Kartun Nabi Muhammad telah memicu kontroversi di seluruh dunia sejak tahun 2005, ketika sebuah surat kabar Denmark yang konservatif Jyllands Posten menerbitkan serangkaian gambar nabi.

Para sarjana muslim bersepakat melarang penggambaran visual dari Nabi Muhammad, sosok yang sangat dihormati. Fakta bahwa sebagian besar kartun nabi telah merendahkan atau mengejek telah memperburuk ketegangan. Penggambaran tersebut dinilai ofensif dan merupakan serangan terhadap Islam, serta memperlebar marginalisasi kaum muslim di negara-negara Barat.

Charlie Hebdo telah sering menerbitkan kartun nabi, baik sebelum maupun sesudah serangan mematikan yang menargetkan majalah tersebut. Ia mengklaim sebagai tindakan atas nama kebebasan berekspresi dan hak untuk menghujat di bawah kebijakan sekularisme Perancis, “laicite”.

Grand Syekh Al-Azhar Ahmed At-Tayeb telah mengeluarkan pernyataan dalam tiga bahasa (Arab, Inggris dan Prancis) pada 3 September lalu. “Menghina seorang nabi menunjukkan rusaknya semua nilai kemanusiaan dan peradaban," ujar beliau.

Grand Syekh Al-Azhar menyatakan, “Membenarkan penghinaan semacam itu dengan dalih melindungi kebebasan berekspresi adalah kesalahan dalam memahami perbedaan antara hak asasi manusia untuk kebebasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan di bawah pembelaan melindungi kebebasan.”

Dua hari sebelum pernyataan Grand Syekh Al-Azhar tadi, Emmanuel Macron mengumumkan bahwa dia tidak akan melarang atau mengutuk kartun Nabi Muhammad dan membenarkan apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo.

Grand Syekh Al-Azhar Ahmed At-Tayeb menyatakan kecamannya atas kampanye sengit dan sistematis terhadap Islam di Perancis. Beliau menolak tokoh dan simbol yang dimuliakan umat Islam seluruh dunia, menjadi korban pertaruhan murahan dalam konstelasi politik dan pemilihan umum di Barat.

“Kami sekarang menyaksikan kampanye terstruktur untuk menyeret Islam dalam pertarungan politik dan melihat upaya menciptakan kekacauan yang diawali dengan serangan keji terhadap sosok Nabi kasih sayang, Muhammad SAW,” ujar Grand Syekh Al-Azhar dalam pernyataan yang terunggah di akun Facebook dan Twitter beliau pada Sabtu (24/10).

Secara khusus Grand Syekh Ahmed At-Tayeb mengirim pesan kepada pihak-pihak yang membela penghinaan, penodaan dan penistaan agama di Barat dengan dalih kebebasan berekspresi.

“Saya katakan bahwa krisis sesungguhnya terletak pada standar ganda (dualisme) dalam cara berpikir kalian dan sempitnya agenda-agenda politik yang kalian usung,” pesan beliau.

“Tanggung jawab terbesar mereka yang menjadi pemimpin,” ujar Syekh Ahmed At-Tayeb mengingatkan, “adalah memelihara perdamaian warga sipil, menjaga keamanan masyarakat, menghormati agama dan melindungi rakyat dari timbulnya fitnah dan kekacauan.”

Puncaknya adalah pidato Grand Syekh dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut isi pidato beliau dalam video yang sudah diterjemahkan oleh Tim Youtube Sanad Media.