Dalam beberapa bulan terakhir, saya mengaji kitab Sirr Al-Asrar karya Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani bersama seorang kerabat. Kitab ini dianggap sebagai kitab paling filosofis dalam warisan Al-Jilani. Tak mudah untuk menyelami istilah-istilah yang ada di dalamnya; kami terkadang harus berdebat hebat untuk mengungkap maksud di balik sebuah istilah.

Awalnya, saya berpikir bahwa karya Al-Jilani tak ada yang serumit ini. Sebab buku pertama yang ada di tangan saya adalah kumpulan ceramah Al-Jilani: Al-Fathu Ar-Rabbani wa Al-Faidu Ar-Rahmani. Di sini, saya semakin membenarkan paradigma bahwa tasawuf amali dengan nazari sebenarnya tak pernah benar-benar bisa dipisahkan. Al-Jilani yang digambarkan sebagai sosok paling kukuh dari deretan kaum sufi amali juga bisa mengajukan teori-teori rumit ala kaum sufi falsafi.

Buku ini tidak begitu tebal namun memuat rincian tasawuf sunni dengan cukup detail. Seperti talqin zikir yang menjadi ciri khas tasawuf sunni untuk menyingkap tabir ketuhanan. Sementara “tifl ma’ani” adalah mahkotanya.

Deskripsi Tifl Al-Ma’ani

Tifl ma’ani sendiri berasal dari dua kata “tifl” berarti bocah, dan “ma’ani” berarti makna-makna. Makna yang masih bocah, itu yang dimaksud. Sehingga tifl ma’ani diilustrasikan oleh Al-Jilani sebagai:

1. Kelahirannya dalam hati sama dengan kelahiran seorang bayi dari ibunya. Ia kemudian dirawat hingga menjadi dewasa.

2. Mengajarkan ilmu di masa kecil adalah prioritas, maka ma’rifah sufiyah (pengetahuan intuitif) juga diprioritaskan.

3. Sebagaimana anak kecil yang masih suci dari dosa demikian pula “tifl ma’ani” suci dari syirik, lalai dan penghalang jasmani.

4. Penggambarannya dalam ruh seperti “bocah” sebagaimana permunculan malaikat dalam bentuk bocah polos dalam mimpi seseorang.

 5. Allah menggambarkan wildan di surga sebagai anak-anak kecil yang siap melayani penduduk surga.

6. Nama ini dipilih karena atas dasar majaz karena mempertimbangkan relasinya dengan jasad manusia. “Bocah” dijadikan pasangan makna abstrak karena keindahan dan keluguannya, bukan karena fisiknya yang kecil. “Bocah” merupakan refleksi “manusia sejati” karena kenyamanannya ‘bersama’ Allah, seperti bocah yang nyaman dalam dekapan ibunya.    

Tifl Al-Ma’ani Sebagai Hakikat Manusia

Manusia, sebagaimana tersusun dari jasad dan ruh, memiliki isensi yang harus direngkuh kembali berupa “tifl al-ma’ani”. Tifl al-ma’ani, dalam pandangan Al-Jilani, adalah hakikat manusia itu sendiri. Ia disebut pula dengan lubb al-qalbi (inti hati), tanah air manusia yang terkadang disebut pula dengan “ruh al-qudsi”. Jalan taubat, talqin zikir di hadapan syeikh, melanggengkan zikir merupakan upaya kembali ke tanah air (al-watan) tercinta.

Saat manusia dilahirkan ke dunia, dia terasing sekaligus kehilangan identitas dan hakikatnya. Tifl al-ma’ani terhalangi oleh al-kadarat (kekeruhan) jiwa, disebabkan oleh keterikatan duniawi: banyak makan, minum, bicara, tidur, dominasi keinginan untuk mengumpulkan kekayaan, kekuasaan, berhubungan seks, kecintaan berlebih pada anak dan keluarga. Semua ini, dalam perspektif Al-Jilani, menjadi hal-hal yang dapat mengeruhkan ruh (jiwa) meski memang dihalalkan. Kenikmatan dunia meski diperbolehkan bisa mengeruhkan hati dan jiwa, menurut mayoritas kaum sufi.

Posisi Tifl Al-Ma’ani

Tifl al-ma’ani berada di alam lahut, alam qurbah atau alam sirr dalam penyebutan Al-Jilani. Istilah-istilah ini berbeda secara etimologis namun memiliki kesamaan maksud. Lahut antonim dari nasut (manusia), mulki (alam yang bisa diindera),  jabarut (alam antara), malakut (alam yang tak bisa diindera, seperti malaikat). Mula-mula Allah menciptakan ruh Nabi Muhammad Saw dari nur (cahaya) KeindahanNya. Lantas menciptakan ruh-ruh lainnya di alam lahut dalam bentuk terbaik dan hakiki (fi ahsani taqwim). Kemudian semua diturunkan ke alam jabarut, lantas ke alam malakut, hingga akhirnya ke alam mulki dan diciptakanlah jasad sebagai wadah ruh manusia.

Saat ruh menempat dalam jasmani manusia, ia melupakan perjanjian di alam lahut; tatkala Allah meminta perjanjian dengan ruh-ruh “tidakkah Aku adalah Tuhan kalian?” mereka menjawab “iya” (QS. Al-A’raf: 172). Maka Allah melemparkan mereka ke asfal as-safilin (tempat terendah-dunia). Tugas para nabi dan para wali adalah mengajak dan membimbing manusia untuk kembali merengkuh tifl al-ma’ani di alam lahut, kembali menuju al-watan (tanah air). Namun sayangnya, kata Al-Jilani, sedikit sekali yang mau diajak kembali, sedikit sekali yang merindukan tanah airnya.

Al-Jilani mengutip ucapan Nabi Isa as “manusia tak akan bisa menembus alam malakut [dan setelahnya, lahut] kecuali telah mengalami dua kali kelahiran seperti burung yang mengalami dua kali kelahiran.” Kelahiran kedua yang dimaksud adalah tifl al-ma’ani, yang dilahirkan dari persetubuhan ilmu syariat dan ilmu hakekat. Burung mengalami kelahiran dua kali: lahir dalam bentuk telur kemudian menetas. Manusia yang belum merengkuh tifl al-ma’ani seperti anak burung yang belum menetas.

Bisa dipahami baha proses bertasawuf, dalam konsep Al-Jilani, adalah taraqqi (jalan menanjak) dari alam mulki ke malakut ke jabarut dan terakhir ke lahut. Proses ini hanya bisa dilalui dengan jalan talqin zikir pada seorang syeikh yang sudah sampai di alam lahut, bertobat, melanggengkan (mulazamah) zikir hingga bisa menembus alam-alam yang telah disebutkan setelah hati dan ruhnya hidup kembali dari kelalaian.

Di sini titik terpenting konsep tasawuf yang ditawarkan Sultan Al-Awliya dan semua kaum sufi kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bahwa bertasawuf tak cukup dengan jalan kontemplasi-refleksi seperti dikenal dalam irfan Syiah atau jalan isyraq (iluminasi). Sebagaimana sebuah alamat tak bisa dicapai kecuali dengan petunjuk seseorang atau peta demikian pula suluk kaum sufi mengharuskan adanya mursyid yang mendapat legitimasi dari para mursyid sebelumnya.        

Persaksian Tifl Al-Ma’ani

Alam Lahut, dalam deskripsi Al-Jilani, adalah alam sirr (rahasia); tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; seperti gurun sahara yang diselimuti oleh cahaya tanpa batas. Di sana, tifl al-ma’ani selayaknya burung yang terbang menikmati keajabaian-keajaiban dan keunikan-keunikan yang tak bisa diceritakan. Semua alam yang telah disebutkan setara dengan setetes air jika dibandingkan dengan alam lahut.

Ruh manusia yang telah merengkuh tifl al-ma’ani disebut dengan “maqam al-muwahhidin” dalam hierarki maqamat kesufian Al-Jilani. Tak ada yang disaksikan kecuali nur (cahaya) Keindahan Allah. Saat itu manusia berada dalam ekstas kesufian (fana), mahwiyah (keterhapusan) diri, hairah (merasakan batas kesadaran eksistensialnya) dihadapan nur al-jamal (cahaya Keindahan Allah).

“Saat manusia sampai pada maksudnya (tifl al-ma’ani), akal tunduk merugi (karena tak sanggup memahami), hati menjadi bingung, lisan pun kelu tak sanggup berucap, karena Allah Maha Suci dari segenap keserupaan.” Tutup Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Jadi, tifl al-ma’ani merupakan metafora yang dipakai Al-Jilani untuk mengungkapkan puncak penacapaian seorang salik sekaligus penyingkapan batin seorang sufi. Metafora sering dipakai kaum sufi untuk mengungkap sebuah pengalaman yang tak terbahasakan. Namun, ia tak bisa dipahami sebagai permainan kata belaka karena disandarkan pada pengalaman intuitif sejati.