Rangkaian episode akhir ilmu kalam Asy'ari seakan ditutup oleh karya-karya Imam As-Sanusi. Tak ada karya ilmu kalam mazhab Asy'ari yang mendapat apresiasi seramai karya Imam As-Sanusi. Karyanya dibaca di timur dan barat islam.

Penulisan Imam As-Sanusi terkenal padat, argumentasinya kokoh, dan berupa intisari dari semua karya mutakallimin terdahulu. Menurut Prof Abdul Fattah Barakah, keberhasilan karya As-Sanusi dalam mewarnai ilmu kalam adalah karena orisinalitas ide dan keberhasilannya keluar dari gaya penulisan ulama di masanya yang bersifat repetisi, dan mendaur ulang logika dan pola ulama sebelumnya.

Pesantren-pesantren tradisional Indonesia hingga detik ini masih sangat akrab dengan Aqidah Sughra beserta syarahnya dan Umm Al-Barahin yang dibubuhi catatan pinggir (hasyiyah) Imam Ad-Dasuki. Sementara karya lainnya seperti Aqidah Kubra, Al-Manhaj As-Sadid, Al-Muqaddimat hampir tak tersentuh di Indonesia. Puncak ilmu kalam dalam kurikulum pesantren adalah Umm Al-Barahin.

Barangkali ulama Yaman yang masih berkomitmen untuk menjauhi karya-karya Imam As-Sanusi karena ada pesan langsung dari Imam Al-Haddad seperti terekam dalam Al-Manhaj As-Sawi milik Habib Zein bin Smith. Masih kentalnya aroma mantiq dalam karya-karya As Sanusi menjadi alasan utama ulama Yaman.

Benar, jika Aqidah Sughra dan Umm Al-Barahin dikuasai secara baik maka sudah cukup untuk memantapkan keyakinan santri. Sayangnya di beberapa pesantren tradisional kedua karya ini hanya dibaca dan dimaknai pegon saja. Beberapa ustadz yang mengajar mengeluhkan betapa sulitnya memahami (atau memahamkan muridnya) kedua kitab tersebut.

Kenyataan ini kembali pada penguasaan ilmu mantiq dan balaghah yang masih rendah. Selain itu, karena minimnya diskusi ilmu kalam; santri lebih suka bahtsul masa’il fiqhiyah. Alasannya karena ilmu kalam berkaitan dengan iman dan kufr “Jangan terlalu mendalami ilmu tauhid. Kuatir kafir,” Suatu ungkapan yang menyesatkan.

Petualangan Ilmiah Imam As-Sanusi

Menurut penuturan seorang kawan yang menyelesaikan magisternya di Univ. Al-Azhar dengan meneliti karya-karya Imam As-Sanusi,  Imam As-Sanusi termasuk ulama yang belum pernah mendongakkan kepalanya ke langit karena takut dan malu pada Allah.” Suatu ekspresi yang mengindikasikan keulamaan, kewara’an dan kekhusyukan beliau.

Di usianya yang masih 19 tahun, beliau sudah menulis Al-Muqarrab Al-Mustawfi Fi Syarhi Fara’id Al-Hufi, yang atas arahan gurunya batal dipublikasikan. “Saya berharap agar kamu bersabar untuk mempublikasikan karya ini hingga berumur 30-an,kata gurunya. Dengan mata hatinya, sang guru hendak menjaga potensi sifat ujub (bangga) yang akan timbul karena popularitas yang akan diterimanya. Ini mengindikasikan bahwa karya perdananya ini bukan karya sembarangan.

Mula-mula As-Sanusi belajar pada ayahnya, Yusuf As-Sanusi, semua ilmu dasar keislaman. Ayahnya adalah seorang pengajar di kuttab (madrasah untuk anak kecil) yang mengajar Al -Qur’an. Belajar qiraat (seni baca Al-Qur’an) pada Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Abu Al-Abbas Ahmad As-Syarif Al-Hasani. Mendapat ijazah qiraat sab’ah dari banyak ulama: Abu Al-Abbas Al-Yarnasi, Al-Laja’i, Nasr Az-Zawawi. Bisa dibilang bahwa As-Sanusi sudah melengkapi dirinya sesuai kualifikasi ulama di zamannya.

Sebagaimana ulama klasik, As-Sanusi tak malu untuk belajar pada saudara tirinya seibu, Abu Al-Husein Ali bin Muhammad At-Taluti Al-Anshari dalam kitab Ar-Risalah, dan membaca Al-Irsyad karya Imam Al-Haramain pada seorang imam yang tekenal wara nan shaleh Abu Al Qasim Al-Kanabisyi. Deretan nama-nama guru Imam As-Sanusi memang asing bagi kita, yang sering mendengar nama-nama ulama timur, utamanya Mesir.

Jalan Sufi As-Sanusi

Menurut editor Syarah Shugra, Anas Muhammad Adna As-Syarqawi, jalan kesufian As-Sanusi dilalui dengan bimbingan seorang wali agung Ibrahim bin Muhammad At-Tazi. Itu artinya dia seperguruan dengan Syeikh Ahmad Zarruq yang masyhur itu. Meski seperti diakui sendiri oleh Zarruq dalam autobiografinya, Imam Zarruq masih berguru pada Imam As-Sanusi.

As-Sanusi juga memiliki hubungan istimewa dengan seorang wali qutub masa itu: Al-Hasan bin Makhluf Al-Mazili yang terkenal dengan sebutan Abarkan. Setiap masuk ke dalam majelis, Abarkan selalu memandang As-Sanusi dengan senyum seraya berucap,Semoga Allah menjadikanmu bagian dari imam yang bertakwa.

As Sanusi, Ulama Anti Pemerintah

Saat Syeikh Abarkan wafat, dia diminta menggantikan posisinya di majelis. Tapi Imam As-Sanusi menolak dengan lembut. Meski dipaksa dia tetap bergeming dan memilih berkirim surat pada perwakilan pemerintah setempat berisi permintaan maafnya.

Seorang muridnya, Al-Malali, bercerita dalam bukunya Nailu Al-Ibtihaj: Suatu ketika saya mendampingi guru di gurun sahara. Tiba-tiba kami melihat karavan dengan pakaian serba mewah. As Sanusi bertanya,Siapa mereka?”

Kami menjawab,Para pembesar sultan.

Kami mendengar dia membaca taawwudz (perlindungan pada Allah) kemudian mencari jalan lain.

Dia juga menolak semua hadiah yang dikirim sultan atau bawahannya. Tapi tak pernah menolak hadiah dari sahabat dan santrinya karena menerima hadiah adalah warisan Rasulullah.

Namun saat ada rakyat kecil yang meminta tolong agar mendapat keringanan (syafaat) atau pembebasan hukuman dari penguasa, maka dia akan berkirim surat untuk hal itu. Di akhir surat dia akan mencatat,Ini musibah yang menimpa saya.” Seketika permohonan As-Sanusi akan didengar dan dikabulkan. Ini menjadi bukti kekuatan diplomasinya di hadapan penguasa.

As-Sanusi di Majelisnya

Al-Malali bercerita bahwa isi ceramah dan nasehat Imam As-Sanusi di majelisnya adalah pesan tentang khauf (takut pada Allah) dan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) serta mengingat akhirat.

Nasehatnya tak terbatas hanya di mulut tapi sudah menjadi amaliyah yang melekat pada dirinya. Dominasi sifat khauf terpancar dari dadanya yang bergemuruh ketakutan pada Allah.   

Abu Jakfar Al-Balwi Al-Wadi bercerita: Saya menghadiri dan berjumpa dengannya dalam majelisnya yang dipenuhi santri-santrinya sekaligus juga peserta awam. Saya menghadiri kuliahnya tentang tafsir Al-Fatihah dan awal surat Al-Baqarah dan kitab lainnya seperti Shahih Al-Bukhari.

Setiap selesai shalat Ashar, para santrinya membaca secara berjemaah kitab Aqidah Shugra yang dikarangnya. Dia terkenal murah senyum pada siapapun. Anak-anak kecil berebut mencium tangannya.

As-Sanusi yang Penyayang

As-Sanusi menentang budaya memukul anak kecil di pengajian Al-Qur’an (kuttab) kawasan Barat Islam.Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat yang tak akan diberikan kecuali kepada orang yang memiliki sifat itu, kata beliau.

Dia terkenal sangat pemurah; tak pernah menyimpan kelebihan rejeki. Dia berwasiat,Siapa yang ingin masuk surga maka hendaknya memperbanyak sedekah, utamanya saat paceklik.

Pakaiannya sama dengan apa yang dipakai masyarakat sekitarnya. As-Sanusi berpuasa seperti puasa Nabi Daud: sehari puasa, sehari berbuka. Namun dia tak pernah menanyakan menu buka puasanya; jika dihidangkan maka akan dimakan. Jika tidak maka tak akan meminta.

Keseharian Imam As-Sanusi

Al-Malali, muridnya, bercerita:

As-Sanusi amat membenci obrolan setelah Subuh dan Ashar. Setiap selesai Subuh, beliau membaca wiridnya kemudian mengajar hingga waktu sarapan. Lantas masuk rumah untuk shalat Dhuha dengan membaca sekitar 10 hizib Al-Qur’an. Kemudian menyibukkan diri dengan mengulangi pelajaran (mutala’ah) atau jika ada maka menghadiri undangan, selain undangan elemen pemerintah. Jika yang mengundang pejabat maka dia menolak hadir.

Selepas Dzuhur, As-Sanusi akan masuk ruang khalwatnya (menyepi) atau memilih duduk dengan santrinya hingga Ashar.

As-Sanusi akan kembali membuka majelisnya setiap selesai Isya’. Lantas pulang untuk tidur sebentar. Saat terbangun dia akan menyibukkan diri dengan menulis atau mengedit karya-karyanya, kemudian shalat hingga menjelang Subuh.

Karya-karya As-Sanusi

Selain trilogi akidah (Aqidah Sughra, Wustha, Kubra) dan Umm Al-Barahin yang terkenal itu, As-Sanusi juga menulis karya Fara’id (Al-Muqarrab Al-Mustawfi Fi Syarh Fara’id Al-Hufi), Tafsir Asma Al-Husna, komentar atas Shahih Al-Bukhari (tidak sampai selesai), ilmu Mantiq berupa komentar atas Isaghuji, kitab fikih Maliki berupa komentar atas kitab Al-Mudawwanah. Seluruh karyanya sekitar 40-an judul.

Imam As-Sanusi wafat di Tilmisan dalam keadaan memegang tasbih pada hari Ahad, 18 Jumada Al-Akhirah 895 H dalam usia 56 tahun. Sementara tahun kelahirannya masih diperselisihkan.