Artikel

Memaknai Ramadhan sebagai rahmat Allah

22 Mar 2024 02:44 WIB
132
.
Memaknai Ramadhan sebagai rahmat Allah Di tengah bulan Ramadhan ini rahmat Tuhan sangat berlimpah.

Hakikatnya di dalam puasa Ramadhan kita seringkali disuguhkan bahwa puasa terbagi menjadi tiga tahap, yaitu 10 hari awal, kedua dan ketiga. 10 hari awal biasanya seseorang menyebutnya dengan rahmat Allah Swt. (memperoleh rahmat Allah). Tetapi kita sebagai muslim, umumnya, memaknai rahmat Allah Swt. sebagai anugerah saja, bukan sebagai sesuatu yang beroperasi nyata dalam kehidupan manusia.

Berbeda dengan Cak Nur yang memaknai rahmat Allah Swt. tidak hanya sebagai anugerah, melainkan rahmat turut berperan-andil dalam kehidupan nyata manusia. Artinya, bagaimana manusia pada gilirannya mempunyai efek sosial tidak hanya individual. Sederhananya, puasa tidak hanya memliki dampak individual akan tetapi juga memiliki dampak sosial. Dalam al-Qur’an dijelaskan, Allah Swt. berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ. اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَمْلَـئَنَّ جَهَـنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Artinya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat). Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud [11]: 118-119)

Lalu bagaimana sebernarnya memaknai rahmat Allah Swt.?

Syahdan. Sebenarnya tema ini sangat sentral. Mengapa demikian? Karena kadangkala bahkan sering terlupakan oleh manusia muslim khusunya dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. Justru kita terlalu fokus pada masalah-masalah yang sifatnya fiqhiyyah (amal-amal yang sifatnya fi’liyyah), atau legalitas formal yang sifatnya ibadah, akan tetapi lupa bahwa buah dari ibadah yang kita lakukan adalah membangun sikap rahmat di dalam diri kita.

Di dalam al-Qur’an, kata rahmat sering diulang berkali-berkali sampai 114 kali dengan derivasi bentuknya. Demikian juga kata rahman diulang sebanyak 57 kali. Bahkan, kata rahim tempat janin dalam tubuh seorang ibu juga berasal dari kata rahmat. Artinya, andaikan bukan karena rahmat Tuhan, maka tidak mungkin seorang ibu bisa melahirkan hingga membesarkan anaknya kelak.

Sementara itu, arti dari rahmat sangat luas. Sebagian ulama mendefinisikan bahwa rahman adalah asmaul husna yang paling penting, lalu kemudian rahim dan seterusnya. Tetapi pada dasarnya semuanya berasal dari satu kata yaitu ra’, ha’ dan mim.

Kata rahman menunjukkan sifat Allah Swt. Bahwa Allah Swt. mengasihi semua makhluknya tanpa ada perbedaan satu sama lainnya. Itu artinya, rahmat dari sifat Tuhan sangat merasa ke seluruh jagat alam raya. Berbeda dengan rahim yang diberikan secara khusus kepada siapa yang diinginkan oleh Allah Swt. Tentu kita tidak tahu siapa yang dikasihnya. Karena itu, jangan pernah memandang sepele dan rendah kepada sesama. Boleh jadi mereka yang kita pandang remeh-temeh mendapat rahmat Allah Swt.

Itu sebabnya, setiap kali ketika kita hendak memulai segala sesuatu, perbuatan baik yang hendak kita lakukan, maka harus dimulai dengan bacaan “Bissmillahirrahmanirrahim” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Jadi keduanya sangat sentral dalam kehidupan kita.

Bahkan, salah satu tugas utama Nabi Muhammad Saw. adalah sebagai penyempurna akhlak. Maka, ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya pada bab musnad Abi Hurairah yang berbunyi:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.”

Jadi prinsipnya jelas. Tidaklah aku diciptakan kecuali menjadi rahmat bagi semuanya tanpa pandang bulu. Inilah yang kemudian disebut dengan “Rahmatan lil Alamin”. Allah Swt. berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Bahwa misi dan visi Islam yang paling besar dan sentral adalah menjadi penebar rahmat bagi semesta. Dari sini kita tahu, bahwa rahmat tidak hanya terbatas pada umat Islam saja, akan tetapi keseluruh umat manusia alam raya (semua makhluk yang ada di muka bumi ini).

Tidak hanya itu, rahmat juga bermakna kasih sayang, berkah, kemurahan hati, ampunan, lemah-lembut, nikmat dan lainnya. Namun demikian, hemat penulis, rahmat lebih bermakna kepada sikap cinta damai. Dalam hal ini bukan berarti akan membiarkan ketidakadilan. Jika Allah Swt. saja berlimpah rahmat, lalu kenapa kita sebagai hambanya tidak demikian. Inilah gunananya kita selalu mewiridkan asmaul husna, Ya Rahman, Ya Rahim.

Dengan mewiridkan asmaul husna, berharap sifat-sifat itu menitis dan berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika menitis, maka kita akan menjadi orang yang penuh cinta kasih serta senang menegakkan keadilan-keadilan.

Bagaimana implikasinya dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam kehidupan sehari-hari kita diminta oleh Allah Swt. mendahulukan. Misalnya, dalam menerima berita, maka ada baiknya mendahulukan memeriksa terlebih dahulu biar tidak menyebarkan hoaks atau fitnah (melakukan tabayun). Berharap agar supaya tatanan kehidupan kita tetap damai dan tidak menumbulkan kontroversial.

Jika misalnya beritanya benar, apakah bermanfaat? Kalau bermanfaat apakah beritanya penting untuk kita konsumsi? Adakah sikap rahmat di dalam kehidupan kita untuk memfilter berita-berita itu? Artinya jangan langsung di viral begitu saja. Memang terlihat kecil, akan tetapi dampaknya akan merambah ke seantero dunia.

Lalu apa saja cakupan rahmat Allah Swt.? Tentu saja cakupannya sangat luas. Yaitu mulai dari janin yang ditiupkan nyawa hingga ke akhirat kelak. Anak baru lahir kemudian dibuang sama ibunya kenapa tidak mati? Jawabannya karena disitu ada rahmat Allah Swt.

Boleh jadi rahmat Tuhan itu berbentuk bencana alam. Dalam hal ini, bukan berarti Tuhan tidak menyayangi manusia, melainkan supaya manusianya sadar akan apa yang telah diperbuatnya. Itu berarti ada sesuatu yang harus kita perbaiki. Sekali lagi, rahmat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan, boleh jadi rahmat itu berupa cobaan-ujian. Maka kita harus menerima dengan lapang dada.

Bukan hanya menerimanya, kita juga harus berpikir kritis “apa ini maknanya?” Kita harus mencari tahu apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah Swt. dalam hidup kita. Itu sebabnya, kenapa al-Qur’an dimulai dengan surat Iqra’ (membaca). Bahwa segala sesuatu itu kamu harus membacanya. Misalnya dengan membaca hikmah apa yang terkandung dibalik kejadian-kejadian. Pesan-pesan moral apa yang bisa diambilnya.

Seseorang yang penuh dengan rahmat Allah Swt., maka ia akan selalu positif thinking (menghasilakan energi positif). Ia akan menjadi manusia penuh dengan semangat melakukan hal-hal yang benar dan menjadi bahagia. Ia tidak gampang marah, menggerutu, marah apalagi mengeluh. Itulah rahmat Allah Swt.

Bahkan sampai kepada orang meninggal kita menyebutnya almarhum “orang yang dirahmati Allah Swt.” kenapa selalu mengatakan berpulang ke rahmatullah? Jawabannya adalah doa kepada mereka yang sudah meninggal “semoga orang itu mendapatkan ampunan dan rahmat Allah Swt.”

Bagaimana cara meraih rahmat Allah?

Dalam meraih rahmat Allah Swt. ada banyak jalan. Bukankah dalam al-Qur’an sudah dijelaskan. Misalnya dalam surat Ali Imran [3]: 132, Al-An’am [6]: 155, An-Nur [24]: 56, An-Naml [27]: 46, Al-Hujurat [49]: 10 dan surat-surat lainnya. Banyak sekali petunjuk yang diberikan Allah Swt. untuk meraih rahmat-Nya. Ini sebagai indikasi bahwa, betapa sayangnya Allah Swt. kepada hamba-hambanya. Tuhan tidak ingin makhluknya mengalami kesulitan-kesulitan, kecelakaan dan tenggelam dalam kebinasaan.

Tentu saja, dalam meraih rahmat-Nya, pertama kita harus taat kepada Allah Swt. Kedua, kita harus mengikuti perintah-perintah al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an selalu mengajarkan dan mengajak kita kepada kebaikan, serta menghindarkan kita dari segala bentuk kemungkaran apapun. Termasuk menyelamatkan dari maksiat, mulai dari pikiran, ucapan hingga tindakan-tindakan (bagaimana pikiran berpikir pada hal-hal yang positif).

Ketiga, menegakkan shalat, puasa, membayar zakat (bersedekah). Bersedekah tidak selamanya dengan materi (uang), tetapi juga dengan pikiran, jasa, upaya-upaya advokasi dan membela kelompok-kelompok tertindas (kaum mustadh’afin) adalah bagian dari sedekah. Inilah kewajiban kita hidup sebagai manusia, adalah selalu berbagi terhadap sesama.

Keempat, memperbanyak istighfar (memohon ampunan). Kenapa demikian? Karena tidak ada orang yang luput dari dosa, sekalipun tidak merasa. Misalnya, memandang orang secara hina, mendiskriminasi dan menstigma orang lain tanpa kita sadar adalah perbuatan dosa. Tak terkecuali adalah bullying (menyakiti dan merendahkan). Istighfar dalam hal ini adalah memohon ampun dengan catatan tidak mengulanginya lagi (taubatan nasuha).

Kelima, membangun perdamaian. Ada banyak jalan untuk membangun perdamaian. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَجْعَلُوا اللّٰهَ عُرْضَةً لِّاَيْمَانِکُمْ اَنْ تَبَرُّوْا وَتَتَّقُوْا وَتُصْلِحُوْا بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa, dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 224)

Nah, di tengah bulan Ramadhan ini rahmat Tuhan sangat berlimpah. Dan kita, orang muslim khususnya, diperintah untuk meraihnya dengan apapun itu cara jalannya. Asalkan benar. Misalnya, dengan membangun perdamaian, menolong orang-orang yang tidak mampu (fakir-miskin) dan seterusnya.

Semoga setelah Ramadhan ini, semua kebaikan yang telah kita latih akan menjadi kebiasaan, budaya dan tradisi kita dalam kehidupan sehari-sehari sampai akhir kelak. Jangan kemudian setelah Ramadhan kita kembali pada tabiat aslinya, yaitu melakukan kenegatifan. Jangan. Tetaplah merasa seoalah-olah kamu berada dalam bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bisshawaab.

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf / 110 Artikel

Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: