Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Membaca Ateisme sebagai Spektrum Pemikiran: Dari Rasionalitas Sains hingga Kegelisahan Makna

Avatar photo
287
×

Membaca Ateisme sebagai Spektrum Pemikiran: Dari Rasionalitas Sains hingga Kegelisahan Makna

Share this article
Membaca Ateisme sebagai Spektrum Pemikiran: Dari Rasionalitas Sains hingga Kegelisahan Makna
Membaca Ateisme sebagai Spektrum Pemikiran: Dari Rasionalitas Sains hingga Kegelisahan Makna

Seri II – Varian Ateisme Klasik dan Modern

Oleh: Ahmad Ilham Zamzami

Ateisme dalam dunia modern jarang hadir sebagai satu posisi filosofis yang utuh dan homogen. Ia lebih tepat dipahami sebagai spektrum pengalaman intelektual yang berlapis, yang tumbuh dari persilangan antara perkembangan sains, krisis metafisika klasik, perubahan struktur otoritas pengetahuan, serta pergulatan manusia modern dengan pencarian makna, kebebasan, dan pengalaman akan penderitaan. Karena itu, menyederhanakan ateisme sebagai sekadar “enolakan terhadap Tuhan bukan hanya keliru, tetapi juga menutup kemungkinan pembacaan yang lebih jujur terhadap motif-motif rasional dan eksistensial yang melahirkannya.

Dalam banyak kasus, ateisme modern berangkat dari apa yang dapat disebut sebagai ateisme filosofis, yakni posisi yang mempertanyakan legitimasi metafisika teistik dalam menjelaskan realitas. Kritik ini menemukan momentumnya sejak David Hume menggugat dasar rasional teologi alamiah. Hume menunjukkan bahwa inferensi kausal dari dunia menuju Tuhan tidak pernah mencapai kepastian demonstratif, melainkan bertumpu pada kebiasaan mental dan asumsi psikologis (Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding, 1748/2007, 41–45).

Kritik Hume ini tidak serta-merta menolak Tuhan, tetapi menggoyahkan keyakinan bahwa keberadaan Tuhan dapat dibuktikan secara rasional dengan standar kepastian yang sama seperti matematika atau logika formal. Dari sini, ateisme filosofis sering berkembang bukan sebagai penolakan dogmatis, melainkan sebagai sikap kehati-hatian epistemologis terhadap klaim metafisis yang melampaui pengalaman.

Namun, kehati-hatian epistemologis ini dalam perkembangan berikutnya kerap bergeser menjadi ateisme saintifik, terutama ketika sains modern diposisikan bukan sekadar sebagai metode memahami alam, tetapi sebagai horizon final pengetahuan. Bertrand Russell merumuskan sikap ini secara lugas ketika ia menyatakan bahwa alam semesta tidak memerlukan penjelasan di luar dirinya sendiri. Ia menyebutkan: “The universe is just there, and that’s all” (Russell, Why I Am Not a Christian, 1957, 53). Pernyataan ini sering dipahami sebagai kemenangan rasionalitas ilmiah atas metafisika.

Namun secara filosofis, ia justru menandai sebuah keputusan metafisis implisit. Bahwa fakta keberadaan tidak perlu lagi ditanyakan secara ontologis. Kritik terhadap posisi ini telah banyak dikemukakan dalam filsafat sains kontemporer, yang menegaskan bahwa sains menjawab pertanyaan how, bukan why pada level ontologis terdalam (lihat misalnya Dawes, Theism and Naturalism, dalam Philosophy Compass, 2011, 873–884).

Di sinilah ateisme saintifik sering bertemu dengan skeptisisme epistemologis yang lebih luas. Skeptisisme ini tidak hanya meragukan Tuhan, tetapi juga mencurigai seluruh klaim kebenaran yang tidak tunduk pada verifikasi empiris. Namun problem mendasarnya adalah bahwa tuntutan verifikasi empiris itu sendiri tidak dapat diverifikasi secara empiris. David Hume telah menunjukkan bahwa kausalitas—fondasi seluruh sains empiris—tidak pernah ditangkap sebagai keniscayaan rasional, melainkan sebagai ekspektasi yang dibentuk oleh kebiasaan (Hume, An Enquiry, 41).

Dengan kata lain, skeptisisme ateistik sering kali berdiri di atas asumsi-asumsi epistemologis yang tidak lebih kokoh daripada metafisika yang ia kritik. Hal ini ditegaskan kembali dalam kajian kontemporer tentang non-belief yang menunjukkan bahwa ateisme bukan posisi tanpa asumsi, melainkan konfigurasi asumsi kognitif dan kultural tertentu (Norenzayan et al., The Cultural Evolution of Prosocial Religions, dalam Behavioral and Brain Sciences, 2016, hlm. 1–65).

Di luar ranah epistemologi dan sains, ateisme juga berkembang sebagai ateisme humanistik, yang berakar pada keyakinan bahwa manusia harus menjadi pusat makna dan nilai. Ludwig Feuerbach telah lebih awal menafsirkan Tuhan sebagai proyeksi esensi manusia yang terasing (Feuerbach, The Essence of Christianity, 1841/1957, 14–20). Dalam versi modernnya, ateisme humanistik tidak selalu memusuhi agama, tetapi menolak setiap konsep Tuhan yang dianggap mereduksi martabat dan kebebasan manusia.

Berdasarkan hal tersebut, maka ateisme berfungsi sebagai kritik etis terhadap institusi dan praktik keagamaan yang dinilai represif. Penelitian sosiologis mutakhir menunjukkan bahwa di banyak masyarakat, termasuk Asia Tenggara, ateisme sering kali lahir dari pengalaman sosial-keagamaan yang traumatis, bukan dari refleksi metafisika abstrak (Brewster et al., Religious Disaffiliation and Meaning-Making, dalam Religion, Brain & Behavior, 2021, 1–18).

Varian lain yang tidak kalah penting adalah ateisme eksistensialis, yang mencapai ekspresi filosofisnya pada Jean-Paul Sartre. Dalam Being and Nothingness, Sartre menyatakan bahwa ketiadaan Tuhan membuka ruang bagi kebebasan radikal manusia. Manusia tidak memiliki esensi yang ditentukan sebelumnya, melainkan harus menciptakan maknanya sendiri melalui pilihan-pilihan eksistensial (Sartre, Being and Nothingness, 1957, 553–556). Ateisme di sini bukan sekadar negasi teologis, tetapi afirmasi antropologis bahwa manusia sebagai proyek terbuka.

Namun sebagaimana dicatat oleh banyak komentator, kebebasan radikal ini juga membawa beban eksistensial yang berat, yakni kecemasan, absurditas, dan tanggung jawab tanpa sandaran transenden. Albert Camus, meskipun sering dipisahkan dari ateisme filosofis ketat, menangkap sisi tragis ini dalam The Myth of Sisyphus (1955, 28–32), di mana ketiadaan makna objektif justru memaksa manusia untuk hidup dalam pemberontakan eksistensial yang terus-menerus.

Menariknya, perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa ateisme tidak selalu berujung pada nihilisme. Muncul apa yang oleh sejumlah peneliti disebut sebagai spiritual atheism atau religious atheism. André Comte-Sponville, dalam L’esprit de l’athéisme (Spiritualitas Tanpa Tuhan), menegaskan bahwa pengalaman kedalaman, keheningan, dan keterhubungan kosmik tidak mensyaratkan iman kepada Tuhan personal (Comte-Sponville, 2006/2011, 3–12). Spiritualitas, dalam pandangan ini, adalah pengalaman imanensi yang penuh, bukan relasi dengan transendensi personal. Fenomena ini dikaji secara serius dalam literatur akademik kontemporer, misalnya oleh Boehme yang menunjukkan bahwa banyak ateis modern mengembangkan praktik etis dan kontemplatif yang secara fungsional menyerupai religiositas (Boehme, The Spirituality of Atheism, dalam Religions, 2017, 106–110).

Dalam konteks yang lebih spesifik, variasi ateisme tidak hanya berbeda pada tingkat argumentasi filosofis, tetapi juga pada cara ia hadir sebagai sikap hidup, bahasa kritik, dan bahkan gaya identitas. Ateisme filosofis cenderung hidup di ruang akademik dan diskursus konseptual, sementara ateisme saintifik sering tampil dalam bentuk popular—melalui narasi sains sebagai otoritas terakhir yang dikemas secara komunikatif.

Ateisme skeptis bekerja dengan membongkar klaim kebenaran, tetapi kerap berhenti pada negasi tanpa menawarkan horizon makna yang positif. Sementara itu, ateisme humanistik dan eksistensialis justru berangkat dari kepedulian etis dan kegelisahan eksistensial manusia, bukan dari penolakan metafisika semata. Perbedaan ini penting, sebab masing-masing varian memerlukan cara baca dan kritik yang berbeda. Sebab menyamaratakannya justru melahirkan kritik yang keliru sasaran.

Di Indonesia, variasi ateisme jarang muncul dalam bentuk sistem filsafat yang matang sebagaimana di Barat, tetapi lebih sering hadir sebagai fragmen wacana yang terpotong. Ateisme saintifik, misalnya, banyak beredar dalam bentuk kutipan tokoh sains populer atau slogan epistemik seperti cukup dengan sains, tanpa disertai pemahaman filosofis tentang batas metodologis sains itu sendiri.

Ateisme skeptis sering tampil sebagai gaya debat—menggugat dalil agama secara retoris—tetapi tidak disertai refleksi mendalam tentang fondasi epistemologi yang digunakannya. Sementara ateisme humanistik dan eksistensialis kerap bersembunyi di balik bahasa kemanusiaan, kebebasan individu, dan kritik moral terhadap institusi agama, tanpa secara eksplisit menamai dirinya sebagai ateisme.

Fenomena ini membuat ateisme di Indonesia lebih tepat dipahami sebagai posisi cair daripada identitas ideologis yang mapan. Banyak individu yang secara konseptual masih religius, tetapi secara praktis telah mengadopsi cara pandang ateistik dalam memahami makna, etika, dan otoritas kebenaran. Dalam istilah sosiologi agama, ini mendekati apa yang disebut sebagai practical atheism—yakni hidup seolah Tuhan tidak relevan dalam pengambilan keputusan sehari-hari—tanpa harus menyatakan penolakan teologis secara eksplisit.

Kajian mutakhir menunjukkan bahwa bentuk non-belief semacam ini sering kali dipicu oleh pengalaman sosial-keagamaan yang problematik. Baik yang berupa relasi kuasa, moralitas simbolik, atau agama yang hadir sebagai instrumen kontrol, bukan sumber makna (Bush, Atheism, Nonreligion, and Society, dalam Annual Review of Sociology, 2018, 37–56).

Di ruang digital Indonesia, variasi ateisme ini semakin mengalami simplifikasi. Platform media sosial mendorong gaya berargumen yang cepat, reaktif, dan konfrontatif, sehingga ateisme lebih sering tampil sebagai retorika pembongkaran iman daripada sebagai refleksi filosofis yang koheren. Dalam situasi ini, ateisme saintifik dan skeptis mendapatkan panggung yang lebih luas dibanding ateisme filosofis atau eksistensialis, karena lebih mudah dikemas dalam bentuk debat singkat dan klaim final. Akibatnya, diskursus ateisme sering tereduksi menjadi kompetisi retoris antara akal dan iman, tanpa pernah menyentuh problem mendasar tentang makna, tujuan, dan keterbatasan rasionalitas manusia.

Pendekatan kritis terhadap ateisme dalam konteks ini tidak cukup dilakukan dengan pengulangan argumen teologis klasik atau bantahan apologetik instan. Yang lebih mendesak justru adalah kerja konseptual, yakni dengan cara embedakan satu varian ateisme dari yang lain, menguji asumsi yang bekerja di baliknya, serta membaca latar sosial dan psikologis yang melahirkannya. Kritik filosofis diperlukan untuk menilai koherensi internal ateisme saintifik dan skeptis; kritik etis diperlukan untuk menguji klaim ateisme humanistik; dan kritik eksistensial diperlukan untuk membaca janji manis dan kegagalan ateisme eksistensialis dalam menjawab problem penderitaan dan makna hidup.

Dengan cara baca seperti ini, ateisme tidak diperlakukan sebagai lawan iman yang harus dimusnahkan, tetapi sebagai fenomena pemikiran yang harus dipahami secara serius agar tidak menjadi karikatur. Justru dengan pemetaan yang jernih inilah ruang dialog intelektual dapat dibuka. Bukan dialog yang mencampuradukkan semua bentuk ateisme, tetapi dialog yang tahu persis apa yang sedang dipersoalkan dan pada level mana persoalan itu bekerja. Tanpa kerja pemetaan ini, diskursus ateisme—baik yang mendukung maupun yang mengkritiknya—akan terus terjebak pada pengulangan slogan, bukan pada pemahaman yang mendalam dan bertanggung jawab. Wallāh `a’lam bi haqiqatil hāl!

Kontributor

  • Ahmad Ilham Zamzami

    Ahmad Ilham Zamzami, mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir pada jurusan Islamic Theology and Philosophy. Aktifis kajian dan literasi di PCINU Mesir.