Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

‎Gus Dur, Kebutaan, dan Etika Menerima Nikmat

Avatar photo
494
×

‎Gus Dur, Kebutaan, dan Etika Menerima Nikmat

Share this article
‎Gus Dur, Kebutaan, dan Etika Menerima Nikmat
‎Gus Dur, Kebutaan, dan Etika Menerima Nikmat

‎‎Saat mondok di Pondok Pesantren Kulon Banon Kajen, Pati Jawa Tengah, aku pernah menerima satu kisah dari Abah Mu’adz Thahir. Kalau aku tidak salah ingat, beliau mengisahkan ini di Haul pertama Gus Dur di alun-alun Pati kala itu. Kisah ini tidak sedang menempatkan Gus Dur sebagai ikon politik atau simbol pluralisme yang sering kita peringati saban tahun, melainkan sebagai seorang murid yang setia pada adab dan kepasrahan. Di pesantren, kisah semacam ini hidup bukan untuk dikultuskan, tetapi untuk direnungkan.

‎Ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, penglihatannya hampir sepenuhnya hilang. Datanglah tim kedokteran dari Jepang dengan tawaran operasi. Secara medis, ini adalah ikhtiar yang sah. Secara rasional, hampir tak ada alasan untuk menolak. Negara mampu membiayai, teknologi tersedia, dan harapan untuk kembali melihat terbuka lebar.

‎Namun Gus Dur tidak serta-merta menjawab. Ia meminta izin untuk matur kepada Mbah Abdullah Salam Kajen. Di tengah kekuasaan yang besar, ia tetap menempatkan dirinya sebagai seorang murid. Ini penting dicatat: dalam dunia modern, kekuasaan sering kali melahirkan ilusi bahwa seseorang tak lagi memerlukan otoritas moral di atas dirinya.

‎Saat Abah Mu’adz menyampaikan niat itu, Mbah Dullah hanya berkata singkat: “Masa iya nikmat dari Allah mau dibuang?” Tak ada fatwa panjang, tak ada argumentasi teologis yang bertele-tele. Hanya satu kalimat yang justru meruntuhkan cara berpikir kita tentang nikmat dan musibah.

‎Sejak saat itu hingga akhir hayatnya, Gus Dur tidak mengobati matanya. Keputusan ini kerap disalahpahami sebagai sikap pasrah yang anti-ikhtiar. Padahal, yang sedang terjadi bukan penolakan terhadap ilmu kedokteran, melainkan penerimaan terhadap cara Allah mendidik seorang hamba. Dalam pandangan Mbah Dullah, kebutaan Gus Dur adalah nikmat besar ,sebab mata yang melihat sering kali menjadi pintu maksiat, sementara mata yang ditutup justru membuka kejernihan batin.

‎Disini kedalaman batin yang dipegang oleh Gus Dur memberi kita bahasa yang jernih. Kebutaan Gus Dur bukanlah kehilangan, melainkan maqām ridha. Sebuah keadaan batin ketika seseorang berhenti mengukur hidup dengan standar untung-rugi duniawi. Ia tidak lagi sibuk bertanya “apa yang kurang dariku”, melainkan “apa yang sedang Allah ajarkan”.

‎Sikap ini terasa semakin langka di ruang publik kita hari ini. Kita hidup dalam budaya yang terobsesi pada perbaikan, pencitraan, dan klaim kesempurnaan. Kekurangan harus segera ditambal, kelemahan harus ditutupi, dan penderitaan harus secepat mungkin disingkirkan, bahkan jika itu berarti mengorbankan kejujuran batin. Dalam iklim seperti ini, kisah Gus Dur justru menjadi kritik diam terhadap etika kekuasaan modern yang gemar merasa paling tahu tentang dirinya sendiri.

‎Gus Dur menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang kemampuan mengendalikan keadaan, tetapi tentang kesediaan menerima keterbatasan. Ia mengajarkan bahwa seorang pemimpin tetap membutuhkan guru, dan seorang manusia tetap harus tahu kapan berhenti menawar takdir.

‎Hari ini, di Haul Gus Dur yang ke-16, kita kembali mengenangnya. Sudah enam belas tahun ia meninggalkan kita. Namun warisan terpenting Gus Dur bukan hanya gagasan-gagasan besar tentang demokrasi dan kemanusiaan, melainkan teladan sunyi tentang bagaimana hidup dijalani dengan adab, dengan ridha, dan dengan keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua nikmat harus tampak sempurna.

‎Di tengah kebisingan politik dan kecemasan sosial yang terus berulang, mungkin yang paling kita rindukan dari Gus Dur adalah kemampuannya untuk tetap tenang, bahkan ketika dunia terasa gelap. Karena barangkali, justru dari kegelapan itulah, kejernihan paling jujur dilahirkan.

‎Gus, rindu. . .

‎-Mabda Dzikara-

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.