Artikel

3 Kenangan yang Tertinggal dari Prof. Huzaemah

26 Jul 2021 02:56 WIB
394
.
3 Kenangan yang Tertinggal dari Prof. Huzaemah

Catatan singkat wafatnya seorang ulama perempuan Indonesia.

Kenangan ini dimulai 10 tahun yang lalu. Tepatnya  pada tahun, 2011, saat saya harus mengikuti mata kuliah fikih muqaran. Mata kuliah 3 semester di Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diampu oleh Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo.

Figur yang selama ini saya dengar sebagai “bukan sembarang” dosen. Banyak kakak kelas yang menceritakan kepakaran lulusan al-Azhar Kairo ini. Beliau adalah perempuan Asia Tenggara pertama yang meraih gelar doktoral perbandingan mazhab di universitas negeri Kinanah pada tahun 1984. Universitas yang menjadi “kawah candradimuka”-nya sejak jenjang S1 dan S2.

Setidaknya ada tiga kenangan yang hingga kini masih tertinggal. Menjadi secercah terang bagaimana saya memahami keilmuan dan praktik berislam.

Pertama, terkait dengan diskursus perbandingan mazhab. Sedari awal mengikuti perkuliahan, saya menaruh prasangka. Fikih perbandingan mazhab adalah mata kuliah yang akan “menggerus” komitmen mahasiswa dalam berfikih. Khususnya dalam mengamalkan fikih mazhab Syafi’i. Lintas mazhab adalah langkah gegabah. Mendorong seseorang untuk memilih-milih pendapat yang ringan ataupun mencampur adukannya (talfiq). Prinsip inilah yang dulu, secara fanatik saya peganggi. Terbentuk dari forum-forum bahtsul masail se-Kawedanan Pare Kediri. Dimana pendekatan lintas mazhab adalah sesuatu yang tabu.  

Setelah sekali dua kali mengikuti pengantar perkuliahan dari Prof. Huzaemah, berlahan saya menjadi tersadarkan. Perbandingan mazhab adalah niscaya bagi pengkaji fikih tingkat lanjut. Tujuannya adalah untuk mematangkan penguasaan fikih itu sendiri. Bukan sebaliknya. Fikih perbandingan mazhab adalah kekayaan keilmuan yang telah banyak ditulis oleh ulama klasik ataupun kontemporer.

Sebagai misal kitab al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah (541-620 H), Bidayah al-Mujtahid karya Imam Ibnu Rusyd (520-595 H), al-Majmu’ karya Imam al-Nawawi (631-676 H). Dengan mengkaji perbandingan mazhab, kita dihantarkan untuk memahami keluasan fikih, serta mengetahi corak kekuatan metodologi masing-masing mazhab.

Kenangan kedua adalah terkait eksistensi ulama perempuan. Sebelum kuliah di UIN Jakarta, tidak terlintas di benak saya, menjumpai seorang wanita yang pakar dalam bidang fikih. Selama nyantri di Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung Pare Kediri, saya tidak menjumpai seorang ustadzah ataupun ibu Nyai yang membacakan kitab kuning untuk santri putra. Malah sebaliknya, banyak ustadz atapun kiai yang mengampu pengajian untuk santri putri. Demikian halnya dalam forum bahtsul masail, baik dalam lingkup Kediri ataupun Jawa-Madura, belum saya jumpai ada perumus ataupun mushohih dari perempuan. Dalam bahtsul masail putripun, sering kali dewan perumus dan mushohihnya diambilkan dari ustadz ataupun Kiai.

Kenyataan ini berbeda ketika saya mengenal Prof. Huzaemah. Rekam sejarahnya, sejak 1987, ulama kelahiran Donggala Sulawesi Tengah 1946 ini sudah aktif menjadi anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Pandangan dan argumentasinya banyak mewarnai perumusan fatwa-fatwa MUI. Demikian pula, santri lembaga pendidikan al-Khairat ini juga aktif terlibat di forum-forum ilmiah tingkat internasional. Duduk sejajar dengan para pakar fikih lintas negara, yang banyak didominasi oleh kaum laki-laki.

Dalam beberapa kesempatan, hal ini saya temukan langsung ketika di UIN Jakarta diselenggarakan seminar atau konferensi internasional. Sebagai mahasiswa yang diajar beliau di ruang kelas, melihat kiprah ini adalah sebuah “kebaruan” sekaligus kebanggaan tersendiri.

Ketiga adalah terkait “role model” emansipasi wanita. Meskipun dengan segudang kesibukan dan keilmuan, Prof. Huzaemah tetap tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Dalam beberapa kesempatan, sebelum memulai perkuliahan, beliau menyatakan bahwa tidak mungkin meninggalkan rumah sebelum memastikan anggota keluarga tersiapkan makanan dan kebutuhan lainnya.

Sisi unik lainnya, saat mengajar ataupun di forum-forum resmi lainnya, satu hal yang mengundang tanda tanya dari saya pribadi adalah kekhasan gaya pakaian beliau. Selalu berpenampilan rapi dan anggun dengan selendang lebar. Melingkar dari pundak hingga terapit kedua tangannya. Warna selendang selalu serasi dengan warna kerudung dan gaun yang beliau kenakan. Selaras dengan ungkapan bahwa pakaian adalah cermin kepribadian.

Kemarin pagi, 23 Juli 2021, di hari Jumat yang mulia, Prof. Huzaemah berpulang. Jelang Shubuh hingga pagi, tidak seperti biasanya, Ciputat diguyur hujan. Dua hari ini masih sejuk dengan mendung bergelayut. Mungkin saja isyarat mengiringi kepergian Prof. Huzaemah. Tenang beristirahat di kompleks Pemakaman Para Guru Besar UIN Jakarta.

Lahal Fatihah.


Muhammad Hanifuddin
Muhammad Hanifuddin / 1 Artikel

Musyrif Pesantren Darus Sunnah International Institute For hadits Sciences di Ciputat Tangsel

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: