Usaha menjadi salah satu pokok penting yang harus dilakukan umat manusia untuk meraih apa yang diinginkan olehnya. Hanya saja, ada yang terpenting dari sekadar usaha, yaitu berdoa. Doa menjadi salah satu ikhtiar penting dalam meraih keinginannya.

Tidak hanya itu, berdoa menjadi salah satu bukti atas tidak kuasanya seorang hamba tanpa disertai kehendak dari tuhan-Nya. Bahkan, doa bisa menjadi bahan peningkatan spiritualitas untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Ada banyak bukti tertera dalam teks-teks Al-Qur’an dan hadist yang memerintahkan umat Islam untuk berdoa, di antaranya yaitu:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Gafir: 60)

Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw. bersabda:

الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata orang mukmin, pilar agama (Islam), dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Al-Hakim)

Dua ayat di atas menjadi sebuah bukti bahwa berdoa merupakan sebuah ikhtiar penting yang harus dilakukan seorang hamba. Bahkan, ia merupakan ibadah yang jarang diketahui umat Islam. Setiap perintah yang Allah perintahkan, maka mengerjakannya merupakan ibadah. Sedangkan ibadah tidak selalu tentang shalat, puasa, sedekah, zakat, dan lainnya. Berdoa juga bagian dalam beribadah.

Dalil di atas juga menjadi sebuah bukti untuk menolak pemahaman-pemahaman keliru yang menganggap bahwa berdoa akan mengeluarkan seseorang dari ridha pada takdir yang telah Allah swt. tentukan. Dengan berdoa, menunjukkan bahwa ia tidak menerima semua kepastian Allah kepadanya. Tentu tidak demikian, sama sekali doa tidak menjadi sebuah media untuk menolak takdirnya. Imam al-Ghazali menanggapi pernyataan-pernyataan demikian, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin sebagai berikut:

ولا يخرج صاحبه عن مقام الرضا وكذلك كراهة المعاصي ومقت أهلها ومقت أسبابها والسعي في إزالتها بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لا يناقضه أيضا

“(Doa) tidak mengeluarkannya dari posisi ridha. Begitu juga dengan membenci maksiat, marah pada penyebab (maksiat)nya, dan pergi untuk menghilangkannya dengan cara memerintahkan yang baik dan melarang keburukan, (semua itu) tidak merusak posisi ridha (takdir).” (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Bairut: Darul Ma’rifah 2010], juz 4, h. 351)

Menurut Imam al-Ghazali, pemahaman yang mengatakan bahwa berdoa menunjukkan sikap tidak terima pada takdir Allah merupakan pemahaman yang keliru dan perlu diluruskan. Anggapan seperti itu merupakan anggapan orang-orang yang tidak paham cara memahami takdir yang sebenarnya dan konsep ridha secara subtansial, serta lupa akan pilar-pilar syariat.

Jika diuraikan, betapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadist tentang perintah untuk ridha terhadap semua kepastian Allah swt. Di antaranya, yaitu:

مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللهُ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللهُ

“Termasuk dari kebahagiaan anak Adam, yaitu sikap ridhanya terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya, dan termasuk kesengsaraan anak Adam, yaitu sikap benci (tidak menerima) terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi)

Semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan kepastian Allah swt. sejak zaman azali, mulai dari kaya, miskin, sehat, sakit, bahagia, menderita, susah, senang, taat, maksiat dan lain sebagainya. Tentu sebagai umat Islam harus ridha dengannya. Jika semuanya merupakan kepastian Allah swt., membenci atau menghindar dari semuanya menunjukkan sikap membenci kepastian Allah. Benarkah demikian? Lantas bagaimana cara menyikapi dua dalil yang sama-sama menjadi perintah?

Mari bahas pelan-pelan.

Meyakini bahwa semua kejadian merupakan kepastian Allah swt. adalah kewajiban bagi semua umat Islam, juga ridha dengan semua kejadian itu adalah kewajiban. Pun dengan berdoa, merupakan perintah Allah kepada semua makhluk-Nya. Oleh karenanya, dua hal ini merupakan hal yang rancu bagi pemikiran-pemikiran yang pendek dari dalamnya pokok-pokok penting dari setiap cabang ilmu, utamanya ilmu yang membahas akan takdir dan doa. Tentu menjadi bumerang bagi orang-orang yang terlalu mengedepankan semua kepastian Allah (takdir) dengan segala ketentuannya, dan melupakan kehendak Allah dengan segala otoritas yang hamba-Nya pinta kepada-Nya. Mereka mempunyai anggapan, dengan berdoa menunjukkan sikap tidak ridha dengan semua kepastian Allah. Nyatanya tidak demikian.

Menurut Imam al-Ghazali, bisa jadi akan terjadi dua sikap berbeda dalam menyikapi satu hal. Misalnya ketika menemukan seseorang melakukan maksiat. Di satu sisi, semua pekerjaan yang dilakukan olehnya merupakan ketentuan, kehendak, dan ikhtiar Allah swt., maka dari sisi ini, siapa pun harus ridha dengan kejadian itu sembari mamasrahkan semuanya pada Allah. Namun di sisi yang lain, melihat bahwa aktor yang berperan dalam pekerjaan itu adalah seorang hamba, ia yang melakukannya dan dengan melakukan maksiat itu artinya akan menjadi orang yang dimurkai Allah swt., maka dari sisi ini siapa pun harus membenci pekerjaan yang diperankan itu, ia harus ingkar pada semuanya disertai dengan upaya untuk merubah pekerjaan maksiat itu.

Melihat penjelasan di atas, dalam persoalan maksiat yang semuanya merupakan takdir dan ketentuan dari Allah swt., maka sikap yang benar menurut al-Ghazali, yaitu:

أنا محب له وراض به فإنه رأيك وتدبيرك وفعلك وإرادتك

“Aku mencintai kepadanya dan ridha dengannya, karena semua itu merupakan pemikiran-Mu, aturan-Mu, pekerjaan-Mu, dan kehendak-Mu.”

Sedangkan ketika melihat sisi yang lain, yaitu diperankan oleh hamba-Nya, maka sikap yang benar adalah:

أنا كاره له من حيث نسبته إليه ومن حيث هو وصف له لا من حيث هو مرادك ومقتضى تدبيرك

“Saya benci dengan (pekerjaan maksiat)nya, dari sisi disandarkan kepada (hamba)nya, juga dari sisi pekerjaan itu digambarkannya. Bukan dari sisi kehendak-Mu dan berkenaan dengan kehendak-Mu.” (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, 2010, juz 4, h. 351).

Dari contoh di atas, sangat tampak bahwa penting kiranya memahami bahwa semua takdir (yang terjadi, murni) dari Allah dan segala kepastian-Nya, dengan ikhtiar seorang hamba—dengan segala kemungkinan yang bisa Allah ubah kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya. Artinya, semua yang terjadi memang murni dari Allah, tak ada yang lepas dari kehendak-Nya. Hanya saja, dengan berdoa dan berusaha, bisa saja Allah merubah semua kepastian itu, sebab, Allah mempunyai otoritas penuh atas segala kepastian-Nya.

Dengan memahami perbedaan tipis keduanya, akan memberikan sebuah pemahaman bahwa kebaikan dan kejelekan sumbernya dari Allah. Hanya saja, kebaikan merupakan kehendak Allah yang diridhai, sedangkan kejelekan adalah kehendak Allah yang dimurkai.

Begitupun perihal doa. Dengan berdoa, bukan berarti menunjukkan bahwa seorang hamba tidak ridha dengan semua kehendak Allah. Dalam urusannya secara personal, ia harus memasrahkan semuanya pada Allah dan ridha dengan semua ketentuan yang telah Allah tentukan kepadanya, namun di sisi yang lain, sebagai hamba juga mempunyai hak untuk meminta apapun yang ia kehendaki kepada Tuhan-Nya.

Betapapun semua itu telah menjadi kepastian Allah, berdoa juga menjadi perintah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas. Di samping itu, doa juga menjadi senjata umat Islam dan pilar agama. Sedangkan tujuan berdoa sebagaimana yang disampaikan Imam al-Ghazali, yaitu:

ليستخرج الدعاء منهم صفاء الذكر وخشوع القلب ورقة التضرع ويكون ذلك جلاء للقلب ومفتاحا للكشف وسببا لتواتر مزايا اللطف.

“Agar doa bisa menjadi penyebab bersihnya ingatan, patuhnya hati, bersihnya sikap lemah lembut. Semua itu akan menjadi sebab keterbukaan hati, membuka ruang tertutup (hati dari Allah), dan sebab terus menerusnya pemberian kebaikan.” (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, 2010, juz 4, h. 351).

Contohnya, membawa kendi yang di dalamnya berisi air untuk diminum, tidak bisa dikatakan tidak ridha dengan kepastian Allah ketika seseorang sedang kehausan, atau dahaga. Begitupun dengan doa, ia sebagai media untuk mentertibkan semua kepastian Allah kepada umat manusia. Oleh sebab itu, menurut al-Ghazali, sama sekali doa tidak bisa dikatakan menjadi sebab ketidakridhaan seorang hamba atas semua kepastian takdir-Nya.