Pendidikan kita selama ini amat fasih dalam mengajarkan kepada anak-anak di usia dini urusan yang berhubungan dengan badan, tubuh, atau jasmani.

Dulu, pengajaran ini diramu dalam disiplin ‘Penjaskes’, pendidikan jasmani dan kesehatan. Kita diajari bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh, makanan apa saja yang bergizi tinggi, dan kita juga disuruh menghafalkan semboyan ‘empat sehat lima sempurna’.

Pendidikan kita juga cukup fasih dalam mengajari anak didik bagaimana caranya berpikir atau bernalar dengan benar, kendati tentunya masih banyak catatan di dalamnya.

Anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dikenalkan beberapa metode dalam menalar sesuatu, mulai dari yang paling sederhana sampai ke yang paling njlimet bin sukar. Kita dikenalkan dengan logika klasik, lebih banyak melalui struktur paragraf dalam bahasa Indonesia, mulai dari induktif, deduktif, sampai campuran. Di perguruan tinggi, kita bahkan dikenalkan dengan logika modern, mulai dari positivisme sampai logika dialektis.

Namun demikian, pendidikan kita teramat abai terhadap pendidikan rasa.

Pendidikan rasa tidak pernah dikurikulumkan sebagaimana pendidikan yang lain. Barangkali lantaran perasaan identik dengan perjalanan hidup seseorang yang sama sekali tidak menerima deskripsi langsung. ‘Sudah makan asam garam’ adalah adagium rutin bilamana seseorang ditanya tentang keberhasilannya dalam mengolah rasa. Artinya, pendidikan rasa lebih mengarah kepada pendidikan langsung dalam laku kehidupan yang bersifat pengalaman itu sendiri.

Mungkin saja ilmu yang mendekati pendidikan rasa adalah psikologi. Tetapi ilmu psikologi murni hanya berurusan dengan deskripsi masalah beserta teori yang ada di dalamnya, sementara psikologi terapan (psikiatri) berurusan dengan gejala dan efek setelah suatu kasus terjadi.

Psikoanalisis dengan berbagai variannya pun demikian. Ilmu ini (jika telah disepakati sebagai disiplin yang terpisah dari langgam psikologi) berurusan dengan tingkah laku manusia secara umum beserta teori yang dapat menjelaskan tingkah laku tersebut.

Alhasil, alih-alih ‘mengolah rasa’ sebagaimana pendidikan jasmani ‘mengolah raga’ dan pendidikan logika ‘mengolah pikir’, psikologi tampil lebih sebagai ‘pengobat rasa’. Padahal, semboyan dalam ilmu kesehatan ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ mencakup semua penyakit. Bukan hanya badan dan pikiran, tetapi juga perasaan.

Pendidikan rasa kebanyakan muncul dalam bentuk yang informal. Tentunya agama dan segenap pemangkunya berperan besar dalam hal ini. Agama, umumnya, dan tasawuf atau mistisisme, khususnya, berbicara kepada manusia dalam urusan yang menyeluruh: raga, rasa, dan pikir.

Unsur rasa dalam agama tentunya lebih dominan. Maka tak mengherankan jika agama dianggap candu oleh sebagian pemikir materialis, lantaran ia menawarkan obat rasa bagi jiwa-jiwa yang menderita di alam raya ini. Agama menawarkan kehidupan lain yang indah dan terbebas dari derita; sesuatu yang amat kontras dengan dunia beserta isinya.

Namun demikian, pemangku agama umumnya mengajarkan olah rasa melalui cara yang untuk sebagian golongan amat sukar, misalnya melalui mujahadah dan tirakat. Dalam tasawuf sendiri, cara ini dianggap paling jitu untuk mengolah perasaan manusia yang acapkali kecewa, sedih, galau, dan sekian afeksi lainnya. Di sinilah pentingnya pendasaran logis atas ilmu olah rasa. Jadi, di sana perlu adanya singkronisasi antara perasaan dan pengetahuan.

Perasaan adalah bagian dari kemanusiaan manusia. Manusia tidak bisa dilepaskan dari perasaannya. Rasa sedih, misalnya, tentunya pernah menjangkiti tiap manusia. Rasa ini tidak bisa dilenyapkan dari manusia dan karenanya titik tekannya bukan terletak pada pelenyapan atas rasa itu, namun pengontrolan terhadapnya.

Ibnu Sina, melalui risalah yang amat pendek bertajuk ‘Ar-Risalah fi Mahiyah al-Huzn’ (Tentang Kesedihan), berupaya memberi pendasaran logis atas afeksi manusia, terkhusus rasa sedih, agar dengan pendasaran logis tersebut, orang mampu untuk mencapai pengetahuan tentang hakikat kesedihan lantas dengan begitu dapat mengontrolnya.

Pertama-tama, Ibnu Sina menjelaskan tentang hakikat kesedihan, bahwa ia adalah ‘kepedihan psikis yang timbul lantaran hilangnya sesuatu yang dicintai dan lenyapnya sesuatu yang diingini’.

Hakikat kesedihan ini secara tersirat juga ingin membangun rukun rasa: (i) subjek, (ii) objek, dan (iii) perasaan. Subjek senantiasa mencari objek perasaannya. Kesedihan berawal dari rasa ingin atau hasrat atau cinta. Subjek menghasrati objeknya. Tetapi jika objek itu lenyap, maka yang hadir adalah rasa sedih. Dengan begitu, kesedihan senantiasa bersifat negatif. Ia adalah rasa yang timbul akibat lenyapnya objek awal dari subjek yang menghasrati. Lantaran sifat dari objek hasrat adalah non-kekal, maka tidak ada seorang pun yang luput dari jeratan kesedihan itu selama ia masih menghuni dunia profan.

Kedua kalinya, Ibnu Sina memberikan solusi agar manusia tidak didera kesedihan. Jika kesedihan merupakan efek negatif dari rasa cinta atas objek tertentu, maka hilangnya objek ini selalu berbanding lurus dengan menjangkitnya rasa sedih.

Alhasil, alih-alih memberikan solusi dengan ‘menghilangkan hasrat’, Ibnu Sina justru menyarankan agar manusia menghasrati sesuatu yang kekal. Apa itu sesuatu yang kekal? Sesuatu yang bersifat akali, atau spirit. Sesuatu ini kontra jasad, simbol keprofanan duniawi. Dalam naungan filsafat Platonisme, solusi Ibnu Sina terlihat masuk akal. Bagi Platon, ide itu kekal. Sebanyak apa pun jenis kuda yang punah, ide tentang kuda tetap abadi. Inilah barangkali yang dimaksud oleh Ibnu Sina dengan sesuatu yang akali, yakni logos, pengetahuan. Mencintai pengetahuan, dengan demikian, adalah solusi agar orang tidak dirundung kesedihan yang berlarut-larut.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa perasaan haruslah diimbangi dengan pengetahuan. Perasaan tanpa pengetahuan akan membabi-buta, sementara pengetahuan tanpa perasaan akan kering-kerontang.

Pengetahuan dan perasaan harus saling mendidik. Pengetahuan mendidik perasaan agar tidak lebay, terlalu larut, dan tanpa arah. Dan perasaan mendidik pengetahuan agar bijaksana, manusiawi, dan bermartabat. Ibnu Sina mendidik kita agar tidak hanya mengolah raga dan pikir, tapi juga mengolah rasa. Apa yang kalian tangkap dari diksi ‘mengolah’? Memilih, memilah, dan mencampur, bukan? Itulah hakikat kehidupan, penciptaan.