Artikel

Tiga Cara Mengendalikan Marah Sesuai Tuntunan Nabi

15 Aug 2021 01:36 WIB
1300
.
Tiga Cara Mengendalikan Marah Sesuai Tuntunan Nabi

Seseorang meminta solusi perihal cara mengendalikan diri ketika dikuasai kemarahan. Permintaanya itu menggerakkan saya untuk menulis tentang apa yang mesti seorang lakukan bila sedang dalam kondisi marah.

Marah atau emosi acap kali timbul sebagai reaksi psikologis atas kejadian yang tidak menyenangkan dalam sebuah interaksi. Jika emosi sudah mendominasi, seringnya hal-hal buruk yang justru terjadi.

Interaksi sosial sebenarnya mengikat setiap individu agar saling memahami, mengerti serta memaklumi akan sikap serta perangai satu sama lain.

Terkadang, seseorang harus mengerti watak serta tabiat diri sendiri terlebih dahulu, sebelum ia mampu menyesuaikan hal tersebut dalam interaksi dengan orang lain.

Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita, kaedah serta rumus dasar yang wajib diterapkan oleh setiap individu dalam berinteraksi sosial. Beliau bersabda:

لا يؤمن أحدكم، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah sempurna iman seseorang, hingga ia mampu mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no: 13)

Namun, terkadang seseorang tak mampu menahan emosi dan mengontrol amarah, ketika timbal balik yang tak diinginkannya muncul dari perbuatan orang lain. Lantas, bagaiman kiat  atau cara untuk mengontrol amarah?

Pertama: Padamkan Amarah dengan Air Wudhu

Cara ini dinilai sangat mujarab untuk menurunkan tensi tinggi yang disebabkan oleh amarah. Rasulullah saw. menghimbau umatnya dalam sabdanya,

 إن الغضب من الشيطان، وإن الشيطان خلق من النار، وإنما تطفأ النار بالماء، فإذا غضب أحدكم فليتوضأ

“Sungguh amarah muncul dari setan dan setan tercipta dari bara api, serta api hany akan padam dengan air. Maka ketika salah seorang dari kalian marah, maka berwudhulah.” (HR. Abu Dawud, no: 4784)

Pakar psikologi berasumsi dengan dalih hadits ini, bahwa minum segelas air putih sedikit bisa menenangkan jiwa serta menurunkan tensi tubuh, setelah amarah meluap-luap.

Kedua: Berpindah Posisi

Ketika seseorang meluapkan amarahnya dalam posisi berdiri, maka hendaklah dia beranjak dari tempat tersebut dan mencari tempat yang tenang untuk duduk guna menurunkan tensi tubuhnya.

Hal tersebut telah disarankan oleh Rasulullah saw. dalam hadits,

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس، فإن ذهب عنه الغضب وإلا فليضطجع

“Ketika salah seorang dari kalian marah dalam posisi berdiri, maka hendalklah dia duduk, karena itu akan menghilangkan amarahnya. (Jika masih tidak hilang), maka berbaringlah.” (HR. Abu Dawud, no: 4782)

Imam Al-Ghazali menjelaskan maksud dan hikmah dari perintah Rasulullah saw. tersebut. Beliau berkata:

فإن سبب الغضب الحرارة وسبب الحرارة الحركة

“Karena (amarah) disebabkan oleh panas (suhu tubuh) yang naik. Serta naiknya suhu tersebut karena sebab (gerakan tubuh), maka suhu tersebut bisa turun ketika seseorang menenangkan gerakan tubuhnya.” (Lihat Ihya’ Ulûm ad-Dîn: 3/174)

Ketiga: Membaca Taawudz dan Istigfar

Hendaknya seseorang meminta ampunan serta memohon perlindungan kepada Allah (taawudz) setelah ia meluapkan amarahnya.

Rasulullah saw. bersabda,

كان إذا غضبت عائشة أخذ بأنفها وقال يا عويش قولي اللهم رب النبي محمد اغفر لي ذنبي وأذهب غيظ قلبي

“Adapun sikap Rasulullah saw. ketika Aisyah marah, maka beliau mencubit hidungnya seraya berkata, 'Wahai Uwaisy (panggilan sayang Nabi kepada Aisyah), ucapkanlah doa: Allahumma rabban-nabi Muhammad, ighfir li dzanbi wa adzhib ghaidha qalbi (Ya Allah Tuhan Nabi Muhammad, beristighfarlah!! Serta mohonlah kepada Allah swt. agar meredam amarahmu!!' (HR. Ibnu as-Sunni, dalam kitab A'mal Al-Yaum wa Al-Lailah)

Namun, yang paling mulia adalah ketika seorang hamba mampu menahan amarahnya, serta memilih untuk tidak melampiaskannya.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Ayub as. menghimbau,

 حلم ساعة يدفع شرا كثيرا

“Menahan amarah serta memilih bersabar sejenak, mampu menghindarkan beribu-ribu masalah (yang muncul ketika ia meluapkan amarahnya).” Wallahu a'lam bis Showab.


Muhammad Fahmi Salim
Muhammad Fahmi Salim / 39 Artikel

Alumni S1 Univ. Imam Syafii, kota Mukalla, Hadramaut, Yaman. Sekarang aktif mengajar di Pesantren Nurul Ulum dan Pesantren Al-Quran As-Sa'idiyah di Malang, Jawa Timur. Penulis bisa dihubungi melalui IG: @muhammadfahmi_salim

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: