Artikel

Tokoh yang Mempengaruhi Fatima Mernissi (bagian 2)

31 Jan 2022 06:16 WIB
461
.
Tokoh yang Mempengaruhi Fatima Mernissi (bagian 2) Fatima Mernissi

Fatima Mernissi, adalah seorang Profesor dalam bidang sosiologi di Universitas Muhammad V Rabat. Dia lahirkan di salah satu harem di Kota Fez Maroko Utara pada tahun 1940-an. Sebagai seorang ilmuan Mernissi aktif menulis, terutama yang berkaitan dengan permasalahan wanita.

Mernissi berasal dari keluarga sederhana dan selama masa kanak-kanak ia hidup dengan keceriaan dan kebahagiaan, tinggal bersama nenek Lalla Yasmina dan saudara-saudara serta sepu-sepunya, entah yang laki-laki maupun perempuan.

Fatima Mernissi pertama kali mengenyam pendidikan di sekolah Al-Quran yang ada di daerahnya. Salah satu pendidikan tradisional yang mirip dengan sekolah zaman pertengahan, serta sekolah yang paling murah penyelenggaraannya, sekaligus harapan dari berjuta-juta orangtua dalam menapak pendidikan anak-anak mereka.

Salah satu pengalaman kurang menyenangkan bagi Mernissi semasa di sekolah adalah gurunya yang kasar seperti yang dituturkan: “ Di sekolah Al-Quran, jika kami salah melafalkan, paling sedikit kami akan dikenakan hukuman disertai bentakan. Setiap kesalahan dalam pengejaan akan dihukum tergantung kepada jenis atau derajat kesalahanya, bahkan tak jarang kami disertai pukulan yang dilakukan oleh muhadriyah, pelajar yang lebih tua”.

Selain itu, Mernissi tidak memiliki suara yang merdu dalam melagukan ayat-ayat Al-Quran, justru itu dia tidak pernah tampil pada barisan depan dalam setiap memperingati hari-hari bersejarah dalam Islam; sekalipun sesungguhnya Mernissi mempunyai daya ingat atau otak yang bagus.

Penddidikan selanjutnya yang dilalui Mernissi adalah Sekolah Lanjutan Tingkatan Pertama dalam Sekolah Nasional serta Sekolah Lanjutan Atas pada sebuah Sekolah Khusus Wanita (sebuah lembaga yang di biayai oleh Pemerintah Perancis). Setelah tamat dari Sekolah Menengah Atas, Mernissi melanjutkan studinya ke Universitas Muhammad V Rabat, mendapatkan pendidikan bidang Sosiologi dan Politik. Kemudian dia hijrah ke Paris bekerja sebentar sebagai jurnalis. Selanjutnya dia meneruskan pendidikan tingkat sarjananya di Amerika Serikat, dan pada tahun 1973 dia memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang Sosiologi dari Universitas Brandeis dengan Disertasi yang berjudul: Sexe Ideologie et Islam, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Al-Jins Kahandasat Ijtima’iyat.

Mernissi kembali ke Tanah Air untuk bekerja di Universitas Mohammed V di Rabat dan mengajar di the Faculte des Lettres antara tahun 1974 dan 1981 dengan subyek seperti metodologi, sosiologi keluarga, dan psikososiologi. Dia juga tercatat sebagai peserta tetap dalam Konferensi-konferensi dan Seminar-seminar Internasional; juga menjadi Profesor tamu pada Universitas California di Berkeley dan Univer sitas Harvard.

Sebagai seorang pemikir, pengaruhnya melebihi intelektual di lingkungannya dan dikenal baik di negerinya maupun di luar negeri terutama Perancis. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa, diantaranya bahasa Inggeris, Jerman, Belanda, dan Jepang. Dia juga acap mengadakan perjalanan keliling ke Negara-negara Islam untuk mengadakan ceramah, seperti Turki, Kuwait, Mesir, Malaysia dan lain-lain; dari hasil kunjungannya itu Mernissi menyimpulkan, betapa besarnya Negara mempergunakan Islam sebagai alat legitimasi, dimana hal ini telah menimbulkan dampak terhadap perempuan dan iklim intelektual di setiap tempat.

Seperti halnya para pemikir yang gigih membela hak-hak perempuan. Mernissi juga aktif menulis buku-buku atau artikel. Karya-karyanya telah banyak diterjemahkan ke pelbagai bahasa di dunia, salah satunya adalah Beyond the Veil: Male-Female Dynamics in Modern Muslim Society (Revised Edition), 1987, Indiana University Press, Edisi Bahasa Inggeris. Membahas tentang seks dan wanita. Islam and Democracy: Fear of Modern World, diterjemahkan dari Bahasa Perancis oleh Mary Jo Lakeland, 1992. Membahas tentang wanita dan demokrasi.

Sejak tahun 1973 Mernissi telah memdedikasikan hidupnya untuk kepentingan ummat dan negaranya, terutama dalam memperjungkan hak-hak kaum perempuan yang selama ini dibelenggu oleh kekuasaan melalui legitimasi agama. Ia juga telah telah berhasil mengadakan evaluasi diri teradap masalalu, baginya masa lalu adalah cermin untuk menatap mesadepan.

Berpijak dari sini Mernissi menyimpulkan bahwa sudah saatnya kaum wanita Muslimat bisa memasuki dunia modern dengan penuh rasa bangga, karena perjuangan meraih kemuliaan, demokrasi dan hak-hak asasi untuk dapat berperan sepenuhnya dalam bidang politik dan sosial, tidaklah bersumber dari nilai-nilai yang diimpor dari barat, akan tetapi merupakan bagian sejati dari tradisi Muslim.

Setelah membaca karyakarya para ulama seperti Ibn Hisyam, Ibn Hajar, Ibn Sa’ad dan al-Thabari serta ulama-ulama lainnya, telah memberikan bukti untuk merasa bangga akan masa lampau Islam saya dan merasa dibenarkan dalam menghargai hasil-hasil terbaik peradaban modern seperti pemberian hak-hak azasi dan hak-hak sipil sepenuhnya kepada kaum wanita.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh yang mempengaruhi Mernissi bukanlah dari Barat, akan tetapi tokoh-tokoh muslim sendiri, seperti nama Qasim Amin. Ini bisa dibuktikan melalui karyaanya Beyond the Veil: Male-Female Dynamics in Modern Muslim Society, khususnya dalam menjelaskan kesetaraan laki-laki dan perem puan. Mernissi mengutip pendapat Qasim Amin yang menerangkan bahwa laki-laki lebih kuat dari perempuan baik secara fisik dan inteligensia dikarenakan laki-laki diberi kesempatan terjun langsung dalam aktifitas kerja, sehingga mereka meng gunakan otak dan fisiknya; seandainya wanita juga diberi kesempatan maka daya pikir dan kekuatan fisiknya akan sama dengan apa yang dicapai oleh laki-laki.

Selain itu, dalam menguraikan masalah Hijab, Mernissi juga mengutip pendapat Qasim Amin yang menerangkan bahwa wanita lebih dapat mengontrol seksual mereka dengan lebih baik daripada pria. Untuk itu sebagai konsekuensinya pemisahan seksual adalah usaha melindungi pria, bukan wanita.

Tokoh lain yang mempengaruhi Mernissi adalah Syaikh Muhammad Al-Ghazali terutama karyanya berjudul As-Sunnah An-Nabawiyyah Baina Ahl Al-Fiqh wa Ahl AlHadits (Studi Kritis Atas Hadits Nabi SAW). dalam buku ini Syaikh Muhammad Al-Ghazali memberikan argumentasi terhadap beberapa tokoh yang menolak kepemimpinan kaum perempuan, dengan mengutip QS. Al-Naml (27): 23.

Di sini Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuannya hanya untuk menghilangkan kontradiksi antara ayat Al-Qur’an dan beberapa riwayat hadits yang disebutkan orang. Disamping itu, Al-Ghazali tidak mempermasalahkan tentang kepemimpinan perempuan. Baginya, siapapun yang ditunjuk menjadi kepala negara hendaknya orang memiliki kemampuan untuk itu di antara umat.

Pendapat Syaikh Muhammad Al-Ghazali tersebut terbukti telah mengilhami Mernissi dalam bukunya Can We Women Head a Muslim State (bisakah perempuan memimpin negara muslim)? Dan dari penjelasan Al-Ghazali ini Mernissi mengembangkan pembahasannya dalam meneliti Hadits Shahih al-Bukhari yang diterimanya dari Abu Bakrah, tentang kepemimpinan wanita dalam bukunya Wanita di dalam Islam. Lebih dari itu, tokoh lain yang memberikan kontribusi besar terhadap Mernissi adalah Profesor Khamlichi, seorang pengajar hukum Islam di Universitas Mohammad V. Dialah yang memberi gagasan kepada Mernissi untuk menulis buku Wanita di dalam Islam dan memberi saran tentang hadits.

 

Baca juga: 

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf / 74 Artikel

Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: