Meski Werner Jaeger bersepakat dengan pendapat mayoritas ilmuan macam E. Kapp dan Von der Muhll bahwa Nicomachea dan Eudemus merupakan karya asli Aristoteles. Akan tetapi ia tidak sepakat bahwa naskah Nicomachea itu merupakan naskah yang diberikan Aristoteles kepada anaknya secara personal, yakni Nicomachea atau Nicomakhus itu.

Demikian juga dengan Eudemus. Sebab, menurut Jaeger, pada saat itu di Yunani tidak lumrah seorang filsuf memberikan naskah khusus hanya untuk seseorang secara personal dan privasi. Apalagi, kata Jaeger, di halaman pertama di dalam naskah itu tidak tertulis “aku berikan” atau “aku persembahkan” naskah ini untuk Nicomachea atau Eudemus.

Sehingga, Jaeger menyatakan bahwa naskah ini merupakan catatan atas diskusi, ceramah dan khutbah-khutbah filsafat Aristoteles khusus tentang etika yang disampaikan kepada murid-muridnya dan masyarakat para pecinta kebijaksanaan.

Catatan ini disimpan oleh anaknya Nicomachea dan muridnya Eudemus, dan belum sempat dipublikasikan semasa Aristoteles hidup. Setelah Aristoteles wafat, Nicomachea dan Eudemus mempublikasikan catatan tersebut.

Boleh dibilang, bahwa sejatinya pandangan Aristoteles tentang etika telah disampaikan secara oral kepada publik Yunani. Sedangkan catatan atas apa yang disampaikan ada pada Nicomaceha dan Eudemus.

Karena filsuf milik publik, bukan milik keluarganya saja. Sebab itu, filsuf menyampaikan—bahasa teologinya tabligh—pandangan-pandangannya untuk memberi petunjuk jalan atau kompas kehidupan bagi masyarakatnya ke arah yang lebih baik dan bijak.

Komentator Nicomachea dari Yunani

Ciri sebuah naskah dianggap penting dan signifikan adalah banyaknya orang—baik semasa atau generasi setelahnya penulis—yang membicarakan dan mendiskusikannya, lalu sebagian tergerak untuk menulis penjelasan lebih lanjut yang disebut dalam dunia Islam dengan syarah, dan sebagian tergerak untuk meringkasnya agar mudah dipahami.

Hal ini terjadi pada naskah Nichomachea. Abdurrahman Badawi melakukan penelitian dan penelusuran intelektualnya, menemukan bahwa sekurang-kurangnya ada tujuh naskah dari khazanah Yunani kuno yang sebagian penjelas atas Nicomachea dan sebagian lain ringkasan atas Nicomachea.

Pertama, ringkasan Nicomachea yang ditulis oleh Andronicus Rhodius, yang oleh Abdurrahman Badawi ditemukan sebanyak tujuh manuscript.

Kedua, penjelas dan komentar atas Nicomachea yang ditulis Aspasius yang ditemukan sebanyak dua puluh dua manuskrip yang dalam bentuk sudah tidak sempurna lagi. Kemudian pada tahun 1889 diterbitkan dan disunting oleh G. Heylbut di Berlin dengan tajuk “Aspasius: in Ethica Nicomachea Quae Supersunt Comentaria” yang tulisan ini digabungkan ke dalam kumpulan komentar atas Aristoteles Sang Filsuf Yunani, dan diterbitkan oleh Akademi Berlin.

Ketiga, ringkasan Nicomachea yang ditulis oleh Heliodorus, yang juga diterbitkan pada 1889 oleh G. Heylbut dengan tajuk “Heliodorus: Eticha Nicomachea Paraphrasis”.

Keempat, penjelasan Nicomachea yang ditulis Emmanuelis Thesauri bertajuk “In Arist Philosophicam Eticam Exegesis yang manusrikpnya tersimpan di Perpustakaan Methochtion Sancti Spulcri, Atena.

Kelima, komentar atas Nicomachea yang ditulis Eustratius Nicaenus Episcopus, bertajuk “In Ethicam Nichom Comment”.

Keenam, ringkasan atas Nicomachea yang ditulis Olympiodorus Alexandrinus.

Ketujuh, ringkasan atas Nicomachea yang ditulis Sophonias Monachus.

Ternyata tradisi penulisan Yunani kuno sama seperti penulisan para ulama Islam klasik, yaitu syarah, mukhtashar, dan yang lainnya. Atau sebaliknya model penulisan khazanah klasik Islam sama seperti khazanah klasik Yunani.

Gaya penulisan khazanah klasik Islam pernah penulis bahas tahun 2010 bersama rekan-rekan penulis sehingga menghasilkan karya Ensiklopedia Kitab Kuning, 1000 halaman.

Lalu bagaimana posisi Nicomachea di kalangan para filsuf Islam klasik? Siapa saja yang mengutip, menjelaskan, mendiskusikan dan terispirasi Nicomachea? Bagaimana Nicomachea dalam narasi khazanah Islam klasik? Pertanyaan-pertanyaa ini akan diulas jawabannya pada kajian berikutnya.