Kisah

Menerima aspirasi wanita dan anak kecil; Teladan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz

31 Jan 2024 05:21 WIB
560
.
Menerima aspirasi wanita dan anak kecil; Teladan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz Sayyidina Umar pernah dinasihati seorang wanita seusai keluar dari masjid.

Salah satu kunci berjalannya demokrasi yang baik adalah tersampaikannya aspirasi rakyat kepada penguasa. Rakyat tidak merasa kesulitan dan takut untuk menyampaikan keluh kesah dan berbagai kesulitan yang sedang dihadapi. Di sisi lain sang penguasa juga memberikan jalan seluas-luasnya kepada siapa pun untuk melakukan kritik, memberikan aspirasi, hingga memberikan nasehat kepadanya.

Dengan pola seperti itu, idealnya pemerintahan dan rakyat akan berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Namun, dewasa ini tak banyak -untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali- penguasa yang membuka diri kepada rakyatnya. Istilah kebebasan berpendapat dan aspirasi hanya simbol belaka, rakyat masih saja kesulitan untuk sekedar mendapatkan akses untuk menyampaikan aspirasinya. Beberapa yang berani mengkritik secara terang-terangan pun segera dibungkam.

Berikut dua kisah yang menggambarkan betapa para pemimpin seharusnya menerima kritik dan aspirasi dari siapa pun, bahkan dari anak dan perempuan sekalipun.

Sayyidina Umar dan Nasihat Seorang Wanita

Kisah pertama dari teladan Sayyidina Umar ketika menerima nasihat dari seorang wanita. Suatu ketika, Sayyidina Umar baru keluar dari masjid bersiap untuk pulang. Ia tidak sendirian. Ia ditemani oleh al-Jarud al-Abdi salah seorang sahabat berasal dari Bahrain yang baru masuk Islam. Belum sampai mereka keluar dari lokasi masjid, ia ditemui oleh seorang wanita. Sayyidina Umar pun menyapa dan mengucapkan salam. Perempuan tersebut pun menjawabnya.

“Wahai Sayyidina Umar, saya ingin berbicara sedikit kepadamu.

يا عمر عهدي بك وأنت تسمى عميراً في سوق عكاظ تصارع الفتيان ، فلم تذهب الايام حتى سمیت عمر ، ثم لم تذهب الايام حتى سميت امير المؤمنين، فاتق الله في الرعية. واعلم انه من خاف الموت خشي الفوت

“Wahai Umar, aku telah lama mengenalmu. Dulu engkau dipanggil Umair (Umar kecil)  masih bermain bersama teman sebayamu di Pasar Ukaz, kemudian engkau dipanggil Umar. Tak lama kemudian engkau dipanggil Amirul Mukminin. Oleh sebab itu, bertakwalah engkau dan berhati-hatilah dengan rakyatmu.. Karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan.”

Al-Jarud yang mendengar perkataan wanita itu kepada Sayyidina Umar pun geram.

“Beraninya engkau berkata demikian kepada Amirul Mukminin!” hampir saja ia menghampiri wanita itu.

“Biarkan saja wahai al-Jarud!” cegah Sayyidina Umar.

“Tidakkah engkau tahu. Wanita tersebut adalah Khaulah binti al Hakim (seorang wanita yang didengar perkataannya dari Langit), maka dari itu, demi Allah aku lebih berhak mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.

Sayyidina Umar pun mendengarkan nasihat itu dan merenungkannya. Ia tidak memandang nasihat itu datang dari siapa, sekalipun posisinya ia adalah pemimpin tertinggi umat Islam, ia masih mau mendengar nasihat dari orang lain.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Anak Kecil

Dalam sebuah kesempatan Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengadakan pertemuan dengan berbagai utusan di wilayahnya. Ia mengundang seluruh perwakilan dari setiap daerah untuk menyampaikan kondisi di wilayahnya, serta menyampaikan aspirasi di tiap daerah. Satu persatu perwakilan wilayah menyampaikan laporannya kepada khalifah. Hingga sampailah pada giliran perwakilan dari Hijaz.

Tak seperti yang lain, utusan Hijaz ini diwakili oleh seorang anak kecil. Seisi ruangan dibuat kaget oleh. Tidak ada yang menyangka anak sekecil itu sudah menjadi perwakilan Hijaz. Tak terkecuali Umar bin Abdul Aziz, ia masih seakan tidak percaya dibuatnya. Ia pun memanggilnya. ”Tidak adakah, perwakilan yang lebih tua dan pantas darimu, Nak?”

Perkataan khalifah tersebut kemudian dibalas anak kecil itu dengan berkata,  “Semoga Allah senantiasa mengaruniai kebaikan kepadamu, Amirul Mukminin, sesungguhnya ukuran kecil seseorang adalah hati dan lisannya. Jika Allah memberi lisan yang dapat berbicara dan hati yang terjaga, maka dia berhak untuk bicara.”

Melihat dan mendengar apa yang dilakukan anak kecil itu, Khalifah Umar tampak sangat tertegun. Ia terdiam. Sesaat kemudian anak itu melanjutkan perkataannya, Wahai Amirul Mukminin jika urusan ini dilihat dari umurnya, engkau tidak pantas duduk di singgasanamu karena lebih banyak yang lebih tua darimu.

Khalifah kemudian berkata, Kamu benar, Nak. Sekarang sampaikan saja apa yang ingin engkau sampaikan!”

“Semoga Allah senantiasa mengaruniai kebaikan kepadamu, Wahai Amirul Mukminin. Kami utusan dari Hijaz datang untuk mengucapkan selamat, bukan utusan untuk  mengkritikmu. Kami datang kepadamu untuk menyampaikan berkah yang diberikan Allah kepada kami karenamu engkau terpilih sebagai khalifah, kami juga bersyukur engkau tidak pernah berlaku semena-mena,” kata anak kecil tersebut.

Khalifah Umar takjub dengan disampaikan anak kecil itu dan kemudian berkata, Nasihatilah aku wahai, Anak kecil!

Semoga Allah senantiasa mengaruniai kebaikan kepadamu, Amirul Mukminin. Sesungguhnya manusia terperdaya oleh kemurahan Allah kepadanya, panjang angan, dan karena banyak pujian manusia kepadanya. Hingga akhirnya mereka tergelincir dan jatuh ke dalam api neraka. Maka janganlah terperdaya oleh kemurahan Allah, jangan panjang anganmu, dan terlena banyaknya pujian manusia kepadamu sehingga tergelincir bersama orang yang terperdaya itu. Semoga Allah tidak menjadikan engkau termasuk golongan mereka (orang yang terperdaya) tetapi menjadikannya sebagai golongan umat yang saleh,” kata anak kecil tersebut.

Khalifah Umar  terdiam. Ia penasaran, berapa umur bocah yang luar biasa ini,” Berapa umurmu, Nak.”

“Dua belas tahun,” jawabnya.

Umar bin Abdul Aziz pun bertambah heran, anak sekecil itu sudah bisa mempunyai kemampuan yang luar biasa. Ia pun mencari tahu, siapa gerangan anak kecil tersebut. Usut punya usut, anak kecil tersebut merupakan putra dari Husein bin Ali atau cicit Rasulullah Saw, ia pun lama memuji dan mendoakannya.

Ahmad Yazid Fathoni
Ahmad Yazid Fathoni / 36 Artikel

Santri, Pustakawan Perpustakaan Langitan, suka menggeluti naskah-naskah klasik.

Ares
31 January 2024
Sevyn Andrews

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: