Ketika orang hendak masuk surga, dia bertanya, “Ya Allah, di mana kedua orang tuaku? Di mana istri dan anak-anakku?”

Kemudian dijawab, “Mereka tidak bersamamu. Derajat mereka jauh di bawahmu.”

Dia pun menimpali, “Gusti, selama ini, saya beramal shaleh, di samping untuk diriku juga untuk mereka.” Maka karena anugerah Allah SWT, mereka pun ditempatkan dalam surga yang sama dengan orang shaleh tersebut.

Senada dengan cerita di ata, disebutkan antara lain dalam Tafsir Ibn Katsir dan Ruh Al- Ma’ani, Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Allah SWT menaikkkan derajat keturunan orang mukmin bersamanya di surga, meskipun derajat mereka jauh di bawahnya.

Hal itu supaya hati mereka tenang, damai, dan selaras dengan keadaan penghuni surga,  la khoufun ‘alaihim wa la hum yahzanun (tidak ada rasa takut dan kesedihan bagi mereka, penghuni surga).

Landasan hadits tersebut adalah firman Allah SWT:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. “ (QS. Ath-Thur [52]: 21)

Barangkali muncul pertanyaan, bukankah ada yang ayat yang menyatakan ,

اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۙ وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

“(Yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 38-39)

Bukankah ini menunjukkan bahwa apa yang diperoleh manusia adalah seukur kadar amal perbuatannya, bukan amal perbuatan orang lain?

Pendapat seperti tentu saja tidak benar. Di samping kontradiktif dengan ayat 21 surah Ath-Thur di atas, juga bertentangan dengan banyak hadits yang menegaskan bahwa sedekah, amal perbuatan orang yang masih hidup, pahalanya bisa disampaikan kepada orang yang sudah mati. Pun hadits yang menyatakan tiga amal masih terus mengalir pada orang yang sudah mati, yakni amal jariyah, ilmu yang manfaat dan anak shaleh.

Imam Al-Alusi secara jeli menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan اِلَّا مَا سَعٰىۙ pada surat An-Najm: 39, adalah bahwa kendati secara praktis seseorang tidak melakukan suatu amal perbuatan kebajikan karena keburu dijemput maut, tapi dengan niat yang sudah ditautkan dalam hati ketika dia masih hidup, maka amal shaleh yang dilakukan oleh anak-anaknya atau orang lain adalah seperti perbuatan dia sendiri.

Pun ketika seseorang mengajarkan, menganjurkan dan mentradisikan amal keshalehan dan diikuti, dilakukan oleh orang lain, maka royalti usahanya itu akan terus mengalir dan meninggikan derajatnya.

Dan alangkah indahnya ketika Al-Qur’an memilih diksi   سَعٰىۙ (berusaha) bukan  عمل (berbuat-beramal). Hal itu karena tidak mengindikasikan secara absolut pengertian amal praktis yang riil.

Ibn Manzhur dalam masterpiece-nya Lisan Al ‘Arab, sebuah referensi utama kamus bahasa Arab, mengatakan kata   As-Sa’yu apabila mempunyai arti berbuat, maka digandengkan dengan huruf  Ila  سعى إلى  sementara As-Sa'yu juga mempunyai arti niat dan bermaksud (melakukan perbuatan).

Jadi, firman Allah dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bisa dipahami bahwa manusia akan mendapatkan pahala atas amal perbuatan atau niatnya. Alhamdulillahi Rabbil Alamin.