Banyak kiai pintar atau ada wali yang punya keistimewaan, tapi justru yang mengambil manfaat ilmu dan doanya adalah orang dari luar daerahnya sendiri. Itu karena orang-orang terdekatnya lebih banyak melihat sisi 'basyariyyah' (sifatnya sebagai manusia biasa) dari pada 'khususiyyah' (keistimewaan). 

Menurut guru saya, yang demikian karena mereka melihat secara langsung bagaimana saat kentut, makan, ke kamar mandi, marah, susah, senang: hanya melihat aspek 'basyariyyah' inilah yang menjadi penghalang kita mendapat manfaat. Maka dikatakan, yang paling sedikit mendapat manfaat dari seorang syekh adalah justru istri dan anak atau yang mengurus urusan syekh tersebut.

اقل الناس نفعا بالشيخ زوجته وابنه ونقيبه لكثرة مشاهدتهم له ووقوفهم مع ظاهر بشريته دون الوصول الي معرفة قلبه وما فيه من الاسرار والمشاهد النفيسة

"Orang yang paling sedikit mengambil manfaat dari seorang syekh adalah istri, anak dan yang mengurus segala keperluannya. Karena intensitas melihat mereka yang terlampau sering, namun hanya terpaku pada aspek 'basyariah' (manusianya) semata, tidak sampai pada kemakrifatan hati syekh, rahasia serta fenomena menakjubkan di dalamnya." 

Abu Yazid al-Busthami mengatakan, "Siapa saja yang melihatku, ia masuk surga." Sebagian muridnya mempersoalkan, "Bagaimana bisa, sementara melihatnya Abu Jahal dan Abu Lahab pada nabi saja t  idak memberikan efek apa apa."

Abu Yazid menjawab, “Sebab mereka melihat Muhammad bukan sebagai Nabi, tetapi hanya sebagai anak yatim Abu Thalib."

Terkadang juga, seorang wali meninggal, namun baru dikenal ramai setelah ia meninggal: makamnya diziarahi orang banyak. Tapi saat masih hidup, ia bukanlah siapa-siapa di tengah masyarakatnya. Maka ada ungkapan, ada syekh atau wali yang memberikan manfaat pada orang yang masih hidup justru ketika sudah meninggal. Karena semasa hidup, orang yang sezaman hanya melihat sisi 'basyariyyah' saja.

لانهم يرون البشرية لا الخصوصية

"Mereka melihat sisi basyariyyahnya, bukan khususiyyahnnya."

Yang melihat aspek keistimewaannya hanya orang orang tertentu saja.

Quthb az-Zaman, al-Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, merupakan wali yang dianggap bukan siapa-siapa oleh manusia kebanyakan semasa beliau hidup. Hanya segelintir orang yang menimba ilmu.

Salah seorang muridnya mengatakan, bagaimana bisa, sosok sekaliber Abdullah Alawi al-Haddad tidak ada yang datang mendekat. "Diamlah, jika banyak orang tahu, maka kita tak akan bisa sedekat ini."