Rasulullah saw. ialah sosok Nabi yang jadi panutan seluruh makhluk di muka bumi, mulai dari zaman Nabi Adam hingga sampai kelak hari kiamat.

Seluruh perbuatan, ucapan, gaya hidupnya merupakan pembelajaran bagi umat manusia. Sungguh tak salah, jika kita nobatkan beliau sebagai sosok paling berpengaruh atas peradaban manusia dan dunia.

Akan tetapi, kisah serta narasi pakar sejarah dan sirah memaparkan bahwa Rasulullah saw. ialah sosok yang bersifat “ummi” yang salah satu artinya ialah: Buta-Huruf.

Tentang firman Allah swt. berikut:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيّ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi.” (QS. Al-A'raf: 157)

Abdullah bin Abbas menafsirkan:

هو نبيكم كان أمياً لا يقرأ ولا يكتب ولا يحسب

“Sungguh ia adalah Nabi kalian (Muhammad saw.) yang bersifat ummi: tak membaca, tak menulis serta tak berhitung.” (dinukil dari kitab: Ad-Durrul Mantsur, 5/257)

Namun keummian Nabi Muhammad saw. justru menjadi bukti kemukjizatanya. Kok bisa? Al-Imam Muhammad Khatib As-Syarbini memiliki jawaban logis sebagai berikut:

أنه لو يحسن الخط والقراءة لكان متهما في أنه ربما طالع كتب الأولين فحصل هذه العلوم من تلك المطالعة.

“Jikalau Rasulullah saw. mampu menulis, pastinya ia akan dituduh (atas Al-Quran) yang ia bawa bahwa Al-Quran hanyalah kitab hasil tulisannya setelah ia mempelajari kitab-kitab umat terdahulu, bukan kitab yang bersumber dari kalam ilahi.” (Tafsir Al-Khatib, 3/600)

Maka, sifat ummi ini membuktikan keotentikan Al-Quran, bahwa ia bukanlah kitab yang dikarang oleh seorang pun, melainkan kitab yang bersumber dari wahyu ilahi.

Buktinya, kitab yang di dalamnya terdapat rahasia, serta kabar-berita kaum terdahulu dan yang akan datang, diturunkan kepada Nabi yang bersifat ummi (buta huruf), maka tak mungkinlah ia (Rasulullah saw.) sendiri yang mengarangnya.

Maka, tertolaklah tuduhan dari orang yang mengingkari keotentikan Al-Quran.

Hikmah inilah yang Allah swt. kehendaki, dalam firman-Nya:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelum (Al-Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).”  (QS. Al-‘Ankabut:48)

Hikmah selanjutnya, Sifat Ummi (buta huruf) merupakan bukti dari kecerdasan yang melebihi batas dari Rasulullah saw. Pakar ilmu logika Islam, Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata:

أن تعلم الخط شيء سهل فإن أقل الناس ذكاء وفطنة يتعلمون الخط بأدنى سعي، فعدم تعلمه يدل على نقصان عظيم في الفهم ثم إنه تعالى آتاه علوم الأولين والآخرين وأعطاه من العلوم والحقائق ما لم يصل اليه أحد من الخلق.

“Sungguh proses belajar baca-tulis sangatlah mudah dilakukan oleh setiap orang. Maka seorang yang tak menguasainya dianggap sebagai suatu kekurangan dalam pemahaman. Berbeda dengan Rasulullah saw. atas keluasan ilmu yang Allah swt. berikan padanya, serta hakikat-hakikat yang tak diketahui seorang pun makhluk selainnya (tanpa membutuhkan perantara belajar baca-tulis).” (Tafsir Mafatih Al-Ghaib, 6/381)

Simpulnya, keluasaan ilmu Rasulullah saw. itu murni dari pemberian ilahi kepadanya, tanpa proses membaca atau menulis. Beda halnya dengan ilmu kita, yang kita dapat setelah bercapek-capek menulis serta membacanya.

Maka benarlah, firman Allah. swt dalam kalam-Nya:

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ

“Dan (Allah swt. sendiri lah ) yang telah mengajarkan kepadamu (atas ilmu) apa yang belum kamu ketahui.” (QS. An-Nisa:113)

Membuktikan hal ini, Al-Imam Qhodi Iyadh sedikit mencontohkan kepada kita, hadits Rasulullah saw. yang menunjukkan keluasan ilmunya. Di bidang kedokteran, Rasulullah saw. bersabda:

خير ما تداويتم به السعوط واللدود والحجامة والمشي

“Sebaik-baik pengobatan (yang manjur) ialah: Berobat melalui sesuatu (obat) yang dihirup, atau melalui sesuatu (obat) yang dimasukkan di sisi mulut (dengan cara dioleskan di sisi tersebut), bekam (cantuk), dan sesuatu (obat) yang masuk ke perut.” (HR. Turmudzi, no: 2047)

Cermatilah, satu contoh yang cukup untuk membuktikan bahwa kecerdasan atau kejeniusan Rasulullah saw. tak mampu ditandingi oleh siapapun. Bagaimana mungkin, seorang yang buta huruf mampu menguasai ilmu kedokteran?

Al-Imam Qadhi Iyadh menyimpulkan sebagai berikut:

وهو رجل أمي لم يكتب ولم يقرأ ولا عرف بصحبة من هذه صفته -ثم قال-  فلا سبيل الى جحد الملحد لشيء مما ذكرناه ولا وجد الكفرة حيلة في دفع ما نصصناه

“Rasulullah saw. adalah nabi ummi, maka setelah mengetahui sifat-sifat yang telah kami sebutkan, tidak ada upaya bagi orang kafir untuk menghina Rasulullah saw.” (Kitab As-Syifa, 1/221-223)

Al-Imam Qusyairi, berkata dalam tafsirnya:

أنه لم يكن شيء من فضائله وكمال علمه وتهيؤه الى تفصيل شرعه من قبل نفسه أو من تعلمه وتكلفه أو من اجتهاده وتصرفه، بل ظهر عليه كل ما ظهر من قبله تعالى فقد كان أميا غير قارئ للكتاب ولا متتبع للسير.

“Sungguh termasuk dari keutamaan, kemuliaan serta kesempurnaan Rasulullah saw. dalam menerangkan spesifikasi syariatnya, dengan tanpa perantara dari usahanya sendiri. Ia tak harus belajar, bercapek-capek dalam rangka memahami hal tersebut, tetapi semua keilmuannya timbul dari sisi Allah swt. (ilmu ladunni), maka inilah hikmah dari sang Rasul yang bersifat ummi (buta huruf).” (Lathaif Al-Isyarat, 1/379)

Kesimpulan

Baca-Tulis hanyalah perantara yang umumnya manusia gunakan agar ia bisa memperoleh ilmu. Akan tetapi tujuan utama seseorang belajar baca-tulis hanyalah pemahaman atas berbagai macam bidang ilmu.

Sungguh, Rasulullah saw. tak butuh perantara ini. Akankah ada di dunia ini seorang jenius yang mengerti seluruh bidang keilmuan tapi dia buta huruf? Mustahil, kalau ada!! Hanyalah Rasulullah saw. saja yang bersifat demikian.

Sungguh benar, perkataan ulama ketika mensifati perangai dari Rasulullah saw.

بشر لا كالبشر

“Rasulullah saw. ialah manusia (secara hakikat), tetapi tak seperti umumnya manusia (sifat, kesempurnaannya).” (Maulid Ad-Diba'i).

Tetaplah pada keyakinan atas kesempurnaan Rasulullah saw.! Sungguhlah ia makhluk yang Allah swt. hilangkan darinya segala aib dan kekurangan, dalam sifat ismah (terjaga) yang Allah swt. sematkan dalam dirinya. Wallahu A'lam bis showab.

Referensi:

1. Al-Quran Al-Karim

2. Mafatih Al-Ghoib, karya: Fakhr Ad-Diin Ar-Razi, cet: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.

3. Tafsir Al-Khotib, karya: Imam Muhammad Al-Khotib Asy-Syarbini, cet: dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

4. Tafsir Lathaif al-Isyarat, karya: Al-Imam Abdul karim bin Hawazin, cet: dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

5. Tafsir Ad-Durr Al-Mantsur, karya: Al-Hafidz Jalal Ad-Diin As-Suyuti, cet: dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

6. Syarh Asy-Syifa, karya: Al-Qodhi Abul Qasim I'yadh, cet: Dar ibn Hazm.