Esai

Sehari bersama Salman Chisty di Yogyakarta: Menjelajah sejarah, berziarah, dan menelusuri berkah

08 Aug 2023 05:04 WIB
765
.
Sehari bersama Salman Chisty di Yogyakarta: Menjelajah sejarah, berziarah, dan menelusuri berkah Salman Chisty dan guide idola, Gus Muhyiddin Basrani.

Salman Chisty, seorang mursyid tarekat Chisty yang cukup terkenal di India, menjadi salah satu delegasi peserta ASEAN-NU Intercultural and Interreligious Dialogue Conference 2023 yang diselenggarakan oleh PBNU di Jakarta pada Senin-Selasa, 7-8 Agustus.

Acara ini dihadiri perwakilan tokoh agama dari berbagai negara di ASEAN, ditambah berbagai tokoh cendekiawan dan akademisi dalam bidang dialog antar budaya dan agama. Salah satu side event dalam acara ini adalah peluncuran buku “Proceedings the R20” yang diadakan di UGM, Yogyakarta.

Dalam kesempatan kunjungan di Yogyakarta, sehari setelah selesainya agenda peluncuran buku, secara personal, Syed Salman Chisty meminta untuk ditemani ziarah makam wali dan tempat bersejarah di sekitar DIY.

Setelah berkoordinasi dengan panitia, private tour Ziarah untuk Syed Salman ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Agustus 2023, dengan ditemani oleh dua orang pendamping dari IKANU Mesir dan seorang driver. Ada banyak hal menarik dalam ziarah ini yang layak untuk diceritakan dan menjadi catatan penting.

Tarekat Chisty adalah salah satu dari empat tarekat pertama yang muncul dalam peradaban Islam. Empat tarekat tersebut adalah Chisty, Suhrawardi, Qadiri, dan Naqsabandi. Syed Salman merupakan keturunan dari Mu’inuddin Chisti, salah satu tokoh tarekat Chisty yang membangkitkan dan mengembangkan tarekat Chisti di wilayah Asia Selatan.

Syed Salman juga merupakan pimpinan Chisty Foundation, dan pemegang kunci penjagaan untuk makam Syaikh Mu’inuddin Chisty yang menjadi salah satu tempat tujuan ziarah wali di wilayah India.

Menurut peneliti Islam di Nusantara, Dr. Ginanjar Sya’ban, Syaikh Mu’inuddin Chisty pernah berguru kepada Syaikh Najmuddin Kubro, meski keduanya hampir seumuran. Syaikh Najmuddin Kubro adalah pendiri tarekat Kubrowiyah yang banyak diikuti oleh Walisongo.

Syed Salman juga salah satu pengagum berat Walisongo, bahkan, ketika begitu sampai di Yogyakarta, beliau sempat berujar keinginan kuatnya untuk mengetahui lengkap cerita Walisongo, karena salah Walisongo ada yang berasal dari wilayah Gujarat, yang sekarang masih mencakup wilayah Rajashtan, tempat tinggal Syed Salman.

Ziarah bersama Syed Salman ini menjelajah jejak para wali, serta sejarah Mataram Islam di sekitar Yogyakarta.

Rute ziarah ini, menurut Gus Muhyidin, adalah rute menjejaki jejak simbol keislaman dan budaya jawa di Yogyakarta, masjid Pathok Nagara dan juga masjid Gedhe di pusat pemerintahan istana kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masjid Pathok Nagara adalah masjid yang berada di empat penjuru kesultanan Ngayogyakarta, dengan masjid Gedhe sebagai titik tengah. Masjid Pathok Negara bukan hanya menjadi simbol penjagaan terhadap kesultanan Ngayogyakarta, namun juga difungsikan sebagai sarana kesultanan untuk mengurusi bidang hukum keagamaan Islam.

Terdapat empat masjid pathok negara di Yogyakarta: Masjid Mlangi sebagai pathok di bagian barat, Masjid Plosokuning sebagai pathok di daerah utara, Masjid Babadan sebagai pathok di wilayah Timur, dan Masjid Nurul Huda Dongkelan sebagai pathok di daerah selatan. Sebagai seorang pegiat kajian antar budaya, Syed Salman cocok untuk menelusuri jejak sejarah dan wali di sekitar wilayah kota Yogyakarta ini.

Tujuan pertama Ziarah bersama Syed Salman Chisty ini adalah Masjid Nurul Huda Dongkelan, masjid Pathok Negara di bagian selatan.

Setiba di Masjid, beliau langsung mengajak untuk menuju makam K.H. Munawwir, pendiri pondok pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

Suasana menjelang sholat dzuhur di kompleks pemakaman keluarga Kiai Munawwir Krapyak ini sangat menentramkan, ada beberapa santri sibuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Syed Salman memimpin doa. Selesai doa, iqamat berkumandang, dan Syed Salman menuju masjid melaksanakan sholat. Seusai sholat dzuhur, Syed Salman melihat beberapa peninggalan masjid Nurul Huda berupa Mustaka masjid sebelumnya yang digunakan pada masa sebelum renovasi, pada tahun 1875. Mustaka seperti mahkota yang diteletakkan di ujung atas atap masjid. Mustaka masjid Nurul Huda Dongkelan di masa lalu pernah ada yang terbuat dari tanah liat.

Tujuan berikutnya adalah masjid Gedhe Kauman. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1773 M adalah masjid yang terletak di dekat istana kesultanan Ngayogyakarta dan menjadi titik tengah dari masjid-masjid lain yang dibangun oleh kesultanan Ngayogyakarta.

Syed Salman sempat mengungkapkan kekagumannya kepada gaya arsitektur masjid Gedhe yang didominasi oleh kayu. Dari kekagumannya tersebut, Syed Salman sempat berujar ingin membawa pulang souvenir ukiran kaligrafi kayu asli dari Indonesia.

Di samping masjid, ada sekelompok anak-anak SD sedang latihan untuk pertunjukan saat karnaval kemerdekaan RI, 17 Agustus. Syed Salman sangat tertarik untuk merekam aktivitas anak-anak ini karena mereka menampilkan tarian dengan diiringi dengan lagu India.

Syed Salman sempat bercengkrama bersama anak-anak tersebut dan mendoakan agar mereka yang sedang bersekolah, belajar ilmu apapun akan bermanfaat dan mendapatkan keberkahan dari ilmu.

Dalam perjalanan menuju tujuan berikutnya, di dalam kendaraan Syed Salman sempat berujar bahwa Masjid Gedhe Kauman adalah masjid yang memiliki kesan kekuatan yang sangat kuat.

“I feel this masjid is very powerfull, very strong masjid,” kata Syed Salman.

Syed Salman terkesan dengan kuatnya energi yang beliau rasakan saat di dalam masjid Gedhe Kauman. Terlebih saat Syed Salman mengetahui bahwa atap susun tiga masjid Gedhe adalah simbol dari syariat, tarekat, dan ma’rifat.

Begitu juga Mustaka Masjid Gedhe yang melambangkan Keesaan Allah yang dilambangkan dengan bentuk Gadha, kelebihan seorang hamba saat mampu melewati tiga tahapan ilmu tassawuf yang dilambangkan dengan bunga kluwih, dan kebaikan akhlak seorang hamba yang dilambangkan dengan bunga gambir yang mekar dan semerbak baunya. Syed Salman sempat berkali-kali mengambil foto atap dan mustaka Masjid Gedhe ini.

Selepas berkunjung ke Masjid Gedhe, Syed Salman yang ditemani oleh dua orang pendamping tamu dari IKANU Mesir dan seorang driver, melanjutkan perjalanan menuju masjid Mlangi. Sesampainya di Masjid Mlangi, Syed Salman langsung ingin diantar menuju makam Kiai Nur Iman Mlangi.

Di depan makam Kiai Nur Iman Mlangi, Syed Salman memimpin doa, lalu mencoba mengelilingi ruang makam. Pendamping Syed Salman, Muhyidin Basrani, menerangkan kepada Syed Salman tentang hal-hal yang berkaitan dengan Kiai Nur Iman dan makamnya ini menggunakan bahasa Inggris.

Muhyidin menerangkan kepada Syed Salman tentang arti tulisan arab pegon jawa yang berada tepat di atas pintu makam, tulisan tersebut adalah identitas dan gelar Kiai Nur Iman. Tulisan tersebut adalah:

Ba’, Fa’, Ha’ Sandiyo

Nur Iman bin Amangkurat

Jawa Kartasura

Ba’ Fa’ Ha’ adalah singkatan dari Bendoro (Tuan), Pangeran, Haryo (Santri) Sandiyo adalah nama muda dari Kiai Nur Iman yang merupakan anak dari Amangkurat IV dari Kesultanan Kartasura.

Menurut Muhyidin, pendamping Syed Salman dari IKANU Mesir yang sekaligus pegiat kajian budaya, nama ini adalah gelar kebangsawanan dari Kiai Nur Iman. Keitka Kiai Nur Iman lahir, belum ada kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sultan Hamengkubuwana I, sultan pertama Ngayogyakarta adalah adik dari Kiai Nur Iman Mlangi. Muhyidin menambahkan bahwa Kiai Nur Iman sebenarnya adalah seorang pangeran yang memilih jalur menjadi seorang ulama, terang Gus Muhyidin kepada Syed Salman dengan menggunakan bahasa Inggris.

Kiai Nur Iman adalah seorang tokoh pangeran yang menepi dari huru-hara politik dan lebih memilih untuk mengajarkan agama kepada masyarakat. Setelah mangkatnya Sultan Hamengkubuwana I, dan digantikan oleh Raden Mas Sundoro dengan gelar Hamengkubuwana II, Kiai Nur Iman kemudian mengusulkan dibangunnya empat masjid pathok nagari, sebagai pelengkap masjid Gedhe di pusat pemerintahan kesultanan.

Kiai Nur Iman kemudian menempatkan ketiga putranya sebagai imam di tiga masjid lainnya. Kiai Mursodo ditempatkan di bagian utara, masjid Plosokuning, Kiai Karang Besari di Masjid Babadan (sebelah barat), dan Kiai Hasan Besari di Masjid Dongkelan.

Pathok Nagari pada awalnya adalah istilah jabatan dalam keraton Ngayogyakarta yang membantu tugas Sultan HB I dalam perkara keagamaan. Dalam bidang keagamaan, terdapat struktur hierarkis mulai dari Penghulu, Abdi Dalem Suronoto, dan Pathok Nagari.

Pathok Nagari secara praktis menjadi seorang konsultan untuk Penghulu yang bertindak sebagai kepala bidang keagamaan di sub-wilayah yang ditentukan oleh Kesultanan. Dalam mewujudkan tugasnya, Pathok Nagari kemudian dibangunkan masjid sebagai sarana beribadah dan tanda tapal batas wilayah kota (nagari) Ngayogyakarta.

Di salah satu sudut makam terdapat jalur nasab Kiai Nur Iman yang nasabnya masih bersambung pada Walisongo dan bersambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Syed Salman sangat tertarik ketika mengetahui bahwa K.H. Nur Iman memiliki ketersambungan nasab kepada Walisongo. Karena Syed Salman adalah salah satu tokoh yang sangat mengagumi Walisongo. Terlebih pada cara Walisongo menyebarkan Islam di Tanah Jawa yang mengakomodir kebudayaan lokal dan berhasil menyebarkan Islam dengan melalui budaya.

Syed Salman sempat berkunjung ke makam Sunan Ampel di Surabaya, dan memiliki keinginan kuat untuk berkunjung ke makam Walisongo yang lain jika memiliki kesempatan. Sembari menelaah jalur nasab Kiai Nur Iman yang terdapat nama-nama Walisongo.

Muhyidin bercerita tentang salah satu Walisongo, Sunan Bonang, yang memiliki nama Syaikh Ja’far Shadiq yang berdakwah dengan menggunakan bonang. Kebetulan, di hotel yang digunakan untuk menginap para tamu terdapat pertunjukan alat musik bonang yang ditabuh oleh robot secara otomatis dan menjadi pertunjukan untuk setiap tamu.

Syed Salman terkesan dengan cerita bagaimana Walisongo, seperti Sunan Bonang yang menggunakan tradisi lokal sebagai sarana dakwah menyebarkan Islam dan berhasil. Bonang, alat music tradisional khas Jawa yang digunakan oleh Sunan Bonang untuk berdakwah.

Ketika di kendaraan saat menuju tujuan berikutnya, Syed Salman sempat mengungkapkan, bahwa beliau merasakan ada kesan tarekat yang kuat saat berada di makam Kiai Nur Iman.

Menurut Syed Salman, Kiai Nur Iman adalah sosok ulama yang memiliki sisi tassawuf luar biasa. Syed Salman sempat berujar, “ketika di makam K.H. Munawwir, saya merasakan kesan syari’at yang kuat, dan ketika di makam K.H. Nur Iman, saya merasakan kesan tarekat yang sangat kuat.”

Syed Salman juga mengungkapkan bawah keterikatan muslim India dengan Indonesia ini sebenarnya sangat erat, harus terus diperkuat di masa kini. Muhyidin kemudian menimpali, salah satu buktinya adalah kata Pesantren yang berasal dari kata Santri. Kata santri ini berasal dari bahasa sansekerta “sastri”.

Menurut Syed Salman, dalam tradisi lokal India di wilayah Rajastan, sastri adalah nama ketiga yang disematkan kepada seseorang yang bisa membaca (literatur). Syed Salman terkagum ketika mengetahui penyebutan untuk lembaga pendidikan Islam di Indonesia berasal dari kata ini.

Begitu juga ketika Gus Muhyidin menceritakan tentang Kesultanan Ngayogyakarta yang juga sering disebut sebagai Mataram Islam pasca perjanjian Giyanti, Syed Salman sempat bertanya “Apakah arti Mataram yang kamu sebutkan itu? Apakah itu artinya ‘ibu’ seperti yang dikenal oleh orang-orang India?”

Muhyidin kemudian mencoba melihat beberapa literatur, dan ternyata benar, salah satu arti kata mataram adalah ‘mother of joy’ (ibu dari kebahagiaan).

Perjalanan kemudian berlanjut menuju makam di sekitar Masjid Plosokuning. Masjid Plosokuning adalah masjid yang pertama kali dibangun sebagai pathok nagari, masjid pathok nagari yang tertua dibandingkan dengan tiga masjid lainnya.

Menuju masjid Plosokuning ini, rombongan diantar oleh Gus Rajif Danial, salah satu keturunan Kyai Mursodo bin Kiai Nur Iman yang dimakamkan di sekitar masjid Plosokuning.

Setibanya di masjid, rombongan disambut oleh imam masjid Plosokuning, Kiai Arsyadi Chorudin. Kiai Arsyadi kemudian menemani memasuki area makam. Setelah berdoa di samping makam Kiai Mustofa bin Kiai Mursodo, Syed Salman kemudian beranjak keluar, tiba-tiba di depan pintu ruang makam, Syed Salman berujar,Saya merasakan aura Al-Jalal yang kuat di sini, beliau yang dimakamkan di sini pasti lah orang yang kuat khalwatnya. Di mana goa yang digunakan oleh Syaikh Mustofa untuk berkhalwat?”

Gus Muhyidin yang sedari awal mendampingi cukup terheran dengan pertanyaan Syed Salman ini, karena selama perjalanan, tidak ada yang menceritakan tentang riwayat hidup Kiai Mustofa ini.

Terlebih, para pendamping Syed Salman juga tidak bernar-benar tidak mengetahui jika di sekitar masjid Plosokuning terdapat sebuah goa.

Setelah pertanyaan tersebut diterjemahkan dan disampaikan kepada Kiai Arsyadi, Kiai Arsyadi menjawab, “benar, memang ada goa di sebelah utara makam yang di dalamnya terdapat batu seukuran untuk tempat sholat, dan di sebelah selatan terdapat sumur barokah.”

Kiai Arsyadi menjawab dengan nada penuh keheranan darimana Syed Salman dapat mengetahui keberadaan goa tersebut.

Setelah beranjak dari makam Kiai Mursodo, warga sekitar masjid memepersilahkan Syed Salman dan rombongan untuk duduk dan dijamu. Sembari menyantap hidangan ringan, Syed Salman kemudian berujar,Aura yang saya rasakan di sini ini biasanya karena syaikh yang dimakamkan di sini sering melakukan dzikir yang kuat, dzikir yang tidak bisa dilakukan di depan publik, dan syaikh Mustofa ini adalah orang seorang perindu berat kepada Nabi Muhammad SAW.”

Kiai Arsyadi setelah mendengar penjelasan Syed Salman yang diterjemahkan oleh Muhyidin menjawab, Betul sekali, suasana kerinduan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW diwariskan hingga masa kini. Terdapat agenda rutin pembacaan Maulid Syaroful Anam yang dibaca dengan langgam Jawa dengan nada yang setinggi-tingginya sebagai bentuk simbol kerindungan yang amat berat kepada Kanjeng Nabi. Hal ini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga sekarang.”

Sekali lagi perkataan Syed Salman cukup jitu dan sesuai dengan realita meski sebelumnya belum ada yang menceritakan hal ini kepada Syed Salman. Kiai Arsyadi menambahi, di kompleks pemakanan Kiai Mustofa memang terdapat beberapa makam mursyid tarekat, di antaranya mursyid tarekat Qadiri, dan mursyid tarekat Naqsabandi.

Setelah berkunjung ke majid Plosokuning, rombongan Ziarah ini kemudian menuju hotel Marriott. Di sela-sela perjalanan pulang, Syed Salman mengulangi kembali tentang bagaimana hubungan budaya Islam Indonesia dan India harus terus diperkuat, ada kesamaan akar dan ikatan yang kuat.

NU di Indonesia, dianggap Syed Salman dapat banyak membantu perkembangan muslim di Indonesia. Mengingat akhir-akhir ini cukup banyak konflik yang terjadi di kalangan masyarakat India yang terjadi antar etnis dan agama.

Di sela-sela perjalanan pulang, untuk mengisi waktu di tengah kemacetan sore kota Yogyakarta, Gus Muhyidin memberikan persembahan tiga lagu yang dinyanyikan khusus untuk Syed Salman. Lagu pertama adalah “Tukuja Man Kuja”, sebuah lagu berbahasa Farsi (menurut Syed Salman), yang ditulis oleh Muzaffar Warsi. Lagu ini berisi tentang pujian untuk Nabi Muhammad SAW.

Lagu kedua berjudul “Maula Tera Noor”, lagu ini berisi tentang permohonan agar mendapatkan cahaya Tuhan dalam menjalani lelaku di dunia. Lagu ketiga yang dipersembahkan adalah lagu yang menjadi original soundtrack film Jooda Akbar, berjudul Khwaja Mere Khwaja, sebuah syair yang dipersembahkan untuk seorang guru yang mulia.

Ketiga lagu ini masuk dalam kategori Qawwali, salah satu jenis jenis syair/nyanyian renungan sufistik Islam yang berasal dari anak benua India. Syed Salman Chisty tampak sangat menikmati setiap lagu sembari merekam lagu yang dipersembahkan oleh Gus Muhyidin. Setiap selesai satu lagu, Syed Salman memberikan penjelasan singkat tentang isi dari lagu yang dinyanyikan. Sebuah perjalanan sore yang mengasyikkan!

Sesampainya di hotel, Syed Salman mengungkapkan bahwa hari ini adalah hari yang berkah, beberapa kali beliau mengucapkan bahwa “today is blessed”, kesan yang mendalam dan indah terpancar di senyum dan raut wajah mursyid tarekat Chisty dari India ini.

Gus Muhyidin menambahkan, kegiatan ziarah semacam ini dapat dijadikan salah satu sarana untuk mendekatkan muslim Indonesia dan India. Kebiasaan muslim India yang tidak jauh berbeda dalam memuliakan para ulama dan wali seharusnya bisa menjadi salah satu target pasar wisata religi di Indonesia yang memiliki keterikatan kuat secara sejarah dan budaya dengan muslim di wilayah Asia Selatan.

Semoga ke depan, kedekatan budaya antara Indonesia dengan muslim di wilayah Asia Selatan dapat semakin meningkat dan semakin menebarkan keberkahan.

Landy T. Abdurrahman
Landy T. Abdurrahman / 16 Artikel

Asal Purworejo, Jawa Tengah. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir. Sekarang sedang menyelesaikan program doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ihsan
06 May 2024
Monggo mampir ke www.hatisenang.com, alm.guru kami dari Chisty juga.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: