“Perumpamaan orang yang berzikir dan yang tidak berzikir itu ibarat orang hidup dan orang mati”

“Barangsiapa memeperbanyak zikir kepada Allah, maka ia akan terbebas dari kemunafikan”

“Barangsiapa memperbanyak berzikir kepada Allah, maka Allah akan mencintainya.”

Kutipan di atas merupakan beberapa saja dari sekian banyak hadis tentang fadhilah memperbanyak zikir kepada Allah. Zikir memang amalan yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya. Banyak ayat-ayat al-Quran yang dengan jelas memerintahkannya. Namun, terkair zikir, kita bisa menjumpai kelompok orang yang sangat melanggengkan bacaan zikir. Bahkan, bacaan zikir ini dibuat semacam majlis zikir. Kelompok ini kita kenal dengan istilah tarekat sufi.

Memang, zikir sudah menjadi ciri khas atau karakteristik tarekat sufi, di sampaing ciri khas lainnya seperti memakai khirqah, sima’ dan maulid.  Ibnu Athaillah as-Sakandari mendefinisikan zikir sebagai upaya pembebasan diri dari sikap lalai (ghaflah) dengan mendawamkan kehadiran hati bersama Al-Haqq.”

Ada yang mengatakan zikir adalah mengulang-ulang “nama yang disebut” (ism al-mazkur) dengan hati dan lisan, baik itu dengan menyebut nama Allah, menyebut salah satu sifat dari sekian banyak sifat-Nya, salah satu perbuatan dari sekian banyak af’al-Nya, atau dengan menyebut nama Rasul, Nabi atau para wali-Nya, atau bersyi’ir, nyanyian, ceramah, dan hikayah.

Jadi, orang yang belajar ilmu kalam, juga bisa dikatakan sebagai orang yang berzikir; orang yang belajar fikih, ia juga disebut orang yang sedang berzikir; seorang guru, ia juga bisa dikatakan sebagai orang yang berzikir; seorang mufti, juga dikatakan berzikir, orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, ia juga disebut orang yang sedang berzikir.

Dengan pemaknaan zikir seperti di atas, maka dalam tradisi sufi, zikir dibagi menjadi dua macam. Pertama; zikir ‘am, dan kedua: zikir khash.

Yang dimaksud dengan zikir am adalah semua aktivitas ataupun pergerakan yang dilakukan oleh kaum muslimin, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Arif Billah Ibnu Athaillah as-Sakandari di atas. Seperti seorang ahli ilmu kalam, seorang ahli fikih, seorang guru, mufti, semuanya bisa dikatakan sebagai orang yang berzikir.

Sedangkan yang dimaksud dengan zikir khas adalah zikir yang dikenal kalangan ahi sufi, seperti zikir dengan lisan saja, atau zikir dengan lisan dan anggota badan.

Zikir model ini juga dibagi menjadi dua, yaitu zikir mutlak dan zikir muqayyad. Zikir muqayyad adalah zikir yang terikat waktu dan tempat, semisal zikir dalam shalat dan sesudahnya, zikir dalam haji, zikir sebelum dan setelah tidur, zikir sebelum makan, zikir ketika naik kendaran dan lain sebagainya.

Sedangkan zikir mutlak adalah zikir yang tidak terikat dengan zaman, tempat, waktu, dan keadaan. Model zikir ada yang berupa pujian kepada Allah, semisal (سبحان الله , والحمد لله , ولا اله إلا الله , والله اكبر، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم), ada pula bacaan zikir yang berisikan doa seperti (ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا), atau berupa munajat, seperti (اللهم صل على سيدنا محمد).

Zikir yang berupa munajat ini lebih membekas di hati seorang pemula dibanding bacaan zikir yang tidak berupa munajat. Sebab, orang yang bermunajat merasakan hatinya lebih dekat dengan Zat yang dimunajati (Allah Swt.).

Ada lagi zikir yang berisi riayah atau permohonan yang sifatnya duniawi atau ukhrawi. Contoh zikir riayah (penjagaan) misalnya (اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك), zikir seperti ini mengandung penjagaan terhadap keterjagaan hati. Zikir ini dipakai untuk menguatkan kehadiran hati bersama Allah, menjaga adab dengan-Nya, menjaga agar tidak lalai, berlindung dari setan, serta membantu menghadirkan hati ketika beribadah.

Dari penjelasan ini dapat dipahami, bahwa zikir memiliki empat macam kandungan, yaitu:

1. Pujian terhadap Allah, misal (سبحان الله .... الخ)

2. Doa, misal (ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا.... إلخ)

3. Munajat, misal (الصلاة على النبي... إلخ)

4. Penjagaan urusan duniawi dan ukhrawi.

Selanjutnya, zikir dibagi menjadi dua, (1) zikir lisan, dan (2) zikir qalb atau hati. Zikir scara lisan bisa mengantarkan seorang hamba mendawamkan zikir hati dan memberi pengaruh terhadap zikir hati. Jika seorang hamba berzikir dengan lisan dan hatinya, maka sempurnalah sifat dan keadaan suluknya.

Antara Hizib, Wirid dan Ratib

Seringkali kita mendengar ketiga istilah ini. Misalnya hizib nashar, hizib badawi rifa’i, hizib bahri dan lain sebagainya. Juga, kita sering mendengar istilah ratib al-imam al-quthb al-habib Umar bin Abdurrahman al-Aththas, ratib aththas, ratib haddad, dan sebagainya. Lantas, barangkali muncul dibenak kita apa itu hizib, wirid, dan ratib?

Hizib adalah kumpulan zikir dan doa-doa yang dibuat oleh Syaikh untuk pengikutnya guna dipakai berzikir, istighfar, taubat, inabah, memuji Allah, dan bersyukur kepadanya. Adapun tujuan dibacanya hizb secara berulang-ulang adalah supaya si murid senantiasa hudhur bersama Allah dan tidak lalai pada-Nya. Biasanya, dalam tradisi sufi, hizib dibuat oleh seorang Syaikh dengan ungkapan-ungkapan berantai, jelas, gampang dipahami, dan memiliki pengaruh yang membekas pada jiwa. Hizib yang paling bagus adalah bila di dalamnya mengandung kadar Al-Quran paling banyak.

Antara hizib dan wirid ada perbedaannya. Wirid dibaca pada waktu secara teratur, seperti wirid siang, wirid malam. Sedangkan hizib, pembacaannya tidak ada aturan waktu secara khusus. Jadi, dapat dicatat bahwa setiap zikir atau doa-doa yang dibaca setelah shalat fardhu disebut dengan wirid bila dikaitkan dengan waktu tertentu. Sehingga, baik hizib dan wirid, keduanya merupakan dua kata yang bersinonim secara maknanya, tapi berbeda lafalnya.

Pemaknaan wirid sebagaimana di atas inilah yang digunakan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’-nya. Dalam kitab tersebut disebutkan, wirid-wirid siang berjumlah sembilan, sedangkan wirid-wirid malam berjumlah lima. Adapun perincian wirid tersebut dijelaskan Imam al-Ghazali dalam bab al-Azkar wa ad-Da’awat pada juz pertama dari kitab Ihya’ Ulumuddin.

Sedangkan ratib merupakan bagian dari hizib. Dari segi waktu, ratib tidak ada aturan khusus terkait waktu membacanya. Akan tetapi, sebagian orang ada yang menentukan waktu pembacannya untuk dirinya sendiri, terutama waktu antara Maghrib dan Isya’ atau setelah Isya’.

Perlu dicatat, jika suatu ucapan atau perkatan merupakan ungkapan hati dari si pembicara, maka demikian pula dengan hizib. Hizib merupakan ungkapan isi hati pengarangnya, cerminan pengamalan spiritualnya, serta gambaran sejauh mana si pengarang sampai pada maqam, ahwal, dan ma’rifatnya. Selain itu, ungkapan dan gaya atau uslub hizib telah mencerminkan betapa si pengarang telah sampai pada penguasaan ilmu lughah, sastra dan bayan.

Legalitas Hizib dan Wirid

Apabila kita mau mengamati dengan seksama isi dari hizib-hizib, ratib dan wirid-wirid yang ditulis oleh ulama Sufi,  maka bisa dikatakan bahwa ia tersusun dari beberapa ayat-ayat al-Quran, hadits-hadis Nabi, ungkapan para Nabi, Rasul dan orang-orang salih, serta ungkapan ulama sufi itu sendiri.

Zikir-zikir ini – baik hizib, wirid, dan ratib – diingkari oleh sebagian orang. Namun, sebagian yang lain tetap menganggap zikir ini ada landasan syariatnya. Di antara ulama sufi yang menyatakan bolehnya zikir-zikir ini adalah Syaikh Zaky Ibrahim, pemimpin tarekat Al-Asyirah al-Muhammadiyyah, semoga Allah senantiasa menjaga beliau.

Syaikh Zaky Ibrahim berdalil tentang disyariatkannya bacaan hizib dan wirid dengan beberapa hal berikut:

1) Rasulullah Saw. pernah mendengar dengan telinga beliau sendiri orang berdoa dengan doa yang tidak ma’tsur – doa yang diajarkan Allah dalam al-Quran dan diajarkan Rasul-Nya dalam hadis-. Namun demikian, Rasulullah saat itu tidak menginkarinya, baik secara jelas maupun sindiran, baik dengan ucapan maupun isyarat.

2) Rasulullah Saw. mengakui bentuk ijtihad doa ini. Berarti beliau menganjurkan atau paling tidak membolehkan ijtihad dalam berdoa, semisal hizib dan wirid. Serta menjadikan hal ini sebagai bentuk sunnah taqririyah yang dilaksanakan oleh para sahabat dan tabi’in, terutama ulama-ulama salaf.

3) Berdasarkan dua argumen di atas, maka orang yang bisa atau tidak bisa berdoa dengan doa yang ma’tsur, maka boleh baginya berdoa dengan doa yang tidak ma’tsur, seperti wirid-wirid, hizib-hizib, madaih (pujian kepada Rasulullah), maulid, dan karya-karya orang-orang salih lainnya.

Syaikh Zaky Ibrahim menuturkan bolehnya membaca hizib dan wirid berdasarkan pada hadis yang menyatakan bahwa ada seseorang yang berdoa dengan doa yang tidak ma’tsur, tapi Rasulullah tidak menginkarinya.

Hadis ini disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir al-Qursyi ia berkata: An-Nasa’i berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Khalid, telah menceritakan kepada kami  Zaid ibn al-Habbab, telah menceritakan kepadaku Malik bin Mighwal, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa ia masuk masjid bersama Rasulullah, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang shalat kemudian berdoa dengan mengatakan; ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA BIANNII ASYHADU ANNAKA ANTALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, Al AHADUSH SHAMAD, ALLADZII LAM YALID WA LAM YUULAD WA LAM YAKUN LAHU KUFUWAN AHAD (Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung, Yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya). Kemudian beliau mengatakan: "Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh ia telah meminta dengan nama-Nya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai suatu doa maka Dia akan mengabulkan dan apabila diminta dengannya maka Dia akan memberi."

Adab Zikir dalam Tradisi Sufi

Berzikir sendiri bukanlah aktifitas yang dikerjakan secara asal-asalan. Ia memiliki adab atau etika yang perlu diperhatikan. Dalam tradisi sufi, masing-masing tarekat sufi memiliki adab berzikir sendiri. Meski demikian, setidaknya ada beberapa adab yang disepakati mayoritas tarekat-tarekat sufi, sebagaimana berikut.

1) Orang yang berzikir hendaknya dalam posisi beretika yang sempurna, serta kondisi lahir dan batin paling bagus. 

2) Hendaknya dalam keadaan suci dan bersih.

3) Ketika berzikir dalam kondisi khusyu’, mengagungkan Allah, menghadap kiblat seakan-akan dalam posisi shalat.

4) Jika zikirnya secara berjamaah, maka harus bareng dengan jamaahnya, tidak boleh mendahului atau terlambat.

5) Duduk dalam tempat yang suci. Sebagian orang berpendapat, tempat zikirnya diberi wewangian.

Sebenarnya masih ada adab-adab lainnya, namun tidak disebutkan di sini lantaran adanya perbedaan pendapat di kalangan tarekat sufi. Adapun adab yang diperselisihkan di antaranya adalah berzikir dengan suara lirih, sementara menurut sebagian yang lain berzikir secara keras atau jahr lebih utama. Tentu saja masing-masing memiliki dalilnya tersendiri.

Kelompok yang memandang bahwa zikir secara lirih itu lebih bagus mereka berargumen dengan hadis Nabi, “Sebaik-baik zikir adalah zikir yang lirih, dan sebaik-baik rizki adalah yang mencukupi.” (HR. Ahmad Ibnu Hibban dan al-Baihaqi dari Abu Sa’id).

Sementara kelompok yang memangdang zikir jahr lebih utama juga berargumen dengan hadis Nabi, “ Perbanyaklah zikir kepada Allah hingga orang-orang mengatakan gila.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Hakim, dan al-Baihaqi dari Abu Sa’id).

Pendapat-pendapat ulama terkait hal ini sangat panjang, dan masing-masing kelompok menguatkan pendapatnya dengan dalil al-Quran, hadis, pendapat para ulama, dan tindakan orang-orang salih.