Esai

Memahami ayat-ayat teguran Allah terhadap Rasulullah

08 Aug 2022 06:19 WIB
489
.
Memahami ayat-ayat teguran Allah terhadap Rasulullah Beberapa kali sikap Rasulullah ditegur Allah langsung dalam al-Quran.

Saat menelusuri ayat demi ayat al-Quran, kita akan menemukan narasi-narasi ayat yang berisikan peringatan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Yakni ayat-ayat yang mengindikasikan adanya teguran, kritik, bahkan celaan Allah terhadap Rasulullah. Lantas dalam benak kita, akan muncul persepsi bahwa Rasulullah SAW acapkali berbuat salah. Lebih-lebih memersepsikan bahwa beliau beberapa kali melakukan sebuah dosa. Hal tersebut yang kemudian menjadikan Allah SWT perlu untuk memberi peringatan ataupun teguran kepada Rasulullah SAW lewat firman-firman-Nya.

Di antaranya bisa kita temukan di surat ‘Abasa, yang secara tekstual dapat diterjemahkan, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang kepadanya (Muhammad).”  Dapat ditemukan juga di surat al-Tahrim yang jika diterjemahkan tekstual berarti, “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Lantas, jika kita memersepsikan ayat-ayat tersebut sebagai penisbatan dosa dan kesalahan kepada Rasulullah SAW, bagaimana dengan ayat-ayat lain yang justru menegaskan secara lantang akan penjagaan Allah terhadap beliau dari segala dosa? Bukankah beliau adalah sebaik-baik manusia yang dicipta untuk menjadi suri tauladan bagi umat manusia?

Kesucian (‘Ishmah) Rasulullah dari segala dosa

Pendapat yang rajih menurut Ahlussunnah wal Jamaah, menegaskan bahwa Allah SWT menjaga para utusan-Nya dari segala kekafiran dan keraguan akan akidah Islam. Berikut Allah SWT juga menyucikan mereka dari segala macam dosa, maksiat, yang termasuk di dalamnya upaya-upaya mereka yang tidak selaras dengan syariat-Nya. Macam dosa di sini mencakup dosa besar dan dosa kecil, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Nabi. Dimana penjagaan tersebut berlangsung hingga mereka wafat, kembali kepada-Nya.

Pemahaman di atas sangat sesuai dengan apa yang kita pahami tentang sosok Rasulullah SAW. Beliau kita kenal sebagai manusia paling mulia dan paling utama di antara makhluk lainnya. Segala tindak laku serta tutur katanya melahirkan ketenangan dan ketentraman bagi umat. Yang mana, tindak laku dan tutur mulia beliau di kemudian hari dijadikan teladan oleh umat sedunia kapan pun dan di mana pun. Sikap teladan yang selalu relevan untuk ditiru dari zaman awal Islam hingga modern saat ini.

Sebagaimana yang kita tahu, Rasulullah SAW telah dijaga kesuciannya oleh Allah SWT sejak beliau belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Sedari kecil, beliau senantiasa dijauhkan Allah SWT dari kemaksiatan dan dosa-dosa. Hal tersebut tentu telah didesain oleh Allah SWT sebagai persiapan Rasulullah SAW hingga nanti diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Jika tidak demikian, yang terjadi adalah Rasulullah SAW justru akan mendapat banyak serangan dari kaum musyrik. Mereka akan mencoba melontarkan tuduhan-tuduhan buruk kepada Rasulullah atas apa yang telah dilakukan sebelum menjadi Nabi. Andai saja di masa kecilnya beliau telah melakukan perbuatan dosa atau maksiat, maka kaum musyrik akan sibuk mencari-cari kesalahan beliau semasa kecil, dan menjadikannya sebuah alasan bahwa Muhammad bukan utusan Tuhan.

Kurang lebih mereka akan berteriak demikian, “Wahai Muhammad! Bagaimana bisa kamu mengaku sebagai utusan Tuhan, padahal saat muda kamu pernah melakukan dosa ini, maksiat ini, dan kekejian ini.” Lantas mereka gunakan dalih tersebut untuk menyesatkan orang-orang lain di sekitarnya.

Dan yang terjadi, akidah Islam tidak akan dapat diterima khalayak. Justru kekafiran yang akan tersebar. Sehingga kesucian Rasulullah SAW sebelum diangkat sebagai nabi menjadi penting, untuk dapat menyebarkan syariat Allah SWT seluas-luasnya di muka bumi.

Adapun ayat-ayat dalam Al-Quran yang menunjukkan adanya perbuatan atau perkataan Rasulullah SAW yang tidak sesuai dengan keterangan di atas (tentang kesucian mereka), maka sebenarnya dari ayat-ayat tersebut Allah SWT ingin memandu dan membimbing Rasulullah SAW. kepada sesuatu yang lebih baik, lebih utama ataupun lebih mulia dari pada apa yang telah dilakukan.

Kesucian (‘Ishmah) Rasulullah dari kekeliruan atau kesalahan

Terdapat perbedaan antara berbuat dosa atau maksiat dengan berbuat kekeliruan atau kesalahan. Jika seseorang berbuat dosa, maka ia melakukan perbuatan tersebut dengan sengaja dan sadar. Yang mana perbuatan tersebut jelas bertentangan dengan syariat. Adapun saat berbuat kekeliruan, seseorang melalukannya dengan tidak sengaja, dan kekeliruan tersebut belum tentu melanggar norma-norma syariat.

Dalam hal kesucian Rasulullah SAW. dari keluputan atau kesalahan, ulama berbeda pendapat. Kelompok pertama meyakini bahwa Rasulullah SAW mungkin atau boleh melakukan sebuah kekeliruan. Mereka berlandaskan pada pemikiran bahwa sebagai sosok manusia, Rasulullah SAW pun tidak mungkin luput dari kekeliruan. Tidak hanya soal fisik (sebagaimana manusia pada umumnya), kebolehan melakukan sebuah kekeliruan juga menjadi hal yang lazim bagi Rasulullah SAW sebagai manusia biasa. Dan hal tersebut tidak bertentangan dengan status kenabian dan kesucian Rasulullah SAW. Sebab kekekeliruan atau kesalahan bukan sebuah dosa, juga bukan sebuah kemaksiatan. Sehingga kelompok ini memahami ayat-ayat teguran dalam Al-Quran tersebut sebagai kritik Allah SWT akan kekeliruan yang diperbuat oleh Rasulullah SAW., sebagai peringatan sekaligus pembenaran.

Sedangkan kelompok kedua mempercayai bahwa Rasulullah SAW juga dijaga kesuciannya dari segala kekeliruan dan kesalahan. Seumur hidup, Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun melakukan sebuah kesalahan. Sedangkan ayat-ayat teguran terhadap Rasulullah SAW dalam Al-Quran tersebut, tidak bermaksud menyalahkan atau mencela perbuatan beliau. Hanya saja Allah SWT. ingin menunjukkan kepada Rasulullah SAW hal-hal yang lebih utama dan lebih sahih untuk dilakukan. Pun di saat Rasulullah SAW meninggalkan perkara yang afdal, hal tersebut tidak terhitung sebagai sebuah kesalahan atau kekeliruan. Yang dilakukan Rasulullah SAW teteplah benar, akan tetapi Allah SWT menginginkan sesuatu yang afdal.

Pendapat kedua inilah yang kita yakini. Bahwa Rasulullah SAW terjaga dari segala keluputan dan kesalahan. Begitu pun dengan ulasan yang pertama, Rasulullah SAW sebagai utusan Allah SWT suci dari segala dosa dan perbuatan maksiat. Sehingga ayat-ayat yang mengindikasikan teguran terhadap Rasulullah SAW tidak bermaksud membenarkan kesalahan atau perbuatan maksiat yang telah dilakukan Rasulullah SAW, melainkan upaya Allah SWT untuk membimbing Rasulullah SAW menuju sesuatu yang afdal.   

Tanzila Feby Nur Aini
Tanzila Feby Nur Aini / 8 Artikel

Alumni Pondok Pesantren Denanyar, Jombang. Sekarang Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo Jurusan Aqidah dan Filsafat. Menyukai kajian Ulumul Quran dan pemikiran Islam.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: