Home Buku Yuval Noah Harari dan Sejarah Manusia

Yuval Noah Harari dan Sejarah Manusia

“Makhluk itu duduk di semak-semak, menunggu kepergian beberapa gerombolan hewan predator yang tengah mencabik-cabik mangsanya. Sesekali, ia mengintip gerombolan itu dengan perut yang terus menerus mengeluarkan bunyi nyaring, hanya cara itu yang bisa ia lakukan agar bisa mendapatkan daging untuk dimakan; memulung sisa makanan dari predator lain.”

Begitulah setidaknya gambaran yang ada di otak saya ketika membaca narasi Yuval Noah Harari, tentang awal mula nenek moyang manusia yang mengonsumsi daging. Nenek moyang manusia, sebagai hewan lemah yang tidak memiliki organ pemangsa di tubuhnya, menjadi gambaran yang dipakai Yuval untuk menceritakan perjalanan awal sejarah manusia, dalam bukunya yang berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind.

Yuval Noah Harari adalah profesor di bidang sejarah yang bukunya kerap kali menjadi perbincangan menarik di kalangan penikmat buku-buku sains mainstream. Sapiens menjadi buku pertama yang mampu mengangkat nama Yuval sebagai penulis sejarah dengan sudut pandang yang terbilang menarik.

Meskipun buku tersebut telah dipublikasikan pada tahun 2011, namun gagasannya masih menarik untuk didiskusikan. Di Indonesia, diskusi tentang buku ini baru banyak dilakukan kira-kira dua tahun belakangan. Menurut saya, Indonesia memang sangat ketinggalan dalam mengikuti perkembangan sains di berbagai bidang.

Salah satu premis utama yang dipakai dalam buku ini menjelaskan tentang bagaimana proses yang dilalui oleh manusia. Dari spesies yang tidak terlalu memiliki peran, hingga menjadi spesies paling penting di muka bumi.

Baca juga: Edward Said, Pikiran Palestina di Tanah Amerika

Buku ini dibuka dengan penjelasan yang seolah ingin menyadarkan para pembacanya, bahwa sejarah manusia hanya bisa dipahami jika kita sepenuhnya sadar atas ketidakpentingan nenek moyang kita. Pengaruh nenek moyang manusia terhadap ekosistem kehidupan yang ada di bumi tidak jauh lebih penting dengan pengaruh hewan-hewan lain seperti sapi, kambing, bahkan ikan. Nenek moyang kita setara dengan hewan-hewan lain yang tergolong organisme kelas tengah dalam piramida rantai makanan.

Proses perubahan sifat pada manusia dimulai dengan terjadinya revolusi kognitif. Kata revolusi ingin menjelaskan bahwa perubahan tersebut terjadi secara mendadak, perubahan cara pandang dan budaya manusia jauh lebih cepat dari pada perubahan biologis yang dialaminya.

Saat ini, setidaknya kita sedang memasuki revolusi industri 4.0, sedang Harari menarik sejarah revolusi ke tahap paling awal. Revolusi kognitif menjadi titik balik yang menentukan pergerakan dari sejarah panjang yang dilalui oleh manusia.

Bibit terjadinya revolusi kognitif bermula sekitar satu juta tahun lalu, yaitu ketika manusia mulai mengerti cara kerja api. Api merupakan bahan bakar yang menjadi penggerak bagi revolusi kognitif yang dilalui oleh nenek moyang manusia. Manusia purba memerlukan waktu 8 sampai 10 jam dalam sehari untuk mengunyah makanan. Setelah manusia menemukan cara menyalakan api yang difungsikan untuk memasak makanan, waktu kunyah yang diperlukan hanyalah sekitar dua jam. Dengan demikian, pencernaan manusia sedikit demi sedikit bekerja dengan efektif untuk memproduksi kandungan gizi yang dibutuhkan oleh sel-sel dalam tubuh manusia. Perkumpulan spesies homo mengelilingi api pun akhirnya menjadi rekaman sejarah dari terbentuknya bahasa verbal dengan perbendaharaan kalimat yang terus berkembang. Dan setelah hampir satu juta tahun, jumlah dari bahasa verbal tersebut menjadi hampir tak terhingga.

Dengan banyaknya perbendaharaan kalimat yang dimiliki oleh nenek moyang manusia, spesies ini mendadak menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Pada era inilah manusia berubah menjadi spesies paling mengerikan yang ada di muka bumi. Setiap kali manusia menetapi suatu wilayah, maka dengan segera, ia memicu kepunahan dari beberapa hewan lain. Bukti sejarah yang paling kuat menyatakan, bahwa manusia pernah menetap di Australia sekitar 26.000 tahun lalu, dan kemudian disusul oleh kepunahan masal dari berbagai megafauna yang ada di sana. Manusia yang awalnya menduduki posisi medioker pada piramida rantai makanan, kini menjadi raja yang duduk di puncak piramida tersebut.

Karakter khas yang dimiliki oleh spesies kita adalah kemampuannya untuk melakukan kerja sama dalam berbagai bidang dengan jumlah yang sangat besar. Hanya variabel inilah yang membuat manusia benar-benar berbeda dengan makhluk lain. Manusia memiliki perbedaan pencapaian yang mencolok dengan hewan lain hanya pada level kolektif, bukan individu.

Ketika satu individu Sapiens ditinggalkan dengan bonobo dalam suatu pulau yang tidak berpenghuni, kemampuan bertahan hidup di antara keduanya tidak akan berbeda jauh, bahkan bisa jadi bonobo lebih unggul. Ketika seorang manusia melawan seekor singa, maka hampir pasti ia akan mengalami kekalahan, akan tetapi 1000 manusia akan sangat mudah menaklukkan 1000 singa. Hal ini dikarenakan singa sama sekali tidak memiliki kemampuan bekerja sama laiknya manusia.

Baca juga: Pengaruh Musik pada Psikologi Manusia dalam Pandangan Al-Ghazali

Berbagai pencapaian besar sepanjang sejarah manusia—mulai dari membangun piramida sampai penerbangan ke bulan—terjadi bukan dari hasil pekerjaan satu individu, melainkan hasil dari kerja sama yang dilakukan dalam jumlah yang cukup besar.

Menariknya, manusia juga tidak perlu mengenal satu sama lain secara personal untuk melakukan sebuah kerja sama. Hal ini bisa kita lihat pada sistem yang terjadi di sebuah perusahaan besar. Seorang pembersih lantai tidak perlu mengenal pemilik perusahaan dan karyawan-karyawan lain secara personal untuk bisa ikut andil dalam membersihkan lantai. 

Namun, terlepas dari semua pencapaian hebat itu, kerja sama juga menjadi pemicu adanya tragedi besar yang tercatat dalam rangkaian sejarah umat manusia. Peperangan, pembunuhan masal, dan sebagainya merupakan hasil dari kemampuan kerja sama yang dilakukan oleh mereka.

Baca juga: Teologi Adalah Produk Sosial

Lalu mengapa hanya manusia yang memiliki kemampuan seperti itu? Jawaban yang dikemukakan oleh Harari adalah “imajinasi”. Manusia menjadi satu-satunya makhluk hidup yang mampu menciptakan dan mempercayai fiction (cerita fiksi), dan selama manusia percaya pada suatu fiksi tertentu, maka mereka akan tunduk pada nilai, norma dan aturan yang sama.

Kemampuan ini merupakan konsekuensi dari perbendaharaan kalimat yang dikembangkan manusia hingga jumlah yang hampir tak terhingga. Hewan lain menggunakan bahasa verbal hanya untuk menggambarkan realitas dengan sederhana. Manusia mampu menceritakan realitas dengan sangat terperinci, bahkan ia juga mampu menciptakan sebuah realitas baru, yaitu realitas fiksi (fictional reality).

Harari menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang hidup dengan dua realitas; realitas objektif dan realitas fiktif. Realitas objektif adalah sebuah realitas yang bisa diamati bersama. Gunung, sungai, laut, merupakan realitas objektif yang dihuni oleh manusia, begitu pula hewan-hewan lain.

Realitas fiksi adalah realitas unik yang hanya dimiliki oleh manusia. Syarat terwujudnya realitas ini adalah adanya narator ulung yang mampu membuat banyak orang percaya pada realitas imaginatif yang ia buat. Tentang hak asasi manusia misalnya, konsep tersebut bukanlah suatu realitas objektif yang ada pada diri manusia. Ia adalah suatu cerita yang dinarasikan oleh sang narator dan dipercaya oleh banyak orang, hingga hal tersebut membuatnya tumbuh menjadi sebuah realitas baru berupa realitas fiksi. Dan lagi-lagi, selama semua orang percaya pada fiksi tersebut, maka hal itu menjadi nilai bersama yang diakui eksistensinya, bahkan ia mampu memunculkan manusia-manusia yang rela mengorbankan hidupnya demi membela nilai tersebut.

Sistem yang serupa juga terjadi pada hukum-hukum yang mengatur regulasi tentang pelestarian lingkungan hidup. Eksistensi dari realitas objektif berupa hutan, hewan dan elemen-elemen lingkungan hidup yang lain, bergantung pada hukum-hukum manusia yang berasal dari realitas fiktif, realitas yang hanya bisa dipahami oleh manusia.

Uraian di atas merupakan sedikit gambaran sederhana dari kumpulan gagasan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya. Buku ini bagus sebagai bahan refleksi dan pedoman, utamanya bagi para pemula seperti saya, dalam berpikir dan mencari pengertian tentang keadaan dunia yang mana kita hidup di dalamnya saat ini.

Ahmad Rifqi
Ahmad Rifqi
Alumni Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta 2016. Sekarang melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, mengambil Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Hikmah dan Manfaat Melestarikan Petilasan Orang Shaleh

Dekat masjid Imam Ibnu Atha’ as-Sakandari di daerah pegunungan Muqattam Mesir terdapat petilasan dengan ukuran + 2 meter persegi berbentuk ruang...

Fazlun Khalid Sang Pionir Fikih Lingkungan, Tinggalkan Zona Nyaman demi Islamekologi

Anda meyakini sepenuhnya bahwa agama Anda, Islam, peduli dan turut membantu menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini? Apakah Al-Quran menginstruksikan...

Palestina Marah karena Amerika Dukung Klaim Israel atas Yerusalem

Sejumlah pemimpin Palestina marah atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden karena mendukung klaim Israel atas kota suci Yerusalem al-Quds.

Kisah Mengharukan Keadilan Rasulullah Membela Orang Yahudi

Di antara kisah keadilan Rasulullah yang masyhur dan mengharukan adalah keberpihakannya kepada seorang Yahudi Madinah ketika dituduh mencuri. Meski yang menuduhnya adalah...