Artikel

Jaringan Intelektual dan Spiritual Islam di Jalur Rempah (Singkil Sebagai Tamsil)

12 Oct 2021 07:07 WIB
109
.
Jaringan Intelektual dan Spiritual Islam di Jalur Rempah (Singkil Sebagai Tamsil) Penulis dan Idris Masudi bersama Para pengurus PCNU Singkil.

Ketika berada di Singkil, Aceh pada Sabtu (9/10) kemarin, saya dan Bib Idris Masudi berjumpa dengan kawan-kawan pengurus PCNU Singkil.

Para pengurus PCNU Singkil kebanyakan adalah para ulama muda lulusan Pesantren Darul Hasanah Singkil yang didirikan oleh Abuya Teungku Syaikh Zamzam Syam (w. 2013).

Abuya Teungku Syaikh Zamzam Syam sendiri merupakan murid dari Abuya Syaikh Muhammad Muda Wali al-Khalidi (w. 1961) atau yang dikenal dengan Abuya Muda Wali, ulama kharismatik Aceh yang juga pendiri Pesantren Darus Salam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Syaikh Abuya Muda Wali juga merupakan mursyid Tarekat Naqsyandiah Khalidiah dan salah satu patok pancang ideolgi Islam tradisionalis Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja) di kawasan Aceh Raya.

Selain berguru kepada Abuya Muda Wali di Labuhan Haji (Aceh), Abuya Zamzam Syam Singkil juga berguru kepada Abuya Syaikh Zakariya Labai Sati (w. 1973) di Perguruan Tarbiyah Islamiyah (PTI) Malao, Padang Panjang (Sumatra Barat).

Abuya Zakariya Labai Sati sendiri adalah ulama besar Minangkabau yang mampu memadukan tradisi ilmu fikih, ushul fikih, tasawuf dan tarekat. Selain dikenal sebagai ulama yang sangat pakar dalam bidang ushul fikih, Abuya Zakaria Labai Sati juga adalah seorang mursyid tarekat Naqsyabandiah Khalidiah.

Ketika berkunjung ke Ranah Minang tahun lalu (2020), saya pun menjumpai para ulama Minang yang masih terhubung dengan jaringan intelektual Abuya Zakaria Labai Sati ini. Di antaranya adalah Abuya Zamzami Yunus (Pesantren Ashabul Yamin Canduang, Agam), juga murid-murid Abuya Ali Imran (Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pariaman). Para ulama yang disebutkan di atas adalah para paku bumi ideologi Islam tradisional Ahlus Sunnah wa Jama'ah (Aswaja) di Ranah Minang.

Selain itu, beberapa orang pengurus PCNU Singkil di Aceh juga adalah para alumni dari Pesantren al-Musthafawiyah di Mandailing Natal (Sumatra Utara). Pesantren ini didirikan oleh Abuya Syaikh Musthafa Husain al-Mandaili (w. 1955). Beliau adalah murid dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1917), Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920), dan Syaikh Mukhtar Atharid Bogor (w. 1930). Mereka adalah para ulama besar Makkah yang berasal dari Nusantara. Syaikh Musthafa Husain Mandailing juga adalah kawan seperguruan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari (w. 1947).

Mengamati jaringan keilmuan para pegurus PCNU Singkil telah membawa ingatan saya pada sebuah bentangan mozaik sejarah peradaban Islam di kawasan Nusantara yang demikian agung. Jaringan keilmuan tersebut telah mengkoneksikan antar wilayah di Nusantara dengan satu ikatan intelektual dan spiritual yang kokoh sejak beberapa abad silam lamanya.

Antara Aceh, Mandailing, Minangkabau, Sunda, Jawa dan wilayah Nusantara lainnya telah terhubung satu sama lainnya oleh simpul-simpul jaringan intelektual dan spiritual yang masih dapat kita rasakan berkah dan keberadaannya hingga hari ini.

Jauh ratusan tahun sebelumnya, koneksi dan jaringan tersebut juga telah terbentuk melalui beberapa tokoh besar ulama Nusantara lainnya. Misalnya, pada abad ke-17 M, terdapat Syaikh Abdul Rauf Singkil dari Aceh (w. 1693), sosok ulama besar yang memiliki sejumlah murid yang memainkan peran signifikan dalam sejarah perkembangan ajaran agama Islam di beberapa wilayah kepulauan Nusantara, semisal Syaikh Burhanuddin Ulakan (Minangkabau), Syaikh Abdul Malik Abdullah Pulau Manis (Malaya), Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (Jawa Barat), Syaikh Mu'tashim Abdurrahim Bagelen (Jawa Tengah) dan lain-lain.

Kota-kota yang disebutkan di atas, pada masa silam, selain eksis sebagai pusat perkembangan tradisi keilmuan Islam, adalah juga merupakan pusat perniagaan rempah yang dinamis.

Antar satu kota dengan lainnya, selain terhubung oleh jaringan keilmuan sebagaimana telah terdedah di atas, juga terkoneksi oleh jalur dan jaringan perniagaan rempah-rempah. Jalur perniagaan inilah yang kemudian hendak kita namakan "jalur rempah".

Sebagaimana kita ketahui, jalur rempah adalah jalur niaga laut internasional yang mengkoneksikan bangsa-bangsa besar di dunia pada zaman pertengahan. Jalur niaga ini membentang dari Cina, Kepulauan Nusantara, Anak Benua India, Timur Tengah hingga Eropa.

Dalam bentangan jalur niaga rempah ini, kawasan Kepuluan Nusantara adalah titik episentrumnya, di mana di wilayah tersebut berasal pelbagai macam komoditas rempah yang beredar di pasar dunia, seperti cengkih, pala, lada, kafur, kemenyan, gaharu dan lain sebagainya.

Sosok Syaikh Abdul Rauf dari Singkil ini dapat kita jadikan permisalan akan terintegrasinya jaringan intelektual dan spiritual Islam dengan jalur rempah. Sang tokoh berkarir sebagai mufti di Kesultanan Aceh pada zamannya. Aceh pada kurun masa itu (abad ke-17 M) adalah sebuah pusat kekuatan politik, episentrum tradisi keilmuan serta simpul jaringan intelektual dan spiritual Islam, sekaligus juga sentral niaga rempah-rempah internasional.

Wallahu A'lam
Singkil-Medan, 12 Oktober 2021
Alfaqir A. Ginanjar Sya'ban

A. Ginanjar Syaban
A. Ginanjar Syaban / 61 Artikel

Nama lengkapnya Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban, MA. Filolog Muda NU ini adalah pakar naskah Islam Nusantara. Sehari-hari menjadi dosen di UNU Jakarta, dan aktif menulis juga menerjemah buku-buku berbahasa Arab.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: