Sabtu malam , 15/11/2025, aula Sansila Kaduronyok dipenuhi ratusan orang yang berkumpul dalam riuh zikir untuk memperingati Haul ke-8 Aki Gunung Kaduronyok, KH. SM. Fuad Halimi Salim. Suasana desa yang biasanya senyap berubah menjadi ruang doa yang hangat, tempat kenangan dan rasa hormat kepada beliau kembali hidup.
Aki Fuad adalah sosok ulama khos yang sudah lama dikenal di banyak kalangan meskipun beliau bukan dari kiyai yang mengambil jalur popularitas. Aku sempat berbincang dengan salah satu murid dan teman seperjuangan beliau, Kiai Ihya dari Cilacap. Ia bercerita bahwa ketika Gus Dur berkunjung ke Banten, orang yang selalu mengawal beliau adalah Aki Fuad. Cerita semacam ini menegaskan bahwa kedudukan dan kepercayaan yang diberikan kepada beliau bukan sesuatu yang muncul belakangan, tetapi sudah mengakar sejak dulu.
Bagiku sendiri, hubungan dengan Aki Fuad dimulai jauh sebelum aku mengenal dunia pesantren, kitab kuning, atau dunia akademik Islam. Sejak kecil, beliau adalah salah satu lembar pertama dalam hidupku—setelah kedua orang tuaku—yang ikut membentuk arah perjalanan yang kutempuh hingga hari ini. Nama yang kusandang, dan bahkan nama anak-anakku (Trahtiwali), lahir dari lisan dan doa beliau. Keputusan untuk belajar ke Mesir, yang mengubah cara pandangku terhadap ilmu, juga berawal dari dorongan beliau.
Jika di banyak daerah ada tokoh karismatik seperti Gus Miek atau Gus Dur, maka Banten memiliki Aki Fuad yang memilih jalan yang lebih tenang. Beliau tidak mengejar sorotan, tidak mencari popularitas, dan tidak tertarik tampil di ruang publik. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah beliau membangun masyarakat, membina manusia secara personal, menata lingkungan, dan mendidik akhlak masyarakat Kaduronyok.
Hubungan beliau dengan Gus Miek dan Gus Dur juga menunjukkan betapa luas jaringan batin dan pemikirannya. Gus Miek adalah sosok yang membawa beliau kembali ke tanah Banten dan membuka jalan bagi Kaduronyok menjadi seperti hari ini. Ada kisah sederhana yang diceritakan: ketika Aki Fuad rindu kepada Gus Miek tetapi tidak memiliki biaya untuk berkunjung, sering kali justru Gus Miek yang tiba-tiba datang hanya untuk menemani sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Dengan Gus Dur, kedekatannya berjalan lebih tenang dan tidak banyak diketahui publik. Beberapa kali Gus Dur datang ke rumah beliau di Jakarta. Bahkan anak pertama Aki Fuad pernah digendong oleh Gus Dur. Namun, Gus Dur pernah berpesan, “Kelak kita tidak saling kenal di depan manusia.” Karena itulah hubungan keduanya tidak pernah ditampilkan ke ruang publik, walaupun para murid tahu bahwa kedekatan itu nyata.
Aki Fuad selalu menjadi sosok yang sulit untuk diletakkan dalam satu kategori. Beliau lahir dari lingkungan ulama, tumbuh dalam atmosfer para kiai Banten yang keras, tetapi caranya menuntun orang mendekat kepada Allah terasa sangat khas: sederhana, langsung, dan tanpa ornamen berlebihan.
Aki Fuad pernah menyampaikan kepadaku bahwa ayahandanya, Mamah Halimi Salim, adalah seorang pengikut Thariqah Syadziliyah. Dari jalur itulah beliau mengenal dunia suluk, adab, dan kehalusan batin dalam tradisi para masyayikh. Pun dari para Masyayikh Pondok Pesantren Bendo Kediri, salah satu almamater kesantrian beliau. Namun ketika tiba saatnya beliau sendiri membimbing jamaah, pendekatannya berbeda dari banyak tradisi tarekat yang dikenal orang.
Aki Fuad tidak memakai nama tarekat tertentu. Beliau tidak mewajibkan baiat, tidak mengajarkan wirid dengan kesan eksklusif, dan tidak pernah menonjolkan hal-hal yang tampak “istimewa.” Menurut beliau, inti thariqah adalah akhlak menuju Allah. Semua perjalanan batin pada akhirnya bermuara pada satu hal: bagaimana seseorang memperbaiki dirinya, memelihara lidahnya, dan menjaga hubungan dengan sesama sebelum membahas maqam-maqam ruhani.
Suatu waktu, Maulana Syekh Yusri Rusydi Sayyid Gabr al-Hasani (salah seorang murysid Thariqah Syadziliyah di Mesir) pernah ditanya tentang keajaiban-keajaiban kecil dalam perjalanan tarekat—tentang ilham, mimpi, isyarat, atau kemudahan tertentu yang terasa “aneh.” Beliau menjawab, “Itu semua ujian, bukan tujuan, Al-Salik la Yaltafit”, tambahnya. Jika seorang salik ‘terpukau’ di tengah jalan, dia tidak akan sampai kepada Allah.
Sikap inilah yang aku rasakan melekat pada Aki Fuad: membiarkan orang berjalan dengan tenang, tanpa terburu-buru mengejar sensasi ruhani.
Suatu waktu beliau memberi perumpamaan yang sederhana namun sangat jelas: perjalanan thariqah itu seperti menuju mall. Di sepanjang jalan kita mungkin melihat banyak supermarket yang tampak menarik, tetapi itu bukan tujuan. Ada orang yang berhenti di sana karena merasa sudah menemukan sesuatu, padahal jika ia melanjutkan perjalanan sampai mall, ia akan menemukan hal yang jauh lebih lengkap. Begitu pula dalam thariqah, yang terpenting adalah mencapai tujuan utamanya, bukan terpukau oleh hal-hal kecil di perjalanan.
Walaupun dikenal sebagai ulama thariqah, Aki Fuad adalah seorang akademisi modern: lulusan S3 Hermeneutika di Malaysia. Namun, semua ijazah formal beliau—S1, S2, hingga S3—dibakar sendiri sebagai bentuk pelepasan dari simbol-simbol duniawi. Bukan karena beliau menolak ilmu, tetapi karena beliau melihat bahwa inti perjalanan adalah akhlak, bukan gelar.
Ajaran akhlak ini yang paling kuat diwariskan: akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak kepada Allah. Kaduronyok menjadi tempat pembentukan itu. Desa kecil ini tumbuh menjadi ruang belajar yang tenang bagi banyak orang yang datang kepada beliau.
Pada haul ke-8 malam ini, ketika doa dan tahlil dipanjatkan, suasana kembali menguatkan bahwa warisan terbesar Aki Fuad bukan pada gelar atau cerita-cerita karamah, tetapi pada keteguhan akhlaknya. Sebuah keteladanan yang terus hidup, melampaui waktu, tempat, dan generasi.
Semoga haul ini menjadi cahaya yang menjaga hubungan batin kita dengan beliau.
-Mabda Dzikara-






Please login to comment