Buku

Kematian yang menghidupkan di mata Ghassan Kanafani

19 Jun 2023 12:55 WIB
1007
.
Kematian yang menghidupkan di mata Ghassan Kanafani Kematian oleh Ghassan diperlakukan sebagai sesuatu yang amat serius.

Sebuah keberuntungan bisa memperoleh kesempatan menjadi pembaca pertama—lebih tepatnya kedua setelah penerjemah—naskah Matinya Ranjang Nomor 12. Namun tidak seberuntung itu ketika hendak mengulasnya. Muncul kekhawatiran tidak akan bisa menilai sekumpulan cerita tersebut secara jernih lantaran silau dengan ketersohoran penulisnya sebagai salah satu figur penting dalam sejarah pembebasan Palestina.

Pada saat yang sama, saya juga sulit membantah bahwa alasan mengulas itu semata karena sosok pengarangnya, alih-alih karangannya. Lagi pula, bagaimana mungkin Matinya Ranjang Nomor 12 disendirikan dari Ghassan Kanafani, seorang yang masih ‘hidup’ bahkan setelah 50 tahun kematiannya.

Ia sama hidupnya dengan cerita “Pertengahan Bulan Mei”, sebuah surat yang ditulis dan diperuntukkan kepada Ibrahim, temannya yang mati terbunuh seorang Yahudi. Ia juga sama hidupnya dengan cerita berjudul “Matinya Ranjang Nomor 12” (judul yang sama dipakai sebagai judul buku tersebut), sebuah surat yang seolah dikirim kepada kita pembacanya.

Kisah tragis Muhammad Ali Akbar yang menolak dipanggil dengan selain nama lengkapnya, tidak pernah jauh dari kotak kayu kecilnya, dan mati di atas ranjang nomor 12; ditulis sebagai peringatan kepada Ahmad supaya jangan sekali-kali bermain-main dengan kata ‘mati’. Dan kitalah Ahmad itu yang memang kerap sembarangan dengan kata ‘mati’.

Kematian oleh Ghassan diperlakukan sebagai sesuatu yang amat serius. Ia penting bukan cuma tentang bagaimana seseorang mati, melainkan juga apa arti kematiannya.

Dalam cerita “Pertengahan Bulan Mei”, misalnya, kematian kucing belang pencuri yang berhasil ‘Aku’ tembak begitu berarti bagi burung merpati yang ‘Kakekku’ pelihara dan ‘Kami’ rawat. Sebuah ejawantah dari pepatah lama dalam cerita yang sama: Betapa pentingnya manusia mati demi orang lain agar tetap hidup. Di kehidupan nyata, kematian (mereka) berarti bagi kehidupan (kami) telah menjadi inspirasi mengerikan bagi rakyat Palestina untuk mempertahankan kehidupan dari cengkeraman kolonial Israel.

Ada begitu banyak kematian di dalam cerita-cerita Ghassan yang anehnya justru menghidupkan jalannya suatu kisah.

Kematian ibu Hamid dalam cerita “Kue di Atas Trotoar”, misalnya, menjadi semacam penawar bagi emosionalitas ‘Aku’ (Pak Guru) yang sejak awal mencoba melibatkan diri ke dalam kehidupan Hamid yang sengsara. Apa jadinya jika kematian itu tidak terjadi atau Hamid benar-benar berbohong tentang kematian ibunya? Barangkali kisah akan terus berjalan, tetapi tidak akan hidup lantaran empati dan kepedulian telah dipermainkan.

Kita masih mungkin merasai pilu kala mengikuti bagaimana Hamid menghabiskan hari-hari dengan menjual kue hingga larut malam, merasa lapar lalu terpaksa memakan dua potong kue yang mestinya dijual, dan tak kuasa menahan kantuk hingga tanpa sengaja membiarkan para pembelinya pergi karena ia tertidur. Tetapi mau bagaimana pun, kenestapaan itu masih tertolong oleh kemurahan hati ‘Aku’ (Pak Guru) yang mempersilakan Hamid istirahat selagi jam pelajaran di sekolah masih berlangsung.

Itu tidak berlaku ketika kematian menjemput ibu Hamid. Tidak ada lagi yang bisa menolong Hamid, membatalkan kesedihannya sebagai anak kecil yang ditinggal mati ibunya. Tidak siapa pun, tak terkecuali ‘Aku’ (Pak Guru).

Jauh sebelum ibunya, Hamid sudah kehilangan saudara laki-lakinya yang mati dengan kepala terputus tepat di depan mata ayahnya dan jadi sebab mengapa ayahnya gila. Kematian ibunya pun membuat Hamid terpukul lebih keras. Kematian, sekali lagi, menghidupkan cerita sebagaimana kematian ibu Hamid menghidupkan empati ‘Aku’ (Pak Guru).

Kematian lain datang dari cerita “Laki-laki yang Belum Mati”. Laki-laki yang dimaksud pada judul tersebut bernama Tuan Ali dan memang ia di kisah itu tidak atau belum mati. Tetapi bahkan di dalam judul yang tak ‘mematikan’ itu, tetap saja ada kematian. Kali ini menimpa Hamdan, anak Nyonya Zainab sekaligus saudara Laila, yang terhempas peluru tembaknya sendiri. Juga dalam cerita “Mutiara di Jalan”, Saad Din mati pada tahun baru dan kematiannya diceritakan ulang oleh Hasan pada tahun baru berikutnya. Kematian juga dialamatkan kepada elang melalui empat dari enam kisah bohong yang berbeda dalam cerita “Enam Elang dan Seorang Anak”.

Ada kecenderungan Ghassan ‘membunuh’ tokoh di dalam ceritanya. Kematian mudah terjadi dan Ghassan tak gemetar menceritakannya. Ini juga bisa ditemukan dalam nuansa karya sastra dari pengarang Palestina lainnya. Mereka, melalui karyanya, seperti sedang berteriak, “Ada yang mati!”

Teriakan yang seharusnya menjeda hidup kita: bagaimana bisa kita melanjutkan hidup di saat ada manusia-manusia yang lain mati. Padahal, dalam cerita “Bahu Orang Lain”, tokoh Abu Salim merasa berdosa bahkan kepada ikan-ikan yang mungkin benar telah mati karena perbuatannya. Ia terkejut lemas kala mendapati informasi bahwa roti bisa membunuh ikan, dan terus-menerus bertanya, “Mengapa bisa?” kepada ‘Aku’ sebagai upaya menginsafi dosanya: melemparkan remahan roti sisa pengunjung restoran ke laut supaya dimakan ikan-ikan, selama 20 tahun.

Melalui tokoh Abu Salim, Ghassan seperti mengolok-olok kita yang selama ini melenggang dalam kehidupan pasca kolonial dan dengan tanpa moral mengkhianati realitas bahwa kolonialisme di atas dunia belum terhapuskan.

Cerita seperti “Bahu Orang Lain” ini, juga “Pertengahan Bulan Mei”, memperlihatkan bagaimana sastra bekerja pada dan kepada masyarakat yang hidup di tengah krisis politik. Tidak saja menagih empati dan solidaritas dengan menarasikan kedaruratan situasi, sastra Ghassan juga mempertanyakan, bahkan menghina, nurani kita yang telah hilang atau mati. Cara kerja semacam itu disokong dengan penulisan beberapa cerita dalam format surat. Dan selayaknya surat, ia berisi pesan yang dikehendaki sampai kepada yang tertuju.

Di samping itu semua, Matinya Ranjang Nomor 12 pada dasarnya merupakan karya debut Ghassan Kanafani.

Sebagai pemula, Ghassan belum menyadari risiko dari kecenderungannya ‘membunuh’ tokoh dalam cerita. Risiko yang menyebabkan kehidupan ceritanya bergantung pada kematian tokohnya.

Tanpa kematian, kisahnya menjadi tak bertenaga, apalagi bila bangunan cerita menyerupai refleksi diri yang minim penjelasan. Tokoh yang kabur, latar yang gelap, dan konflik yang remang menjadi ciri utama dari bangunan cerita termaksud, di antara contohnya adalah “Di Pemakamanku”, “Dahaga”, dan “Gila”.

Cerita “Di Pemakamanku”, misalnya, terbelenggu di dalam ruang gelap tanpa celah bagi pembaca untuk sekadar mengintip, alih-alih masuk dan terlibat secara imajinatif dan emosional ke dalam konflik. Satu-satunya hal yang bisa diiyakan dari cerita tersebut hanyalah luapan emosi—entah kekecewaan atau penyesalan—seseorang kepada kekasihnya. Sehingga itu bisa berarti lain: Ghassan bukan sedang berada di tahap pemula, melainkan pemalu sebagai pencerita. Ia gengsi untuk menyingkap tabir konflik kepada kita, orang lain.

Sifat cerita yang tertutup itu sangat mungkin berakar pada apa yang oleh Roberto Bolaño sebut sebagai ‘egoisme tertentu’ seorang penulis. Egoisme tertentu dari Ghassan Kanafani dalam hal ini, juga menguatkan indikasi saratnya muatan potret diri di dalam cerita-ceritanya.

Kita bisa menyelidikinya—paling mudah—dengan mencurigai narator cerita yang nyaris seluruhnya diperankan oleh tokoh ‘Aku’. Kepada siapa ‘Aku’ yang buram itu diasosiasikan, jika bukan kepada penulisnya? Sebab seremang apa pun sebuah cerita, tidak akan sampai mengubah watak pembaca untuk menarik kesimpulan, termasuk tentang siapa ‘Aku’ sebenarnya.

Bedanya, cara Ghassan menyisipkan potret diri ke dalam cerita-ceritanya masihlah malu-malu. Ia persis dengan Hamid saat ditanya Pak Guru soal kehidupan keluarganya dalam cerita “Kue di Atas Trotoar”. Ada hasrat untuk menjelaskan panjang lebar tetapi terbendung oleh rasa malu yang tak kalah besar.

Kemungkinannya, ia—Ghassan—terlalu mengkhawatirkan ceritanya akan sangat personal dan tak related dengan pembaca jika muatan potret diri ditampilkan secara terbuka. Tetapi sialnya, personalitas yang hendak dihindari itu justru tampil melalui ketertutupan ceritanya.


Judul              : Matinya Ranjang Nomor 12

Penulis           : Ghassan Kanafani

Penerjemah     : Muasomah

Penerbit         : Intensif Books

Cetakan          : I/Juni 2023

ISBN             : 978-623-09-3312-7

Halaman         : 161

Achmad Rofii
Achmad Rofii / 1 Artikel

Penulis lepas yang menghabiskan sebagian waktunya sebagai penyunting naskah di Intensif Books, sebuah penerbit kecil di Bangkalan, Madura.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: