannya melaksanakan iktikaf di musholla suatu Rumah, itu berdasarkan adat dan kebiasaan berlaku. Tetapi tidak sah terhitung sebagai iktikaf karena adanya rujun yang sudah disebut di atas.

Sedangkan bagi orang-orang yang hanya lewat atau berdiam di masjid dengan tidak melebihi jumlah tuma’ninah dalam rakaat atau satu sujud, itu belum termasuk iktikaf.

Beliau juga memberi wejangan kepada seluruh umat Islam untuk tidak bersedih dan takut kehilangan pahala sunnah iktikaf selama masa wabah, karena pahala berlaku dan ditetapkan karena suatu alasan, dan beribadah di rumah di era pandemi pahala lebih sesuai dengan maqashid yang ada yaitu untuk menjaga diri.

Sedangkan untuk shalat lima waktu dan tarawih berjamaah seperti yang biasa ada di masjid-masjid, masih bisa tetap dilaksanakan seperti biasa selama tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, yaitu dengan mengenakan masker, menjaga jarak serta kebersihan tangan. Wallahu a’lam bis shawab