'Alā al-Jisr , jembatan cinta yang mengisahkan perjalanan Srikandi tafsir, Aisyah Bintu Syathi menemukan belahan jiwanya.

***

Sebagai wanita pertama yang menulis tafsir Al-Quran, menjabat di Lembaga Riset Al-Majalis Al-Qaumiyyah Al-Mutakhasshishah, menjadi dosen di 9 negara, sebagai pendidik yang mencetak banyak ilmuan berkelas, serta serius mendalami ilmu humaniora dan sastra Arab; kehidupan yang sarat dengan aktivitas ilmiah itu tak menjadi penghalang bagi Prof. Dr. Aisyah bintu Syathi' untuk menjalani kisah cinta yang indah.

Semua rentetan kisah itu ia tuangkan dalam roman karyanya berjudul 'Alā al-Jisr, yang ia tulis kala hatinya masih dirundung sedih dan kekalutan setahun setelah kepergian suami sekaligus guru terkasihnya, Dr. Amin Al-Khuli tahun 1960-an.

Sebagai penulis papan atas, kisah hidup penuh dengan tantangan dan rintangan yang ia lalui dapat menjadi sumber inspirasi untuk ia tuangkan dalam tulisan dari berbagai sudut pandang. Namun dalam otobiografi ini, ia memilih menumpah-ruahkan sisi kemalangannya menyusul musibah kehilangan seorang belahan jiwa yang selama ini menemaninya membangun rumah-tangga, belajar dan berkarya.

Novel 'Alā al-Jisr memang tidak tebal, memuat 152 halaman. Namun isinya sarat makna yang membuat pembaca tidak akan cukup melahapnya sekali saja. Setiap kali diulang, pembaca akan meraup maklumat-maklumat baru yang ia titipkan melalui gaya bahasa menawan.

Tulisan saya ini mustahil mewakili novel luar biasa karya sastrawati itu, hanya memberi sedikit gambaran keindahan muatannya dan semoga menularkan semangat seorang tokoh wanita tangguh.

Dalam 'Alā al-Jisr, kejadian yang penulis tekankan terpusat pada kisah cinta antara dirinya dan Al-Khuli. Terlihat bagaimana penulis menggambarkan fase sebelum pertemuan; mulai dari proses pembelajaran, pematangan berfikir dan pendewasaan diri. Menurutnya semua itu adalah masa pemantasan diri untuk menemui belahan jiwanya. Melalui perjalanan panjang penuh lika-liku itu, ia memperoleh kecerdasan dan multi-skill yang seakan menjadi jisr (jembatan) yang menjembatani pertemuannya dengan sang kekasih.

Ia seakan masih tidak menyana, gadis kampung dekil yang lahir dan tumbuh di pesisir pantai Nil seperti dirinya akan bertemu dengan salah seorang pemikir terhebat di Mesir pada zamannya, perintis metode kritik sastra dalam tafsir Al-Quran, guru besar di universitas negeri nomor wahid di Mesir.

Novel itu ia buka dengan sebuah syair yang menggambarkan dirinya dan Al-Khuli terpisah oleh berbagai dinding penghalang, terpisah ruang dan waktu, jarak, gap usia dan status sosial yang regang. Seakan ia berada di sebuah tepi daratan, sedangkan Al-Khuli berada di daratan lain yang begitu jauh, terpisah oleh jurang yang sangat panjang dan curam. Sulit mengimajinasikan akan terjadinya pertemuan. Maka jalan terjal yang dilalui Aisyah semenjak kecil beruntun mendekat, bagaikan jembatan untuk menautkan cinta suci itu.

Keberhasilannya melalui jembatan angker itu membuat dirinya berbangga dengan mengatakan, "Kisah kami ini bagaikan dongeng mitos yang sulit terulang di dunia nyata."

Pandangan Pertama

Ia merasa telah mengenal Al-Khuli sebelum berjumpa dengan sosoknya untuk pertama kali dalam kenyataan. Pada halaman 121 novel, ia mengaku pertemuan pertama itu terasa De Javu baginya.

"Ketika pertama-kali menyaksikan Al-Khuli menyampaikan kuliah, murid-murid yang mengitarinya menyimak dengan penuh perhatian. Aku pun mendekat untuk ikut menyimak, sektika aku terkesiap. Dadaku berdebar. ‘Aisyah, suara ini benar-benar tidak asing. Tapi kapan dan di mana aku pernah mendengarnya?’ Batinku.

Pertanyaan itu terus-menerus berputar di otakku. Kupandang wajahnya dengan lekat, semakin menyulut api kebingungan. Kapan dan di mana aku pernah melihatnya?

Sungguh, aku merasa sudah akrab dengannya.

Sebelum menceritakan kisah pertemuan pertama yang menjadi awal tumbuhnya benih-benih cinta yang kemudian dibina menjadi sebuah kebersamaan erat di atas landasan ikatan suci pernikahan (al-'urwah al-wutsqa); penulis menceritakan, berawal dari kegundahan yang ia alami setelah menuntaskan tahun pertama di bangku perkuliahan. Tahun keduanya di perkuliahan adalah masa-masa membingungkan. Terutama dengan kondisi negara saat itu yang tengah genting dengan suasana revolusi, beberapa mahasiswa di kampus bahkan gugur sebagai korban.

Dia mulai berpikir, "Apa yang akan kudapatkan dari perkuliahan ini? Sejauh mana timbal balik antara aku dan kampus? Bagaimana kampus sesungguhnya berhasil membentuk alur pikir dan mengasah kemampuanku membaca turats?"

Di balik kegundahan itu, Bintu Syathi' tidak mendapatkan support kuat dari sang ayah, karena keputusan masuk universitas adalah atas kenekatannya sendiri, di zaman ketika mengecap pendidikan tinggi bagi wanita terbilang sangat tabu di Arab bahkan di dunia saat itu. Menjadi mahasiswi saat itu dipandang sebuah bid'ah. Namun ia selalu merasa ada sebuah power besar yang mendorongnya dengan kuat untuk melawan arus.

Di hari pertama perkuliahan tingkat II, hari itu tepat peringatan hari ulang tahunnya, itulah hari pertama perjumpaan manis.

"Aku mencoba mengenyahkan jauh-jauh kegundahanku. Aku mengambil tempat di ruang kuliah dengan penuh rasa semangat, dengan tekad kuat untuk meraih prestasi tertinggi.

Seorang dosen gagah penuh wibawa memasuki kelas kami. Ia menyampaikan salam dan tanpa membuang-buang waktu, ia berkenalan dengan langsung membicarakan SKS dan kontrak perkuliahan bersama kami. Ia mengampu Mata Kuliah Ulum al-Qur'an. Kami diberikan kebebasan untuk memilih sendiri tema pembahasan untuk diangkat sebagai pembahasan makalah yang akan dipresentasikan.

Dengan penuh semangat, aku menjadi mahasiswa pertama yang mengacungkan tangan dan menawarkan diri mendapat giliran pertama dengan pembahasan pertama tentang nuzul al-Qur'an."

Dengan tetap cool, sang dosen menjawab tantanganku, ‘Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyiapkan materinya?’

‘Bagi saya cukup sehari, Pak. Atau bahkan setengah hari.’ Jawabku dengan tegas.

Beliau menyergahku, ‘Jawablah dengan realistis! Tidak masalah kalian meminta waktu yang cukup panjang untuk deadline.’

Aku membuat sedikit pertimbangan, tapi pantang bagiku menarik perkataan yang telah keluar. Kutanyakan lagi sekaligus menginformasikan kelengkapan referensi yang kupunya: ‘Apakah cukup jika saya merujuk untuk pembahasan ini pada kitab Al-Burhān karya Badr Az-Zarkasyi, kitab Al-Itqān dan Al-Lubāb karya Jalal as-Suyuthi ditambah dengan Sīrah al-Hasyīmiyah, Thabaqāt Ibnu Sa'd dan Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari?’

‘Satu kitab saja dari yang kau sebutkan itu cukup apabila kau mampu membacanya dengan baik.’ Jawabnya dengan tetap tenang.

Inilah awal pertemuan yang membuat hati seorang gadis pesisir Dimyath itu campur aduk oleh pesona sang dosen. Ia semakin yakin, setiap langkah yang ia tempuh selama ini seakan tersusun untuk perjalanan menemukan Amin Al-Khuli yang nanti akan menjadi dosen dan belahan jiwa yang membuktikan kemaha-besaran Allah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan. Dari rumah itulah mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga selama 20 tahun, mengeluarkan ide-ide besar yang sebagaimana diungkapkan oleh pemikir besar Prof. Dr. Thoha Jabir Al-Ilwani, "Pemikir seperti kita saat ini tidak bisa menyumbangkan sepersepuluh apa yang telah disumbangkan oleh sepasang suami istri ini."

Lalu bagaimana kehidupan Aisyah bintu Syathi?

Aisyah bintu Muhammad Ali Abdurrahman yang akrab dengan panggilan Bintu Syathi’ merupakan tokoh wanita pemikir, peneliti, dosen dan penulis berkebangsaan Mesir. Ia adalah wanita pertama yang menjadi dosen di Al-Azhar Asy-Syarif dan universitas lainnya. Di antara wanita pertama yang berprofesi sebagai jurnalis di Mesir, khususnya di Harian Al-Ahram. Wanita pertama di Arab yang dianugerahi Nobel King Faisal di bidang sastra dan studi Islam. Padahal dia hidup di zaman hak wanita dikekang. Untuk masuk sekolah dasar pun dilarang, apalagi sampai meraih gelar doktor dan mengajar di perguruan tinggi.

Kelahiran dan Keluarga

Aisyah lahir tak jauh dari pesisir Nil di perkampungan Dimyath, 6 November 1913 M. Putri mungil itu lahir di tengah keluarga alim Azhari, ayahnya Syaikh Muhammad bin Ali bin Abdurrahman adalah pengajar di Ma'had Al-Azhar Dimyath. Kakeknya dari ibu Syaikh Muhammad Ad-Damhuji adalah seorang ulama besar Al-Azhar yang nasabnya bersambung kepada Sayidina Husein bin Ali RA.

Pendidikan Awal

Tumbuh di tengah lingkungan taat beragama, oleh sang ayah, ia dimasukkan ke kuttab Syaikh Mursi dan Ma’had Diniyah Al-Azhar setempat. Baru menginjak usia enam tahun, 15 juz Al-Qur’an sudah dihafalnya. Sebenarnya ayahnya dulu ingin menimang anak laki-laki untuk dikaderkan menjadi ulama, karena itulah Aisyah dididik dengan ketat dan tidak diperkenankan banyak bermain sebagaimana kawan sebayanya.

Setelah menggenggam ijazah Ibtidaiyah di usia 10 tahun dengan nilai tertinggi, idealisme sang ayah meminta Aisyah untuk putus sekolah dan menetap di rumah, konservatif dengan budaya saat itu. Namun jiwa ambisius Aisyah bersikeras melanjutkan pendidikan. Berkat sokongan ibu, kakek dan guru-gurunya, sang ayah luluh dan Aisyah dapat melanjutkan sekolah. Bahkan kakeknya lah yang langsung turun tangan mengurus pendaftaran. Semula sang ibu merekomendasikan putrinya masuk Madrasah Mu’allimat Favorit di Manshuroh, tetapi sang ayah lebih memilih putrinya di Madrasah Thanta.

Tentang sikapnya ini, Bintu Syathi mengatakan: “Aku belajar berlandaskan manhaj Al-Azhar. Kitab pertama yang menjadi concern-ku adalah Al-Qur’an, ialah inspirasi terbesar yang mendorongku mabuk mencintai ilmu, semangat belajar mengalir dalam darahku. Ayahku juga seorang Alim, dia yang menanamkan kecintaan ilmu. Tapi mengapa dia juga yang ingin menghalangi jalanku? Maka kutabrak haluannya dan aku yang berhak menang.”

Pengaruh Sang Kakek dalam Bakat Jurnalistik

Semasa belajar di sekolah menengah, sang kakek sering menitip lewat Aisyah untuk membelikan Koran Al-Ahram dan Koran Al-Muqattam untuk dibaca sebagai kewajiban harian. Sang kakek adalah seorang aktivis yang kerap menulis kritik kepada pemerintah untuk perbaikan pengelolaan sungai Nil, karena limbah yang terbuang dari kota mengalir ke Dimyath mengganggu kebersihan dan mengancam keselamatan para nelayan.

Untuk menulis surat itu, ia mendiktekan kepada cucunya Aisyah yang saat itu masih tidak suka dengan dunia literasi. Secara tidak langsung, Aisyah terus berusaha menguatkan uslub tulisannya demi memuaskan sang kakek.

Melanjutkan SMA dan Masuk Kuliah

Setelah menuntaskan masa belajar di SMP Thanta, ia kembali mati-matian meyakinkan sang ayah untuk mengijikannya melanjutkan ke Madrasah Mu'allimat Helwan. Dengan dukungan sang ibu dikuatkan saran mursyid thariqahnya Abu Haikal Al-Syarqawi, Aisyah mendapatkan lampu hijau.

Setelah lulus dengan tetesan keringat perjuangan, ambisinya tidak berhenti sampai titik ini. Sang ayah merestui dia menjadi guru di Madrasah Banat Manshuroh. Semangat mengajarnya terlihat dengan jam mengajar 34 jam dalam sepekan. Padahal, ia bercerita masa-masa awal mengajarnya lumayan menjenuhkan, karena hanya mengajar ekstrakulikuler. Itu yang mendorongnya belajar Bahasa Inggris dan Prancis kemudian mengajarkannya.

Keuletan dan kecerdasannya membuat kagum pengawas, maka dia dimutasi sebagai sekretaris di Kulliyah Banat di Giza. Dari sana, dia mendapatkan sertifikat yang mengantarkannya masuk ke gerbang Universitas Kairo. Dengan demikian, dia menjadi wanita ketiga sepanjang sejarah Mesir yang menjadi mahasiswi setelah Aminah Al-Sa'id dan Sahir Al-Qolmawi.

Keahliannya dalam menulis terus ia asah selama menjadi mahasiswi. Secara rutin, ia aktif mengirim naskah tulisannya kepada tim redaksi majalah. Tulisan-tulisan berupa cerita, puisi dan artikel kritis kebangkitan kaum wanita miliknya mulai tersebar sehingga dipinang untuk menjadi penulis tetap di Koran terbesar Mesir Al-Ahram tahun 1935. Untuk menjaga privasi, ia enggan menggunakan nama asli, ia memilih nama Bintu Syathi (Putri Pesisir) sebagai nama pena. Ketika masih duduk di tingkat 2, dia sudah menyelesaikan buku berjudul “Pedesaan Mesir”.

Aisyah lulus dari Fakultas Sastra Arab pada tahun 1939 M dengan nilai Mumtaz, skripsinya mengangkat penelitian terhadap karya Abu Al-‘Alā’ Al-Ma'arri yang berjudul “Al-Hayāh Al-Insāniyyah”. Kecerdasannya mengantarkan dia menjadi asisten dosen sembari melanjutkan kuliah pascasarjana. Tiga tahun berikutnya, ia meraih gelar Magister dengan nilai Summa Cumlaude dengan Tesis berjudul “Studi Kritis Risalah Al-Gufrōn”.

Dia menikah dengan dosennya Dr. Amin Al-Khuli, pemilik sanggar sastra dan pemikir terkenal di Madrasah Al-Umana. Dari pernikahan ini, ia melahirkan 3 orang anak.

Setelah menikah dia tetap melanjutkan studi hingga berhasil meraih gelar doktoral setelah berhasil mempertahankan disertasi dalam sidang yang diuji langsung oleh dekan fakultas, Prof. Dr. Thoha Husein pada tahun 1950.

Jabatan akademiknya sebagai dosen terus melejit, pada 1962 M dikukuhkan sebagai Profesor Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Ain Syams. Sementara di Universitas Al-Qorowiyyun Maroko dia diangkat menjadi guru besar tafsir tahun 1970 dan menghabiskan waktu mengajar di sana selama 20 tahun.

Guru Bintu Syathi’

Di antara dosen-dosennya yang berpengaruh: Prof. Musthafa Abdurraziq, Prof. Ahmad Luthfi Sayyid dan Prof. Thoha Husein. Termasuk juga orientalis Jerman yang masyhur, Yusuf Asy-Syahat. Bintu Syathi’ bercerita: “Asy-Syahat dosen kami, mengajar Fiqih dan Bahasa, saat mengajar dia disiplin mengenakan jubah kebesaran Al-Azhar.”

Yang paling berpengaruh dari guru-gurunya tentu saja Amin Al-Khuli. “Dia lebih dari seorang guru. Aku menemukan dari dirinya sosok pembimbing, sahabat dan teman. Meskipun aku tetap menghormatinya layaknya murid menghormati guru. Ketika aku merasa tak bisa jauh darinya karena keterikatan ruh, kesejalanan pemikiran dan saling pengertian, maka kami menikah.”

Karya-Karya Bintu Syathi’

Bintu Syathi’ meninggalkan lebih dari 40 karya keislaman, kesusastraan, sejarah serta riset teks-teks manuskrip. Di antara karyanya: Tafsir Bayāni li Al-Qur’ān Al-Karīm, Al-Qur’ān wa Qodhōya al-Insān, Sayyidāt Bait an-Nubuwwah (Biografi Ahlu Bait Wanita), Kajian Risālah Al-Gufrōn (Kritik Sastra atas Prosa milik Penyair dan Filosof Abu ‘Alā Al-Ma’arri. Al-Ma'ari dalam karyanya ini seolah berdialog melalui alam imajinasi dengan penyair-penyair besar pendahulunya seperti Zuhair bin Abi Sulma di surga dan Imru’ul Qois di Neraka), Analisa Syair-Syair milik Al-Khonsa’ (penyair Jahili), novel berjudul ‘ala Al-Jisr (otobiografi yang merekam kisah hidupnya, ditulis setelah meninggalnya sang suami dengan Bahasa yang puitis dan menyentuh), “Ksatrianita Karbala” (tentang kepahlawanan Sayyidah Zainab binti Ali bin Abi Thalib pada tragedi Karbala tahun 61 Hijriah).

Bintu Syathi' menyumbangkan gagasan-gagasan baru dalam sastra Arab, ia memiliki konsentarsi serius dalam ilmu Bahasa Arab, lantaran menurutnya: “50 % dari ilmu-ilmu Al-Qur’an adalah ilmu Bahasa Arab.”

Prestasi Bintu Syathi’

• Wanita pertama yang menulis tafsir

• Dosen Universitas Al-Qorowiyyun 20 tahun

• Penghargaan sastra Nasional Mesir 1978

• Medali dari kerajaan Maroko

• Pengharagaan Sastra dari Kuwait 1988

• Satu-satunya wanita yang diberikan jabatan di Lembaga Riset Islami Kairo, Al-Majalis Al-Qoumiyyah Al-Mutakhassishah.

• Lulusan mu'allimat terbaik se-Mesir 1929

• Mengajar di 9 negara, di setiap universitas menjadi dosen favorit dan mencetak ilmuan berkelas

• Serius mendalami ilmu humaniora dan Arab

Aisyah Bintu Syathi dan Emansipasi Wanita

Dalam setiap tulisannya, Bintu Syathi sangat kritis menyentil hukum-hukum yang zalim, sehingga ia patut digelari Mujāhidah (pejuang wanita). Medan jihad utamanya adalah memerdekakan kaum wanita dari cengkraman kebodohan yang membelenggu wanita Arab berabad lamanya.

Namun gerakan emansipasinya ini genuine dan proporsional dengan memegang teguh landasan syariat dan memerhatikan fitrah wanita, ia mengaku tidak ingin menyamakan lelaki dan wanita secara mutlak. Ia mengakui hukum yang sudah Qath'i dalam Al-Quran seperti kebolehan poligami, bagian warisan separuh dari bagian laki-laki dan sangsi suami kepada istri yang nusyuz.

Ia hanya ingin agar hak-hak saudari-saudarinya dikembalikan, hak-hak yang telah ditetapkan Islam namun dirampas oleh kaum laki-laki dengan kejahilan dan ambisi ingin menguasai dengan tabir agama, padahal sesungguhnya Islam sangat memuliakan wanita.

"Saya ingin memelihara hak yang telah diatur, bukan memberi hak kebebasan. Bedakan antara keduanya! Saya ingin wanita diberikan pendidikan yang layak dan diberikan hak berparsitipasi dalam perjuangan, bukan berarti saya mempersilakan mereka meminum khamar, pergaulan bebas dan menanggalkan prinsip malu."

Kritik Aisyah langsung menukik pada desakan perubahan undang-undang ahwal syakhsyiyyah tentang hak-hak istri dan ibu-ibu tua.

Wafat

Hidupnya ia habiskan untuk membela agama Allah, memperjuangkan hak kaum wanita dan mengangkat derajat mereka sesuai yang telah diatur oleh Islam. Akhirnya Allah Ta'ala meletakkan amanah itu dengan mengambil ruh sang mufassirrah Kitab Suci-Nya itu kepada rahmat-Nya pada 8 Desember 1998 setelah hidup dengan mengukir banyak prestasi yang membuat namanya abadi, tidak hilang terkubur bersama jasadnya.