Artikel

Makna Lain Idul Fitri | Oleh: KH. Abdul Ghofur Maimoen

26 May 2020 12:57 WIB
2813
.
Makna Lain Idul Fitri | Oleh: KH. Abdul Ghofur Maimoen

Idul Fitri, seperti halnya Idul Adha, adalah saatnya umat Islam berbahagia. Di hari suci yang merupakan kemenangan umat Islam ini, tidak boleh ada umat Islam yang kekurangan. Semua harus tercukupi sandang dan pangannya. Makan yang cukup lezat dan pakaian yang bagus.

Cukupi mereka (orang-orang miskin) dari meminta-minta di hari ini (idul fitri),” kata Baginda Rasul SAW. dalam sebuah riwayat Ibn Umar melalui jalur Abi Ma’syar yang banyak didhaifkan oleh para ulama kritikus sanad.(1)

Pesan agar semua umat Islam berbahagia di hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha tampak jelas dalam cerita Ibunda Aisyah ra. berikut ini yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhārī:

"Rasulullah SAW. masuk rumah saat saya bersama dua jariyah (wanita remaja atau di usia pubertas) yang sedang menyanyikan lagu-lagu 'Buats'.(2) Nabi lalu tiduran miring (berbaring pada lambungnya) di atas pembaringan dan memalingkan mukanya. Masuklah Abu Bakar, lalu menghardikku:

“Seruling setan di sisi Nabi SAW.?” kata beliau.

Rasulullah SAW. menghadap kepadanya lalu berkata:

Biarkan keduanya (bernyanyi).”(3)

Saat ia (Abu Bakar) lengah (karena sedang berbicara dengan Baginda Nabi), saya memberi isyarat kepada mereka berdua, lalu keduanya keluar.(4)

Hari itu adalah hari lebaran. Orang-orang Sudan bermain-main dengan perisai dan tombak. (Saya ragu) apakah saya yang meminta, atau Baginda Nabi yang menawari: “Kamu ingin melihatnya?” lalu saya mengiyakannya. Nabi Muhammad SAW. menempatkan diriku berdiri di belakangnya. Pipiku menempel di pipinya.

Teruskan bermain wahai Bani Arfida!” kata Baginda Rasul SAW.

Saat saya bosan, (baru) Rasulullah berkata:

Cukup (Wahai Aisyah?)”

“Iya” kataku

Kamu bisa pergi ..” kata beliau.

***

Namun begitu, tidak selamanya kita bisa menjalani Idul Fitri dengan kebahagiaan. Idul Fitri kali ini bebarengan dengan ujian Tuhan, pandemi Covid-19. Banyak yang tak bahagia, atau mungkin kurang bahagia. Suasana meriah yang biasa kita jalani setiap Idul Fitri tak lagi tampak. Beberapa riwayat berikut barangkali bisa menghibur diri kita, sekaligus bisa memberi makna lain Idul Fitri:

Sayyidina Ali RA. makan roti yang keras di Hari Raya, lalu disampaikan kepadanya:

“Wahai Amirul Mukminin, di Hari Raya makan roti keras?”

Sayyidina Ali berkata:

“Hari ini adalah Hari Raya bagi mereka yang diterima puasa dan ibadahnya; dan Hari Raya bagi dia yang diampuni dosanya, mendapatkan pujian terimakasih atas upaya-upayanya, dan diterima amal baiknya. Hari ini bagi kami adalah Hari Raya, besok juga Hari Raya. Hari apapun kita tidak bermaksiat kepada Allah adalah Hari Raya bagi kami.” (Ibrahim Muhammad al-Jamal, dalam Al-Khuthbah Al-‘Ashriyyah). Wallāhu A’lam.

Hasan Al-Bashrī berkata, “Hari apapun di mana tidak bermaksiat kepada Allah adalah Hari Raya; Hari apapun seorang mukmin mengisinya dengan taat, dzikir, dan syukur kepada Tuannya SWT. adalah Hari Raya baginya.” (Ibn Rajab al-Ḥambali, dalam Lathāif al-Ma’ārif. Al-Maktabah Asy-Syāmilah)

Pada suatu hari lebaran, putri-putri Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya:

“Besok adalah Hari Raya, dan kami tak memiliki baju baru.”

“Wahai putri-putriku,” kata Umar bin Abdul Aziz, “Hari Raya bukan bagi mereka yang memakai baju baru, Hari Raya adalah bagi mereka yang takut hari ancaman. (Dr. Tahsīn Ali Syirwānī dalam Alf Qishshah wa Qishshah). Wallāhu A’lam.

Anas bin Mālik berkata, “Orang Mukmin memiliki lima hari raya, pertama: hari apapun yang ia lewati tanpa ada catatan dosa adalah Hari Raya; kedua: hari di mana ia keluar dari dunia ini dengan iman, syahādah, dan dijaga dari tipu daya setan adalah Hari Raya; ketiga: hari di mana ia dapat melewati titian (Ash-shirāth), aman dari hiruk-pikuk hari kiamat, dan selamat dari musuh-musuh dan Malaikat Zabbaniyah adalah Hari Raya; keempat: hari di mana dia masuk surga dan selamat dari neraka jahim adalah Hari Raya; kelima: hari di mana dia melihat Tuhannya adalah Hari Raya. (Utsman al-Khuwairī dalam Durrah An-Nāshiḥīn).

___________________________________________
(1) HR. Al-Baihaqī dalam As-Sunan al-Kurbā 4/292; Ad-Dāruquthnī dalam As-Sunan 3/89. Lihat juga: Ibn al-Mulaqqin dalam Al-Badr al-Munīr 5/620-621.
(2) Buats adalah nama satu daerah (kira-kira dua malam perjalanan dari Madinah) di mana terjadi peperangan antara dua kabilah besar di Madinah, Aus dan Khazraj. Perang yang banyak memakan korban ini terjadi tiga tahun sebelum hijrah Nabi.
(3) Dalam Shaḥīḥ Ibn Ḥibbān 13/180 ada penambahan: “Sesungguhnya ini adalah hari-hari raya dan itu adalah hari-hari Mina.”
(4) Meski diizinkan oleh Baginda Rasul SAW., Ibunda Aisyah ingin menghormati ayahandanya, Sayyidina Abu Bakr. Maka, disuruhnya dua jariyah itu keluar.

Abdul Ghofur Maimoen
Abdul Ghofur Maimoen / 20 Artikel

Nama lengkapnya Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, Lc., MA. Setelah menyelesaikan studi doktoral di Universitas Al-Azhar Mesir, kini beliau menjadi pengasuh PP. Al-Anwar 3 Sarang-Rembang, Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Anwar, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: