Infografik

Biografi Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri

19 Feb 2022 05:49 WIB
1172
.
Biografi Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri.

Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri adalah seorang ulama Nusantara asal Bogor Jawa Barat yang memiliki pengaruh keilmuan yang besar di tanah Makkah. Beliau juga dikenal sebagai seorang bangsawan dan umara.

Beliau bernama lengkap Syekh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi al-Makki. Di Makkah beliau dikenal dengan nama Syekh Atharid. Nama Sunda beliau adalah Raden Muhammad Mukhtar bin Raden Natanagara

Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri lahir pada hari Kamis 14 Februari 1862 M bertepatan dengan 14 Sya'ban 1278 H dari pasangan Raden Aria Natanagara yang juga dikenal sebagai Kiai Atharid. 

Silsilah ayahnya menunjukkan bahwa Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri memiliki kakek moyang ulama-ulama besar yang menyambung ke Walisongo dan bangsawan turunan Eyang Dalem Cikundul, Bupati pertama Cianjur Jawa Barat.

Usai belajar agama dasar dari orang tua dan ulama di kampung halamannya, Raden Muhammad Mukhtar belajar agama ke ulama Betawi. Beliau dikenal cerdas dan memiliki hafalan yang kuat. Di antara gurunya dari Betawi adalah al-Allamah habib Utsman bin Aqil bin Yahya, Mufti Betawi waktu itu.

Tuan Mukhtar Bogor kemudian berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci sekaligus belajar di sana. Beliau lebih menojol dibandingkan teman-teman seangkatannya, sehingga memiliki karir dan berprestasi selama belajar di Haramain.

Syekh Muhammad Mukhtar Atharid memiliki banyak murid karena mengajar di Masjidil Haram selama 28 tahun sejak 1903 M hingga 1930 M. 

Di antara ulama Nusantara yang belajar kepadanya di Haramain adalah Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy'ari Pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah, Guru Marzuqi Cipinang Muara, Kiai Ahamd Dimyathi Abdullah at-Tarmasi (adik Syekh Mahfuzh at-Tarmasi), Guru Mughni Kuningan, Syekh Arsyad Thawil al-Bantani, Ajengan Ahmad Sanusi, dan Syekh Muhammad Ahyad bin Muhammad Idris al-Bughuri. Nama terakhir ini adalah santri kesayangan sekaligus menantu beliau, putra dari Kiai Muhammad Idris ibn Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri.

Selama hidup di Haramain, Syekh Muhammad Mukhtar Atharid pernah menyaksikan polemik tentang hukum belut, lauk ikan yang sering dikonsumsi orang-orang Nusantara. Ulama Timur Tengah mengharamkan karena dianggap bagian dari jenis ular. Sedangkan beliau sendiri memakan dan menyukai belut. Beliau kemudian menulis risalah yang mengupas kehalalan belut dalam kitab berjudul As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu.

Beliau juga memiliki sejumlah karya tulis lain. Di antaranya Taqribul Maqashid, Ushuluddin I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah, dll.

Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri meninggal dunia di Makkah pada 13 Juli 1930 M bertepatan dengan 17 Safar 1349 H.

Ilustrasi oleh Ahmad Hudaepi.

Redaksi
Redaksi / 402 Artikel

Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial. 

Ude daeromi
08 October 2022
Sangat bermanfaat, semoga dapat berkah dari ulama aamiin

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: