Hatim ath-Thai adalah seorang yang sangat dermawan di masa jahiliyah. Dia menjadi suri teladan dalam kedermawanan. Lalu bagaimana dengan keluarganya saat Islam datang? Padahal kabilah ath-Thai termasuk yang memusuhi Islam.

Pada tahun 9 H, Sayyiduna Rasulullah saw. mengirim pasukan yang dipimpin Sayyiduna Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu. Pasukan terdiri dari 150 anggota, 100 unta dan 50 kuda. Di antara misi pasukannya adalah menghancurkan berhala yang disembah kabilah ath-Thai.

Kabilah ath-Thai akhirnya kalah. Tawanan dan rampasan perang dibawa ke Madinah.

Salah satu tawanan itu adalah perempuan musyrik bernama Safanah putri Hatim ath-Thai. Dia mewarisi kedermawanan sang ayah. Saudaranya saat terjadi peperangan sedang berada di kawasan Syam.

Maulana Syekh Ali Jum'ah hafizhahullah melanjutkan bercerita:

Safanah mendatangi Sayyiduna Nabi Muhammad saw. Mengetahui bahwa perempuan itu adalah putri dari seorang tokoh dermawan Arab, belieu meletakkan selendangnya untuk diduduki tawanan yang masih musyrik itu.

Safanah terpesona dengan sambutan khusus. Dia bertanya: Apa sebabnya?

Sayyiduna Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya ayahmu menyukai akhlak mulia.”

Mendengar pujian itu, Safanah penasaran dan berharap lebih, “Apakah ayahku di surga?

Sayyiduna Rasulullah saw. menjawab, “Tidak. Ayahmu tidak pernah mengatakan: Wahai Tuhanku, ampuni aku di hari kiamat.”

Disebutkan dari sumber-sumber lain: Safanah menyampaikan pada Sayyiduna Nabi bahwa ayahnya merupakan tokoh besar di kaumnya, biasa membebaskan tawanan, merawat yang lemah, menjamu tamu, membuat kenyang orang yang lapar, berbagi makanan, menyebarkan kedamaian, tidak pernah menolak permintaan apapun.”

Sayyiduna al-Habib Muhammad saw. kemudian membebaskan Safanah beserta semua warga kabilahnya yang ditawan demi memuliakan dirinya.

Sayyiduna Rasulullah saw. berkata, “Jangan terburu-buru pulang, tunggu ada orang yang bisa dipercaya untuk mengantarkanmu ke daerahmu, dan beritahukan aku saat kamu akan berangkat.”

Sayyiduna Rasulullah saw. menganugerahi Safanah banyak uang untuk menafkahi dirinya, juga pakaian dll.

Safanah begitu terpesona. Dia melihat sendiri kemuliaan akhlak lebih dari kemuliaan akhlak sang ayah. Dia menyaksikan bagaimana Sayyiduna Rasulullah saw. mencintai kaum fakir, membebaskan tawanan, menyayangi yang kecil, dan memuliakan yang besar. Dia pun yakin seyakin-yakinnya bahwa itu semua tidak keluar kecuali dari seorang yang berhati penuh kasih sayang.

Maka Safanah pun mendoakan sepenuh hati seraya berterima kasih: “Semoga Allah menjagamu di manapun anda berada berkat kebaikanmu. Semoga anda tidak pernah punya keperluan pada orang yang kurang ajar. Semoga anda menjadi sebab mengembalikan kemuliaan kaum yang diambil kenikmatan mereka.”

Akhirnya Safanah masuk Islam. Dia lalu mengirim berita pada saudaranya agar melihat langsung Nabi baru di Madinah.

Lalu bagaimana dengan saudaranya?

Adi bin Hatim merupakan seseorang yang sangat memusuhi Islam. Dia merasa bahwa agama baru membahayakan posisinya sebagai pemimpin kabilah.

Setelah saudarinya masuk Islam, Adi makin penasaran. Dia pun mendatangi Madinah mau melihat langsung sang Nabi.

Adi bertemu di masjid. Dia melihat dengan mata sendiri seseorang yang tidak punya ambisi untuk menjadi raja ataupun penguasa.

Akhirnya Adi juga ikut masuk Islam. Kabilahnya merupakan salah satu kabilah yang kuat memegang Islam. Mereka tidak murtad saat banyak kabilah murtad pasca wafat Sayyiduna Rasulullah saw.

Adi dan kabilahnya juga sangat berperan dalam berbagai peristiwa dan jihad sehingga Islam makin luas menyebar.

Cerita di atas menunjukkan ketinggian akhlak Sayyiduna Rasulullah saw. pada orang-orang yang berakhlak mulia meskipun berbeda keyakinan sehingga membuat orang-orang di luar sana terpesona.

Begitulah yang diajarkan Sayyiduna al-Habib Muhammad saw. untuk memedulikan kaum perempuan dan membantu orang-orang lemah yang merana.