Artikel

Manuskrip Ulama Nusantara berisi sanad wirid dan Tarekat Rifa’iyyah tahun 1080 Hijri (1669 Masehi)

06 Jun 2024 01:49 WIB
160
.
Manuskrip Ulama Nusantara berisi sanad wirid dan Tarekat Rifa’iyyah tahun 1080 Hijri (1669 Masehi) Sejarah perkembangan tarekat Rifa’iyyah terjadi dalam beberapa fase dan babakan

Berikut ini adalah halaman manuskrip yang menghimpun silsilah tarekat Rifa’iyyah yang ditulis dan diriwayatkan oleh Syaikh Yûsuf b. ‘Abdullâh al-Tâj al-Khalwatî al-Maqâsarî al-Jâwî, atau yang dikenal dengan nama Syaikh Yusuf Makassar (w. 1699), seorang ulama dunia Islam yang hidup di abad ke-17 M asal Makassar (Sulawesi), yang lama bermukim di Hijaz (Makkah dan Madinah), menjadi mufti di Kesultanan Banten (Jawa), lalu diasingkan ke Saylân (Srilanka), dan wafat di Cape Town (Afrika Selatan).

Kutipan teks pada halaman manuskrip tersebut sebagai berikut:

شجرة خلافة السادة الرفاعية قدّس الله أسرارهم

أخذ العبد الفقير أيضا عن شيخه نور الدين؛ عن شيخه السيد عمر بن عبد الله باشيبان؛ عن شيخه السيد حسنجي السورتي؛ عن شيخه محمد بن فضل الله البرهانبوري؛ عن شيخه الـملا عبد الكريم؛ عن والده شاه شهباز؛ عن شيخه سراج الدين؛ عن شيخه علي الخطيب الأحمدآبادي؛ عن شيخه الإمام السيد مخدوم جهانيان جلال الدين البخاري؛ عن شيخه عبد الله بن المطري؛ عن شيخه ووالده جمال الدين المطري؛ عن الشيخ عزّ الدين الفاروثي الواسطي؛ عن الشيخ محمد محي الدين [بن؟] إبراهيم؛ عن الشيخ أبي حفص عمر الفاروثي؛ عن الشيخ الإمام مقتدى الإمام قطب زمانه وغوث أوانه السيد الشريف أحمد الكبير أبي الحسن الرفاعي

<

Telah mengambil seorang hamba yang fakir [Syaikh Yusuf Makassar (w. 1699), akan silsilah tarekat Rifa’iyyah ini] dari gurunya yang bernama Nûruddîn [al-Rânîrî al-Gujarâtî] (w. 1658); dari Sayyid ‘Umar b. ‘Abdullâh Bâ-Syaibân (w. 1656); dari Sayyid Hasanjî [b. Fathullâh] al-Sûratî (w. 1652); dari Syaikh Muhammad b. Fadhlullâh al-Burhânpûrî (w. 1620); dari Syaikh ‘Abd al-Karîm; dari ayahnya Syâh Syahbâz (w.?); dari Syaikh Sirâj al-Dîn (w.?); dari Syaikh ‘Alî al-Khatîb al-Ahmadâbâdî (w. 1487); dari Syaikh al-Imâm Sayyid Makhdûm Jihâniyân Jalâl al-Dîn al-Bukhârî (w. 1453); dari Syaikh ‘Abdullâh b. al-Mithrî (w.?); dari ayahnya Jamâl al-Dîn al-Mithrî (w. 1340); dari Syaikh ‘Izz al-Dîn al-Fârûtsî al-Wâsithî (w. 1295); dari Syaikh Muhammad Muhyiddîn [b?] Ibrâhîm (w.?); dari Syaikh Abû Hafsh ‘Umar al-Fârûtsî (w.?); dari Syaikh Ahmad al-Rifâ’î (W. 1182)>>.

* * *

Teks pohon silsilah tarekat Rifa’iyyah yang ditulis dan diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf Makassar di atas termuat bersama dalam satu jilid manuskrip kitab “Lathâif al-A’lâm fî Isyârât Ahl al-Ilhâm” karya seorang ulama sufi besar asal Persia abad ke-14 M, yaitu Syaikh ‘Abd al-Razzâq al-Qâsyânî (w. 1335), yang disalin oleh Syaikh Yusuf Makassar.

Saat ini, manuskrip tersebut tersimpan sebagai koleksi Perpustakaan Majlis-e Syura-ye Milli, Tehran (Iran), dengan nomor kode (?). Jumlah keseluruhan halaman manuskrip adalah 184 recto verso (368 jumlah halaman biasa). Bahasa yang digunakan pada teks manuskrip adalah bahasa Arab.

Identitas Syaikh Yusuf Makassar tercatat dengan jelas pada beberapa bagian halaman manuskrip tersebut, lengkap dengan tempat penulisan dan penyalinan serta titimangsanya, yaitu hari Rabu, akhir bulan Rabi’ul Awwal tahun 1080 Hijri (bertepatan bulan Juli 1669 Masehi), di kota Madinah al-Munawwarah.

* * *

Yang menarik, mata rantai silsilah tarekat Rifa’iyyah yang ditulis dan diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf Makassar di atas menunjukkan watak kosmopolitanismenya, karena melibatkan para ulama dari berbagai lintas wilayah, seperti Gujarat (India), Yaman, Bukhara (Transoxiana), Mesir, Madinah (Hijaz), Baghdad (Irak), dan lain-lain.

Dalam teks silsilah tersebut, Syaikh Yusuf Makassar tercatat mengambil jalur periwayatan tarekat Rifa’iyyah dari gurunya yang bernama Syaikh Nuruddin al-Raniri (Nûr al-Dîn Muhammad b. ‘Alî b. Hasanjî al-Jailânî al-Rânîrî al-Sûratî al-Gujarâtî al-Hindî, w. 1658), seorang ulama asal Randir (Gujarat, India) yang pernah bermukim di wilayah Kesultanan Aceh di Nusantara dan mengarang sejumlah karya berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam di kawasan Asia Tenggara.

Tampaknya, Syaikh Yusuf Makassar telah menerima kredensi (ijâzah) tarekat Rifa’iyyah dari al-Raniri saat keduanya berjumpa di India di tahun 1650-an, sebelum Syaikh Yusuf Makassar menginjakkan kakinya di Hijaz. Syaikh Yusuf kemudian menuliskan ulang pohon silsilah tarekat tersebut saat ia bermukim di Madinah pada tahun 1080 Hijri (1669 Masehi), di masa pembelajarannya kepada Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî (w. 1690).

Dari al-Raniri, jalur silsilah tersebut tersambung kepada gurunya yang bernama Sayyid ‘Umar b. ‘Abdullâh (b. ‘Abdurrahmân b. ‘Umar b. Muhammad) Bâ-Syaibân al-Hadhramî al-Hindî (w. 1656), seorang ulama dari klan Bâ-‘Alawî asal Hadramaut (Yaman) yang lahir dan wafat di India. Bâ-Syaibân sendiri mengambil periwayatan dari Sayyid Hasanjî b. Fathullâh al-Sûratî (w. 1652), seorang ulama yang bermukim di kota Surat, India.

Dari Sayyid Hasanjî b. Fathullâh al-Sûratî, silsilah tarekat Rifa’iyyah tersebut tersambung dengan Syaikh Muhammad b. Fadhlullâh al-Burhânpûrî (w. 1620), sufi besar dari Burhanpur (India) yang menulis karya monumental dalam bidang ilmu tasawuf irfani, berjudul “al-Tuhfah al-Mursalah ilâ Rûh al-Nabî”, yang pada akhir abad ke-16 dan beberapa abad berikutnya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dinamika pemikiran Islam di Nusantara, utamanya perihal doktrin “martabat tujuh”.

Tokoh ulama dunia Islam lainnya yang terlibat dalam mata rantai transmisi tarekat Rifa’iyyah sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf Makassar adalah Syaikh Abû ‘Abdillâh Jamâl al-Dîn Muhammad al-Mithrî (w. 1340), seorang ulama Mesir yang berkarir di Madinah dan hidup pada peralihan abad ke-13 dan 14 M. al-Mithrî sendiri merupakan murid dari Syaikh ‘Izz al-Dîn Ahmad b. ‘Abdullâh al-Fârûtsî al-Wâsithî (w. 1295), seorang ulama asal Irak ahli tafsir al-Qur’an, fikih madzhab Syafi’i, sekaligus salah satu pilar utama ulama tarekat Rifa’iyyah yang hidup di abad ke-13 M, penulis kitab “Irsyâd al-Muslimîn li Tharîqah Sayyid al-Muttaqîn”.

Silsilah tersebut kemudian kemudian bersambung kepada Syaikh Ahmad al-Rifâ’î al-Baghdâdî al-Kabîr (w. 1182), sang inisiator dan peletak dasar ordo tarekat Rifa’iyyah. Kepada sosok Syaikh al-Rifâ’i jugalah nama ordo tarekat Rifa’iyyah dinisbatkan. Dari sosok Syaikh Ahmad al-Rifâ’î, silsilah tersebut masih terus bersambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Dalam tradisi tarekat Rifa’iyyah, terdapat banyak kitab yang memuat ajaran, tuntunan, etika dan manual yang ditulis oleh para ulama Rifa’iyyah setiap abadnya. Di antara kitab yang populer adalah “al-Shabâh al-Munîr fî Wird Tharîqah Syaikh al-Awliyâ Maulânâ wa Sayyidinâ al-Sayyid al-Syaikh Ahmad al-Rifâ'î al-Husainî al-Kabîr”.

* * *

Selain menulis dan meriwayatkan pohon silsilah tarekat Rifa’iyyah, Syaikh Yusuf Makassar dalam manuskrip di atas juga menulis dan meriwayatkan pohon silsilah berbagai macam tarekat lainnya yang ia terima, seperti tarekat al-Hâtimiyyah (tarekat Ibn al-‘Arabî), al-Suhrawardiyyah (tarekat al-Suhrawardî al-Maqtûl), al-Khidliriyyah, al-Qâdiriyyah, al-Naqsyabandiyyah, al-Khalwatiyyah, dan lain sebagainya, yang juga ditulis dan diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf Makassar.

Dalam tarekat al-Hâtimiyyah, Syaikh Yusuf Makassar meriwayatkannya dari jalur gurunya di Madinah, bernama Syaikh Burhân al-Dîn Ibrâhîm b. Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690), dari Syaikh Shafiyuddîn Ahmad al-Qusyâsyî al-Madanî (w. 1660), dan seterusnya.

Dalam tarekat al-Khidliriyyah, Syaikh Yusuf Makassar meriwayatkannya dari tiga jalur, yaitu (1) Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî [w. 1690] penulis kitab “Ithâf al-Dzakî fî Syarh al-Tuhfah al-Mursalah”; (2) Syaikh Hasan b. ‘Alî al-‘Ujaimî [w. 1701] penulis kitab “Khabâyâ al-Zawâyâ”; dan (3) Syaikh Jamâluddîn Muhammad b. Barakât al-Syâmî [w.?].

Sementara untuk tarekat al-Syâdziliyyah, Syaikh Yusuf Makassar meriwayatkannya dari jalur gurunya di Randir, Gujarat (India), bernama Syaikh Nûruddîn al-Rânîrî (w. 1658), dari Sayyid ‘Umar b. ‘Abdullâh Bâ-Syaibân (w. 1656), dari Sayyid Muhammad b. ‘Abdullâh b. Syaikh al-‘Aidrûs (w.?), dan seterusnya.

Pohon silsilah tarekat Naqsyabandiah yang ditulis dan diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf Makassar berasal dari gurunya asal Ahdal (Yaman), bernama Syaikh Jamâluddîn Muhammad b. ‘Abd al-Bâqî b. Zain al-Mizjâjî (w. 1664), dari Syaikh Tâjuddîn b. Zakariyyâ b. Sulthân al-‘Utsmânî al-Hindî (w. 1640), dari Syaikh Muhammad al-‘Ajamî, dan seterusnya.

Hal yang penting dicatat adalah, meski Syaikh Yusuf Makassar memiliki banyak silsilah tarekat yang ia riwayatkan, namun tampaknya tarekat al-Khalwatiyyah adalah yang kemudian menjadi ordo tarekat utama pilihannya. Silsilah pohon tarekat al-Khalwatiyyah Syaikh Yusuf Makassar bersandar kepada gurunya asal Damaskus (Suriah), bernama Syaikh Abû al-Barakât Ayyûb b. Ahmad al-Dimasyqî (w. 1661), dari Syaikh Syihâbuddîn Ahmad b. ‘Alî al-Harîrî al-‘Usâlî al-Khalwatî (w. 1638), dari Syaikh Syâhwalî al-‘Antâbî (w.?), dan seterusnya.

* * *

Di Nusantara, sejarah perkembangan tarekat Rifa’iyyah terjadi dalam beberapa fase dan babakan. Sepanjang yang saya ketahui, manuskrip silsilah tarekat Rifa’iyyah yang ditulis dan diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf Makassar (pertengahan abad ke-17 M) ini adalah yang paling tua yang ditemukan.

Pada pertengahan abad ke-18 M, tarekat Rifa’iyyah tercatat dikembangkan di wilayah Kesultanan Banten oleh Sultan Abu al-Nashr Muhammad Arif Zainul Asyiqin (memerintah sepanjang tahun 1753–1773) dan Syaikh Abdullah b. Abdul Qahhar Banten (aktif sepanjang tahun 1740 hingga 1780-an). Sanad tarekat Rifa’iyyah keduanya bersumber dari Syaikh Mûsâ b. ‘Abdullâh al-Rifâ’î al-Hamawî (w.?). Pada kurun abad ke-19, terdapat Kiyai Ahmad Ripangi Kalisalak (w. 1871) dari Jawa Tengah, yang juga mengembangkan tarekat Rifa’iyyah. Tarekat Rifa’iyyah yang dikembangkan oleh Kiyai Kalisalak inilah yang pada masa sekarang ini masih terus berkembang di beberapa wilayah di Jawa.

Apakah terdapat juga sumber-sumber sejarah tertulis seperti manuskrip dan arsip dari ulama Nusantara pada abad-abad sebelum masa Syaikh Yusuf Makassar, yang juga mengamalkan dan menyebarkan tarekat Rifa’iyyah?

Wallahu A’lam

Buitenzorg, Dzulqaedah 1445 H/ Juni 2024 M

Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

A. Ginanjar Syaban
A. Ginanjar Syaban / 77 Artikel

Nama lengkapnya Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban, MA. Filolog Muda NU ini adalah pakar naskah Islam Nusantara. Sehari-hari menjadi dosen di UNU Jakarta, dan aktif menulis juga menerjemah buku-buku berbahasa Arab.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: