Anggapan mengenai Islam yang tersebar luas, berawal dari Arab menyebar ke berbagai belahan dunia dengan cara pembantaian, sudah menjadi isu yang basi. Anggapan ini mudah ditepis baik dengan fakta sejarah maupun dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Akan tetapi anggapan atau praduga tentang pandangan kuno Islam terhadap kaum wanita, kedudukan dan penghargaan terhadapnya hampir tidak berubah dari masa ke masa. Anggapan ini telah berakar kuat pada pikiran banyak orang terutama di Barat.

Shaciko Murata di dalam penelitiannya membahas tentang relasi gender, salah satunya dari prespektif kosmologi. Berbekal keilmuan yang luas, peneliti menyadari bahwa ia terlebih dahulu harus melihat tentang kedudukan wanita melalui prespekti Timur Jauh, ia merasa perlu kembali menengok tentang ajaran I Ching dan ajaran-ajaran China lainya yang membahas kaum wanita secara umum. Karena hal tersebut dapat menjembatani pemahaman tentang kedudukan wanita dalam Islam.

Dari prespektif ilmu keislaman, Sachiko merasa tidak memungkinkan untuk membahas kedudukan wanita dari prespektif syariah. Sachiko lebih melihat ini dari perspektif tradisi intelektual Islam, karena mereka banyak menjelaskan tentang Islam sebagai “sebab”bukan sekadar “bagaimana”. Para intelektual Islam yang kebanyakan kelompok ini dikategorikan sebagai sufibanyak membahas tentang hal-hal fundamental termasuk tentang hakikat gender dalam matriks realitas tertinggi. Sebenarnya para inteletual Islam, seperti al-Ghazali, telah menyadari dan mengingatkan para ulama fikih yang hanya memandang dan menilai sesuatu melalui satu dimensi saja.

Kosmologi sebagai suatu pendekatan merupakan hal yang belum begitu familiar pada awalnya. Namun dalam masalah Relasi Gender ditemukan hal-hal menarik dari kacamata ilmu Kosmologi. Dimulai dari realita kosmik yang paling terlihat yaitu Langit dan Bumi. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu berpasang-pasangan, dalam artian seseuatu yang berpasangan adalah dua realitas yang berbeda namun saling melengkapi. Al-Qur’an pun dalam menyampaikan sesuatu sangat sering menyebutkanya secara berpasangan. Pasangan yang paling sering disebutkan oleh al-Qur’an dengan cara berpasangan adalah langit dan bumi. Langit dan bumi adalah dua titik acuan dasar dunia, yang kemudian menjadi istilah yang korelatif dalam maknanya. Dalam penyebutan langit dan bumi, al-Qur’an juga seringkali menyertakan kalimat “an yang ada di antara keduanya”yang dapat diartikan sebagai sinonim “sepuluh ribu hal”yang lahir dari Yin dan yang dalam tradisi Tao.

Selanjutnya tentang perkawinan makrokosmik antara langit dan bumi, hubungan antar keduanya adalah hubungan yin dan yang. Keduanya bagai suami dan istri atau ayah dan ibu yang saling melengkapi meskipun keduanya adalah realita yang berbeda. Ibnu Arabi di dalam tafsiran ayat “Kepada setiap langit diwahyukan jalan masing-masing,”berkata:

“Dan dia menjadikan bumi layaknya Istri dan langit layaknya suami. Langit memberikan kepada bumi sebagian dari perintah yang diwahyukan, sebagaimana pria memberikan air ke dalam diri wanita melalui senggama. Ketika pemberian itu berlangsung bumi mengeluarkan seluruh strata-strata benda yang dilahirkan yang telah disembunyikan Tuhan di dalamnya.

Perkawinan atau hubungan seksual makrokosmik menurut Ibnu Arabi dan juga para pengikutnya bukanlah suatu fenomena manusiawi. Melainkan sebagai kekuatan produktivitas universal yang terdapat di dalam setiap tingkat eksistensi, mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil seperti atom. Dari tingkat yang paling tinngi adalah apa yang kemudian disebut dengan “perkawinan ilahi “, yaitu tatkala Tuhan menciptakan suatu benda, maka tuhan dan benda non-konsisten diibaratkan seperti  pria dan wanita, sementara benda eksisten yang lahir dari penyatuan itu adalah anak. Dalam hal ini Ibnu Arabi memberikan komentarnya: “yang pertama dari para ayah yang tinggi adalah sangat jelas. Yang pertama dari para ibu yang rendah adalah yang mungkin dan non-eksisten.

Contoh yang menonjol tentang perkawinan seluruh atom menurut Ibnu Arabi adalah perkawinan antara lemabaran dan pena. Perkawinan ini adalah dua prinsip eksitensi ruhani yang melaluinya dimunculkan seluruh kosmos. Maka sebagaimana di dunia manusia membutuhkan Adam dan Hawa, demikian pula di dalam kosmos membutuhkan Adam ruhaniah dan Hawa ruhaniah untuk melahirkan Langit, bumi dan segala sesuatu yang ada diantaranya.

“Suatu perkawinan supraindrawi yang masuk akal terjadi antara pena dan lembaran. Jejak yang tersimpan di dalam lembaran itu seperti air mani yang dikeluarkan dan dimasukkan kedalam rahim wanita, makna–makna yang tersimpan di dalam huruf-huruf langit yang menjadi terwujud karena tulisan itu adalah seperti ruh-ruh dari anak-anak yang tersimpan di dalam badan-badan mereka.”

Di dalam hubungan antara pena dan lembaran, atau hubungan antara langit dan bumi adalah sinonim hubungan yin dan yang dalam tradisi Tao. Pena dan langit sebagai pemberi pengaruh (Muatstsir) adalah yang, bumi dan lembaran yang menerima pengaruh tersebut adalah yin. Kemudian dalam hubungan dengan tuhan, pena dan langit adalah yin dan tuhan adalah yang. Dan pada suatu tingkatan yang lain bumi dan lembaran adalah yang bagi eksistensi-eksistensi di bawahnya. Dalam hal ini sebagaimana digambarkan oleh Ikhwan al-Shafa’:

 “Hubungan antara jiwa dan akal adalah seperti hubungan antara kecemerlangan bulan dan cahaya matahari, sementara hubungan antara akal dan sang pencipta adalah seperti hubungan cahaya matahari dan matahari itu sendiri, jika bulan dipenuhi oleh cahaya matahari, ia menyamai matahari dalam cahayanya. Demikian pula, ketika jiwa menerima limpahan akal sehingga keunggulan-keunggulanya menjadi sempurna, ia menyamai akal dalam tindakan-tindakanya.”

Kemudian beranjak kepada perkawinan Mikrokosmik antara manusia pria dan wanita, pandangan Islam tentang perkawinan manusia banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an dan al-Hadist yang keseluruhannya adalah menilai positif terhadap pernikahan atau hubungan seksual. Begitupun para sufi dan tradisi intelektual Islam merangkum pandangan Islam terhadap perkawinan dengan nilai positif. Al-Ghazali misalya memaparkan lima manfaat pernikahan yaitu: mempunayi anak, melindungi agama dan membatasi nafsu, membangun rumah tangga dan melatih diri sendiri dalam melatih watak yang baik. Secara garis besar manfaat-manfaat ini tidak menyentuh aspek hubungan seks yang banyak dipaparkan sufi yang lain, karena al-Ghazali dalam hal ini sedang menghadapi konteks masyarakat umum.

Kemudian mengenai derajat antara pria dan wanita, salah satu ayat terkenal dalam hal ini adalah fiman Allah Swt: “Kaum pria satu derajat lebih tinggi daripada mereka (kaum wanita).” Bagian itu terdapat pada sebuah ayat panjang yang membahas tentang hukum perceraian. Maybudi’ dan beberapa penafsir lainya dalam menjelaskan ayat ini bahwa hak kaum pria terhadap wanita sama persis seperti hak kaum wanita terhadap laki-laki, hanya saja kaum pria mempunyai satu tingkat lebih tinggi daripada kaum wanita, yaitu melalui perjanjian untuk menafkahi dan memberikan dukungan kepada kaum wanita.

Posisi berbeda ditunjukkan Ibnu Arabi dalam salah satu bagian tulisannya. Dia menjelaskan bahwa dalam hubungan antara pria dan wanita, pria tidak berdaya tanpa adanya wanita, wanita adalah mikrokosmos yang bisa memusatkan pada dirinya realitas resepif yang ada, wanita menyatukan pada dirinya kekuatan dari seluruh kosmos. Ibnu Arabi menjelaskan mengenai kejadian Hafsah dan Aisyah dengan Nabi Muhammad Saw: “Tuhan telah menunjukkan kekuatan yang menonjol dari wanita dalam firman-Nya berkenaan dengan Aisyah dan Hafshah: “jika kalian berdua bersatu untuk melawanya (Nabi), Tuhan adalah pelindungnya, beserta Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan sesudah itu para malaikat pun mendukungnya.” Semua ini adalah untuk melawan kekuatan dua orang wanita. Dan di sini Tuhan hanya menyebutkan yang kuat, mereka yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan.

Ibnu Arabi dalam banyak bagian tulisanya yang membahas derajat pria dan wanita, tidak memandang dari aspek penerapan-penerapan sosial, malinkan pada makna kosmologi dan metafisik. Artinya ia ingin menunjukkan apa yang ada dalam hakikat realitas yang menentukan tingkat ini. Sebagaima dikemukakannya: “derajat itu bersifat ontologis (wujudi), sehingga ia tidak hilang .” Ibnu Arabi menyamakan kedudukan antara pria dan wanita seperti kedudukan langit dan bumi. Wanita sama seperti bumi dalam hal menjadi lokus yang menerima aktifitas. Tingkat pria dipengaruhi oleh dominasi yang pada dirinya dan tingkat wanita dipengaruhi dominasi yin. Adapun mengenai ketentuan syariat (taklif) yang diberikan Allah Swt kepada pria dan wanita adalah sama dan setara.

 Hal lain yang tentang wanita yang diungkapkan oleh para sufi seperti Ibnu Arabi dan para pengikutnya adalah tentang penyaksian tuhan. Perenungan dan penyaksian wanita merupakan jenis persaksian sempurna yang diberikan kepada manusia. Para sufi menjelaskan tentang hal ini dengan kapasitasnya sebagai seorang ahli makrifah, bukan sebagai ahli pikir rasional. Ibnu Arabi menjelaskan:

“Ketika pria menyaksikan yang maha nyata dalam diri wanita, inilah penyaksian dalam suatu lokus yang menerima aktifitas, ketika pria menyaksikan Dia dalam dirinya sendiri dalam kaitannya dengan kenyataan bahwa wanita terwujud darinya.”

“Maka penyaksiannya atas yang nyata dalam diri wanita adalah yang paling lengkap dan paling sempurna, sebab ia menyaksikan yang nyata dalam kaitannya dengan kenyatan bahwa Dia sekaligus seorang wakil dan lokus penerima aktifitas.”

Pendapat Ibnu Arabi ini kemudian dikomentari dengan penjelasan yang berkembang dan panjang oleh para muridnya atau murid dari muridnya seperti Jandi, Qasyari dan Abdurrahman Jami’.