Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi rahimahullah sedang mengajar di ruang kuliah Fakultas Syariah di Makkah. Saat itu, duta besar menelepon ke kuliah bahwa pemerintah Mesir meminta beliau untuk pulang.

Imam Mutawalli asy-Sya'rawi kemudian diminta datang ke kedutaan Mesir di Jeddah untuk berbicara lewat telepon di sana.

Perdana menteri Mesir waktu itu, Mamduh Salim, yang bertugas untuk mengatur pembentukan kementerian berbicara lewat telepon bahwa Syekh asy-Sya'rawi dipilih untuk menjabat menteri wakaf (semacam menteri agama).

Syekh asy-Sya'rawi kemudian berusaha untuk menolak dengan alasan sudah 26 tahun hidup di luar negeri. Tapi PM Mamduh Salim tetap memaksa.

Kemudian Syekh asy-Sya'rawi mengatakan bahwa susah sekali beliau menjabat di tengah rancunya sistem pemerintahan. Ada kementerian Wakaf juga kementerian urusan al-Azhar yang saling tumpang tindih dll.

PM Mamduh Salim lalu mengatakan, “Pokoknya kamu pulang, catat usulan-usulanmu, nanti aku bantu memperjuangkan.

Akhirnya beliau pulang dengan tiket sendiri. Beliau menolak tiket dari duta besar.

Teman-teman beliau yang datang ke bandara terpecah. Ada yang mendukung beliau untuk jadi menteri, dan ada yang tidak.

Beliau pun mengatakan, “Aku akan istikharah.

Besoknya, Syeikh asy-Sya’rawi menemui Perdana Menteri Mamduh Salim dan berbicara panjang lebar.

Esoknya lagi, mobil PM Mamduh menjemput beliau untuk menemui Presiden Anwar Sadat demi mengambil sumpah sebagai menteri wakaf dan urusan al-Azhar.

Sumpah dibaca Syekh asy-Sya’rawi dari kertas. Seusai membacanya beliau pun mengatakan, "Insya Allah." Presiden Sadat tertawa, tapi kata itu tidak disiarkan di TV dan radio.

Beliau tidak langsung ke kantor. Sampai 10 hari demi mempelajari situasi, Syekh asy-Sya'rawi sampai didatangi menteri irigrasi ke rumah beliau sebab ketidakhadirannya ke kantor.

Di hari pertama datang, beliau membuat 3 keputusan besar. Di antaranya adalah memberhentikan kepala kantor Al-Majlis al-A’la li asy-Syu’un al-Islamiyah (Majelis Tertinggi untuk Urusan Islam).

Kepala kantor itu mulanya mendapat surat tawkil (semacam surat kuasa) dari menteri terdahulu sehingga punya kekuatan tinggi dan merajalela sampai berani menghina menteri selanjutnya dengan kata-kata kotor.

Kepala kantor itu begitu berkuasa di kementerian sampai membuat kerajaan sendiri ditambah kedekatannya dengan para pejabat atas.

Dan Syekh asy-Sya'rawi memberhentikannya.

Kepala kantor itu tidak tinggal diam. Syekh asy-Sya'rawi malah dipanggil parlemen (DPR) untuk ditanyai tentang keputusan pemberhentian itu. Hal yang sangat aneh.

Sekretaris Syekh asy-Sya'rawi pun kemudian memberikan berkas-berkas laporan kejahatan kepala kantor itu untuk dibawa Syekh asy-Sya'rawi ke DPR.

Tapi Syekh asy-Sya'rawi menolak.

Ketika ditanyai di DPR, Syekh asy-Sya’rawi menjawab, “Aku adalah menteri yang punya kekuasaan memberhentikan pegawaiku yang menyimpang. Sekarang kalian sendiri pernah membuat badan untuk menelitinya dan laporan kejahatannya ada di tangan kalian. Apa yang telah kalian lakukan setelah laporan itu ada di tangan kalian?!

Masalah kepala kantor itu masuk ke pengadilan.

Di tengah suasana itu, Presiden Anwar Sadat mengeluarkan keputusan agar kepala kantor itu kembali ke jabatannya. Hal tersebut menunjukkan kehebatan kepala kantor itu bermain sehingga orang-orang dekat Presiden menggambarkan keistimewaannya.

Apa komentar Syekh asy-Sya'rawi saat itu ketika mengetahui keputusan aneh dari Presiden?

Aku sebagai menteri berhak mengeluarkan pegawaiku yang diketahui menyimpang. Dan kepala negara punya wewenang yang diketahuinya dan tidak aku ketahui. Boleh jadi dia punya sebab tertentu sehingga mengeluarkan keputusannya. Aku tidak punya hak menanyainya, karena dia kepala negara, dia mengetahui hal yang tidak aku ketahui, dia lebih tahu maslahat negara.” (hal 201)

Walhasil, di hari keputusan pengadilan, kepala kantor yang bermasalah datang dengan sejumlah hewan untuk disembelih setelah keputusan keluar karena menyangka akan menang.

Tapi keputusan pengadilan secara ijmak (mufakat) mengatakan bahwa orang itu memang layak diberhentikan, bahkan tidak berhak memegang jabatan apapun dalam pemerintahan karena tidak punya sifat amanah.

Pengadilan telah berpihak pada Syekh asy-Sya'rawi dan Presiden Anwar Sadat pun menerima keputusan itu. Karena Presiden seorang yang cerdas, tentu tidak mau dianggap sebagai pendukung seorang yang menyimpang!

Kisah ini diambil dari buku asy-Sya’rawi alladzi La Na’rifuhu (PDF).