Salah satu makna derivasi “al Qadar” adalah “sempit” (الضيق). Dikatakan sempit karena dua hal: pertama, menurut para ulama tafsir, karena bumi menjadi “sempit” dengan turunnya malaikat yang sangat banyak. Kedua, menurut Syekh Adham al-‘Ashimi, dikatakan sempit karena ilmu manusia terlalu “sempit” untuk memahami kapan waktu yang tepat untuk Lailatul Qadar.

Sempitnya pengetahuan manusia melakukan penentuan waktu, karena memang Lailatul Qadar disamarkan, sebagaimana Allah menyamarkan perkara-perkara lain.

Hal ini tidak menafikan kemungkinan terbukanya hijab oleh para wali Allah di malam tertentu. Kita tentu ingat kisah Imam an-Nawawi semasa kecil yang melihat cahaya yang memenuhi seisi ruangan. Dan ternyata malam itu adalah Lailatul Qadar. Kisah Imam Nawawi terjadi di malam 27 Ramadhan.

Jika kita buka biografi para ulama, ada yang terbuka hijab di malam 21, di malam 23, di malam 29, di belasan atau bahkan di awal-awal Ramadhan. Dari sini Syekh Ali al-Shabuni menyimpulkan, pengunggulan Lailatul Qadar di malam tertentu di bulan Ramadhan, salah satunya melalui mekanisme menghitung jumlah ulama yang “terbuka hijab” di malam tersebut, tanpa mengabaikan riwayat-riwayat yang menguatkan.

Dalam hal ini, ungkapan Syekh Muhammad Ibrahim al-Kattani menarik. Menurutnya, banyaknya (riwayat dan pengalaman ulama) justru menunjukkan sembunyinya (Lailatul Qadar). Semisal jika kamu mencari Zaid: ada yang mengatakan si Zaid di rumah Fulan, datang lagi orang yang mengatakan di rumah Fulan lainnya, ini menunjukkan bahwa: “Zaid ada namun sembunyi. Dan untuk mencarinya, kamu harus memasuki rumah yang ditunjuk tersebut satu persatu.” Ringkasnya, banyaknya riwayat mengenai Lailatul Qadar, supaya manusia memasuki malam yang ditunjuk oleh riwayat itu satu persatu, dan penunjukannya ada di hampir keseluruhan malam Ramadhan. Bukan malah mengkhususkan di malam tertentu saja.

Kita tentu tahu, Al-Imam asy-Syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan, rincian perbedaan ulama dalam menentuan waktu pasti Lailatul Qadar lebih dari 40 pendapat. Ini tentu sangat membingungkan.

Abu Hanifah berpendapat malam Lailatul Qadar berpindah di setiap tahun; mungkin jatuh di bulan Ramadhan, tahun depan mungkin juga di bulan lainnya. Ibnu Umar berpendapat di keseluruhan bulan Ramadhan. Di keseluruhan Ramadhan kemudian terpecah ke beberapa pendapat. Abu Razin al-Uqaili berpendapat di awal Ramadhan. Abu Sa’id al-Khudzri berpendapat di pertengahan dan sepuluh terakhir. Mayoritas berpendapat di sepuluh hari terakhir. Sepuluh hari terakhir ini terpecah ke berbagai macam pendapat, namun Ibnu Katsir—dalam tafsirnya—merajihkan pendapat di malam yang ganjil saja di sepuluh terakhir. Malam ganjil juga terpecah ke beberapa pendapat.

Ringkasnya, perbedaan itu berporos di dua kerangka besar: pertama, Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadhan. Kedua, Lailatul Qadar di luar Ramadhan. Untuk yang pertama (tiba di bulan Ramadhan) terbagi menjadi dua pendapat: yang tanggalnya tetap dan tanggalnya berubah. Perinciannya ada puluhan pendapat.

Perbedaan tersebut adalah perbedaan yang bertolak belakang dan mustahil untuk diharmoniskan. Yang mengharmoniskan hanya satu kesimpulan saja: bahwa Lailatul Qadar adalah ada. Jika dirinci, perbedaan pendapat di atas, hampir bertepatan di setiap hari di bulan Ramadhan. Artinya dari awal sampai akhir Ramadhan, nyaris selalu ada pendapat yang menguatkan.

Lantas kenapa disamarkan?

Ar-Razi mengatakan, Lailatul Qadar disamarkan sejatinya sebagai “rahmat.”

Menurut ar-Razi, bermaksiat di malam Lailatul Qadar dosanya juga setara dengan lipatan pahalanya. Jika kita tahu waktu Lailatul Qadar dan tetap bermaksiat, tentu lebih berlipat dosa dari jika kita tidak tahu sama sekali kapan waktu Lailatul Qadar.

Suatu kali Nabi Muhammad SAW memasuki masjid dan melihat seseorang tertidur. Kemudian beliau memerintahkan Ali untuk membangunkan, “Ali, bangunkan dia untuk berwudhu.” Ali melaksanakan perintah Nabi. Namun Ali mempertanyakan, bukankah Nabi yang lebih dulu mengetahui, mengapa tidak Nabi saja yang membangunkan saja. Bukankah nanti beliau yang mendapat pahala “lebih dahulu berbuat kebaikan.”

Kegundahan hati Ali segera dijawab oleh Nabi, “Karena jika ia menolak dibangunkan olehmu tidak menjadikan ia kafir. Aku melakukan ini untuk memperingan hukumannya jika ia menolak (dibangunkan olehku).”

Sebagaimana rahmat Nabi untuk orang yang tertidur tersebut, tidak adanya penentuan waktu untuk Lailatul Qadar juga adalah rahmat Allah untuk manusia. Seolah Allah mengatakan, “Jika kalian tahu kapan Lailatul Qadar, kalian beribadah di dalamnya, akan mendapat pahala beribadah seribu bulan. Namun jika kalian malah bermaksiat, maka dosanya juga setara seribu bulan. Mencegah (berlipatnya) dosa lebih utama dari pada menarik (berlipatnya) pahala.”

Siapa yang menjamin kita tetap beribadah jikapun tahu kapan waktu pasti Lailatul Qadar tiba?

Oleh karena itu Lailatul Qadar disembunyikan. Selain sebagai rahmat, samarnya penentuan malam agung itu juga supaya manusia tidak tebang pilih.

Imam as-Suyuthi mengatakan, Lailatul Qadar disamarkan agar kita tidak tebang pilih menghidupkan keseluruhan Ramadhan. Syekh Ali Jum’ah dalam ad-Din wa al-Hayat mengutarakan, Allah menyembunyikan delapan hal pada delapan hal:

1. Menyembunyikan Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir.

2. Menyembunyikan Shalat Wushto di keseluruhan shalat.

3. Menyembunyikan “waktu mustajab” di sepertiga malam terakhir.

4. Menyembunyikan wali Allah pada manusia keseluruhan.

5. Menyembunyikan Ismul A’dzam di nama-nama-Nya yang lain.

6.Menyembunyikan As-Sab’ al-Matsani dalam al-Qur’an.

7.Menyembunyikan dosa dosa besar di dosa keseluruhan.

8.Menyembunyikan “waktu mustajab” di hari Jum’at.

Menurut Syekh Ali Jumah, Lailatul Qadar ada di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, tanpa ada penentuan kapan waktunya. Baginya, tidak adanya penentuan pada delapan hal di atas, agar manusia tidak mengkhususkan di waktu tertentu namun mengabaikan waktu lainnya. Namun begitu, menurut beliau, menghidupkan keseluruhan Ramadhan sangatlah utama.

Menurut ar-Razi, ibadahnya manusia di keseluruhan bulan Ramadhan inilah yang nantinya dipergunakan Allah membanggakan mereka di depan malaikat yang dahulu “protes”: mengapa Allah memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi, padahal manusia membuat kerusakan.

Seolah Allah mengatakan, “Lihatlah manusia beribadah bahkan di malam yang “diduga” sebagai Lailatul Qadar. Bagaimana jika malam itu “diketahui” secara pasti? Ini adalah rahasia Firman Allah, “Aku mengetahui apa yang kalian tak ketahui.”

Maka itu, “sembunyinya” Lailatul Qadar, di satu sisi sebagai rahmat untuk manusia, dan di sisi lain, agar manusia menghidupkan keseluruhan malam bulan Ramadhan dengan beribadah.

Bahkanpun ketika mendapati tanda Lailatul Qadar, lebih baik untuk menyembunyikan dan tidak menceritakan ke orang lain. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri berpendapat demikian. Dianjurkan untuk tidak menceritakan ke orang orang jika kita melihat tanda-tanda Lailatul Qadar. Hal itu supaya tidak menjadikan orang lain iri dan malah membuat kita terperosok dalam maksiat. Kita belajar dari Nabi Yusuf: saat menceritakan mimpinya pada sang ayah, ia diberi nasihat,

“Hai Anakku, jangan ceritakan mimpimu ke saudaramu. Sehingga mereka bisa membuat tipu daya untuk (membinasakan) mu. Sesungguhnya Syaithan bagi manusia adalah musuh yang nyata.”

Semoga kita semua mendapat malam Lailatul Qadar dan terhindar dari tipu daya setan.