Esai

Rasulullah contohkan ‘Green Ramadan’

29 Mar 2024 01:20 WIB
1290
.
Rasulullah contohkan ‘Green Ramadan’ Rasulullah setia menempatkan saum pada makna aslinya, yakni sebagai momentum mengendalikan diri dari hasrat-hasrat duniawi.

Sudah menjadi tradisi umum, bulan puasa adalah masa di mana gaya konsumtif bisa dua kali lipat dibanding bulan-bulan yang lain. Makan-minum lebih banyak, belanja lebih banyak, dan jalan-jalan lebih banyak. Hal yang anehnya, kontras dengan spirit puasa itu sendiri yang secara bahasa bermakna menahan diri.

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) belum lama ini mengungkapkan bahwa timbunan sisa makanan dan sampah kemasan saat Ramadan melonjak hingga 20% dibanding bulan-bulan lain. Sungguh ironis, bulan yang dikoar-koarkan sebagai bulan pengendalian nafsu justru membangun lapangan luas guna melampiaskan nafsu konsumerisme dan hedonisme.

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menginformasikan bahwa komposisi sampah terbesar berupa sisa makanan atau sampah organik yang berkisar di angka 41%, sementara sampah plastik berkisar 18%. Adapun berdasarkan muasalnya, yang terbanyak berasal dari rumah tangga yang berkisar 39%, dari lokasi-lokasi perniagaan di angka 21%, sementara pasar tradisional 16%. Tidak aneh, jika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyerukan gerakan pengurangan (to reduce) limbah makanan (food waste) di bulan Ramadan, tak lain sebagai kontribusi menyehatkan lingkungan dan mencegah krisis iklim yang semakin parah. 

Limbah makanan sendiri merupakan sampah organik yang menghasilkan gas metana, yakni gas rumah kaca dengan dampak pemanasan 25 kali lebih dibanding gas karbon dioksida.

Disadari ataupun tidak, konsumsi secara berlebihan terhadap makanan dan lain sebagainya adalah sama halnya tindakan menyulut bom bunuh diri dalam menghancurkan planet ini. Hal ini juga berdampak langsung terhadap peningkatan laju perubahan iklim serta membuncahnya polusi udara yang banyak menguras dan mencemari support system kehidupan di bumi.

Puasa Nabi

Dibandingkan puasa Nabi, kualitas puasa kita tentu tidak ada apa-apanya. Bukan hal sulit bagi manusia pada umumnya untuk menghabiskan sepanjang hari tanpa mencicip makanan dan menegak air. Tetapi mafhum diketahui, puasa bukan cuma soal itu.

Tulisan singkat ini hendak merefleksikan dan mencari benang merah yang mempertemukan suluk Rasulullah dengan Ramadan, serta niat mulia umat Islam dalam menggunakan bulan ini sebagai tolok ukur dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Rasulullah mengisi Ramadan dengan pengabdian penuh terhadap Allah Swt., siang malam beliau lalui dengan berzikir seraya mendoakan umatnya. Perlu diingat, hubungan 'mesra' Rasulullah dengan Ramadan tidak bermula ketika kewajiban berpuasa disyariatkan, beliau sudah memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan bulan suci ini jauh sebelumnya. Pada bulan Ramadan itulah beliau bertahanuts mengasingkan diri di gua Hira di pinggiran kota supaya memperoleh ‘sinyal’ kuat dengan Maha Pencipta, beliau menggunakan bulan ini sebagai sumber inspirasi dan ketenangan, hingga tiba di sebuah detik, dikelilingi alam indah Jabal Nur, di perbukitan Makkah, dalam isolasi mandiri, untuk pertama kalinya beliau menerima wahyu berupa Al-Quran.

Semenjak puasa disyariatkan, Rasulullah sudah setia menempatkan saum pada makna aslinya, yakni sebagai momentum mengendalikan diri dari hasrat-hasrat duniawi. Hal yang bisa langsung dicontoh oleh segenap umatnya. Dalam sahur, misalnya, tidak ada ceritanya beliau mencontohkan laku berlebihan dalam mengonsumsi makanan. Alih-alih beliau menekankan bahwa sahur merupakan bagian dari ibadah puasa yang mengandung keberkahan. Salah satu hadis dijelaskan dari Abdullah bin Harits dari seorang sahabat yang berkata, "Aku masuk menemui Nabi saw. ketika beliau tengah menyantap sahur, beliau (Rasulullah) berkata: "Sesungguhnya menyantap sahur adalah keberkahan yang Allah anugerahkan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan."

Tidak jauh berbeda dengan aktivitas makan pada umumnya, sahur seyogyanya diisi dengan makan secukupnya. Tidak berlebihan.

Banyak yang menyantap sahur semampu dan sebanyak mungkin karena beranggapan dengannya dapat lebih ringan menjalankan puasa, tetap perkasa dan berstamina. Padahal hal tersebut justru berpotensi menimbulkan masalah pencernaan, lebih-lebih tidak sejalan dengan prinsip Islam yang sangat membenci laku israf (overdosis atau berlebih-lebihan), ditambah lagi jika menyisakan makanan yang berujung menjadi limbah yang memenuhi tempat sampah.

Seperti halnya berbuka, kurma dan air putih adalah menu favorit Rasulullah ketika sahur. Dalam hadis yang antara lain diriwayatkan Abu Dawud, beliau bersabda: "Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah kurma."

Abad-abad belakang dunia sains mengungkap bahwasannya kurma mengandung gula alami yang sangat baik jika dikonsumsi lebih-lebih sebelum berpuasa. Kandungan kalori, serat, zat besi, serta karbohidratnya berperan memasok energi dan menjaga stamina tubuh dalam waktu cukup lama.

Namun sayang, sebagian besar orang hanya fokus dengan kurma dan menu-menu lain yang beliau konsumsi saja, tanpa mengindahkan takaran dan model beliau dalam bermuamalah dengan makanan. Sehingga sangat wajar, jika seseorang merasa telah menjalankan sahur seperti Rasulullah meski (sebelum menelan kurma) telah ia penuhi perutnya dengan bermacam makanan melebihi kemampuan tubuhnya, hingga kemudian, menyisakan limbah yang tidak layak lagi disantap ketika berbuka.

Meski membaca Al-Quran sudah menjadi kebiasaan sehari-hari Rasulullah sepanjang tahun, beliau meningkatkan porsi bacanya ketika Ramadan. Bahkan, banyak riwayat beliau meminta para sahabatnya melantunkan untuk beliau simak.

Kebiasaan mendaras Al-Quran, mengkaji kandungannya, mengenal penafsiran para ulama, jika dapat secara rutin dikerjakan, sekilas adalah hal yang wajar, namun bila diamati dampaknya dalam konteks hari ini, akan tampak jelas Ramadan dapat menjadi bulan paling hemat energi, bulan paling ‘hijau’, lantaran mengurangi penggunaan perangkat berbasis energi listrik sembari membentengi diri dengan energi spiritual. Pemborosan energi adalah hal paling membahayakan lingkungan hari ini. Kita butuh banyak membaca dan sedikit berselancar di dunia maya.

Lazim dipahami bersama, signifikansi dan arti penting berlaku derma dengan cara berbagi pada bulan Ramadan. Laku derma sudah dicontohkan Rasulullah bahkan sebelum diangkat sebagai utusan, lama sebelum itu beliau sudah membiasakan diri berlaku derma dan menyayangi kaum yang lemah.

Terkandung banyak hikmah dalam melatih diri berlaku derma di bulan puasa, hal ini disadari oleh setiap muslim. Yang perlu ditanamkan dalam kesadaran adalah, bahwasannya, berlaku derma sejatinya tidak terbatas pada mata uang dan benda material. Sebagai contoh, seorang muslim dapat berlaku derma dengan berbagi waktu dan tenaganya untuk menjaga kesehatan dan memakmurkan lingkungan sekitarnya.

Pelajaran penting yang dapat ditarik dari sosok Rasulullah dalam kaitannya beramal di bulan puasa adalah meninggalkan materi yang berpotensi merusak bumi serta diri sendiri, sehingga dapat mempersembahkan segenap waktu yang ada demi kepentingan ukhrawi. Meningkatkan spiritualitas.

Tidak sedikit hadis meriwayatkan Rasulullah -seperti halnya ketika sahur– gemar berbuka dengan beberapa biji kurma, buah-buahan, air putih, juga terkadang susu. Sangat sederhana dan bersahaja. Dengan kesederhanaan serupa juga beliau lakukan ketika bukber dengan kerabatnya, lebih-lebih bersama mereka kalangan papa dan tidak punya. Beliau tidak segan-segan mengulurkan menu berbukanya untuk orang miskin yang tiba-tiba mendatanginya saat berbuka.

Lantas, pantaskah mengaku telah meniru cara Rasulullah berbuka hanya karena mengunyah kurma begitu Maghrib tiba, sementara di hadapan kita berpanci-panci jenis makanan menunggu disantap dan siap menjejali keranjang sampah keesokan harinya?

Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 48 Artikel

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Al-Hikmah Purwoasri, Walisongo Sragen, Al-Ishlah Bandar Kidul, Al-Azhar Kairo, dan PTIQ Jakarta. Saat ini mengabdi di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: