Artikel

Jika setan dibelenggu di bulan Ramadhan, mengapa masih ada maksiat?

18 Mar 2024 08:17 WIB
287
.
Jika setan dibelenggu di bulan Ramadhan, mengapa masih ada maksiat? Jika ada orang yang masih melakukan keburukan, sebetulnya setan sudah lepas tangan, ia tidak ikut campur.

Ada sebuah hadis yang sering disampaikan berulang-ulang saat memasuki bulan Ramadhan sebagai penjelasan keutamaan bulan ini. Yaitu hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang terbukanya pintu-pintu surga, tertutup rapatnya pintu neraka, dan terbelenggunya setan-setan.

إِذا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجنَّةِ، وغُلِّقَت أَبْوَابُ النَّارِ، وصُفِّدتِ الشياطِينُ.

Meskipun sering terulang, tapi ada pertanyaan yang sering diajukan oleh beberapa orang tentang makna terbelenggunya setan.

Jika ia benar terbelenggu lalu mengapa masih ada keburukan atau maksiat yang terjadi saat bulan mulia tersebut?

Saya pernah membaca jawaban atas pertanyaan di atas yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Umar Al-Qurtubi (w. 656 H) dalam kitab Al-Mufhim li ma Usykila min Talkhis Muslim.

Pada kitab tersebut, Imam Al-Qurtubi memberikan tiga jawaban:

أحدها: إنما يغتل عن الصائمين الصوم الذي حوفظ على شروطه وروعيت آدابه، أما من لم يحافظ عليه فلا يغل عن فاعله الشياطين

Pertama, setan hanya dibelenggu dari orang-orang yang menjaga adab-adab saat puasa, sedangkan orang yang tidak menjaga adab, maka setan pada dirinya tidak dibelenggu. Jawaban ini bagi saya kurang memuaskan.

الثاني: أنا لو سلمنا أنها صفدت عن كل صائم، لكن لا يلزم من تصفيد جميع الشياطين أن لا يقع شر، لأن لوقوع الشر أسبابا آخر غير الشياطين، وهي: النفوس الخبيثة والعادات الركيكة والشياطين الإنسية.

Kedua, jika kita yakini bahwa semua setan dibelenggu secara total saat Ramadhan, maka tidak mesti semua keburukan akan berhenti juga secara total. Mengapa? Karena keburukan tidak hanya terjadi karena setan, melainkan ada bagian besar yang diambil oleh hawa nafsu.

Maka jika ada orang yang masih melakukan keburukan, sebetulnya setan sudah lepas tangan, ia tidak ikut campur. Namun hawa nafsunya sendirilah yang membuatnya melakukan keburukan, lalu dengan wajah tanpa dosa ia menuduh setan telah menggodanya.

والثالث: أن يكون هذا الإخبار عن غالب الشياطين، والمردة منهم، وأما من ليس من المردة فقد لا يصفد، والمقصود: تقليل الشرور والفواحش وهذا موجود في شهر رمضان.

Jawaban ketiga, bahwa tidak semua setan yang dibelenggu, tapi hanya para dedengkotnya saja. Adapun selainnya, masih berkeliaran. Maka dengan makna ini, bisa diartikan makna terbelenggunya setan adalah menipisnya keburukan saat bulan tersebut, dan ini memang terjadi.

Memaknai terbelenggunya setan dengan menipisnya keburukan ini memiliki penguat dengan hadis-hadis yang lain, semisal sabda Rasulullah: “Puasa adalah perisai (junnah)”, atau sabda beliau yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: “Sesungguhnya setan mengalir pada tubuh anak adam melalui aliran darah, maka persempitlah jalan setan dengan rasa lapar.” Maka dengan puasa, jalan mereka menjadi sempit dan kesempatan melakukan keburukan semakin sedikit. Wallahu 'Alam.

 

Disarikan dari bagian Kitab Al-Mufhim li ma Usykila min Talkhis Muslim.

Fahrizal Fadil
Fahrizal Fadil / 75 Artikel

Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Aceh. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab. Aktif menulis di Pena Azhary. Suka kopi dan diskusi kitab-kitab turats.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: