Artikel

Mengkampanyekan Gerakan Islam Peduli Lingkungan

06 Aug 2021 03:43 WIB
1397
.
Mengkampanyekan Gerakan Islam Peduli Lingkungan

Beberapa dekade terakhir dunia menanggung beban perubahan iklim, tidak terkecuali negara-negara dengan mayoritas Muslim. Namun kesadaran manusia dalam menanggapinya terbilang sangat terbatas, lebih-lebih umat Muslim.

Apakah pernyataan di atas dapat dibetulkan? Siapapun bisa memulai penelitian.

Agama Islam yang selalu digaung-gaungkan sangat komplit dalam mengatur seluruh aspek kehidupan bukankah memiliki petunjuk dan landasan berpikir dalam menentukan aksi perubahan iklim? Bila memang sudah ada aturan serta cara mainnya, apa aksi kongkrit yang sudah diambil para pemeluknya?

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa gerakan Islam Ekologi berdasarkan tradisi Islam akan jauh lebih efektif dibanding harus mengimpor koar-koar kampanye politik dari Barat. Namun sayang, ketika berkaitan dengan kesehatan ekologi, tanpa aksi nyata pendapat serta wacana hanyalah omong kosong.

Aksi-aksi ekologis dari negara bermayoritas Muslim sangat mendesak untuk dilakukan. Terhitung telat sebetulnya, namun jauh lebih baik timbang tidak sama sekali.

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, Indonesia bukan hanya produsen sampah plastik terbanyak kedua namun juga penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi kelima di dunia, akan tetapi terlihat tidak banyak berbuat sesuatu demi menguranginya.

Siapapun boleh tidak terima, tetapi begitulah yang tampak dari kacamata dunia.

Bangladesh dan Pakistan juga demikian, sudah menjadi wawasan bersama dua negara yang terkenal Islami tersebut menyandang predikat negara paling tercemar di dunia, akan tetapi sampai hari ini belum juga mengambil langkah jitu untuk melakukan perbaikan.

Para pakar memperkirakan Bangladesh dalam kurun 30 tahun mendatang satu dari setiap tujuh warganya harus mengungsi entah kemana, memopulerkan istilah“climate refugees”, lantaran jutaan penduduknya terpaksa mengungsi karena tuntutan cuaca, bukan adanya konflik senjata. Hal serupa akan terjadi di banyak wilayah Timur Tengah.

Kasus lain terjadi di Turki, destinasi peradaban Islam itu kini sangat rentan oleh dampak dari perubahan iklim, suhu meningkat sementara curah hujan menurun dari tahun ke tahun menyebabkannya memiliki masalah serius dengan persediaan air.

Terlepas dari kerentanan-kerentanan tersebut, sebetulnya tidak sedikit langkah yang sudah diambil. Hanya saja masih jauh dari kata maksimal. Meski sudah lahir deklarasi dari segenap negara-negara Muslim tahun 2015 lalu, kelambanan-kelambanan dalam berperan aktif masih dirasakan oleh siapa saja di mana saja.

Belum tentu mereka yang paling menderita karena dampak perubahan iklim menjadi pihak yang paling getol dalam menghentikannya. Seorang profesor filsafat d Universitas Uskudar yang juga aktifis lingkungan, Ibrahim Ozdemir, menulis bahwa banyak negara Muslim ogah menerapkan konsep-konsep Barat tentang lingkungan, atau studi banding kepada negara-negara industri yang cakap dalam menanggulangi pencemaran.

“Kolonialisme lingkungan,” tambah Ozdemir, “is not the answer. Yang akan berhasil dan jelas terbukti hasilnya adalah penerapan prinsip-prinsip Islam dalam mendorong semangat konservasi.”



Sebagian isi Deklarasi Islam untuk Perubahan Iklim Global yang diumumkan oleh sejumlah ilmuwan lingkungan hidup dan iklim, ulama terkemuka dari dunia Islam  pada 17-18 Agustus 2015 di Istanbul Turki.

Setiap Muslim sadar betul bahwa agamanya mengajarkan untuk selalu menjaga lingkungan. Setiap individu meyakini bahwa mereka bertugas tidak lain sebagai khalifah di bumi, menjadi pelestari bukan perusak. Masing-masing meyakini bahwa sekecil apapun tindakan terhadap alam kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Konsep di atas sangat gamblang dan transparan. Dalam Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim pada 2015 lalu juga dijadikan tolok ukur utama, tidak lain guna mendorong pemberantasan krisis lingkungan di negara-negara Muslim.

Tidak kurang dari 200 ayat Al-Qur’an berbicara tentang lingkungan hidup. Misalnya umat Muslim diingatkan bahwa yang lebih besar dari penciptaan manusia adalah penciptaan langit dan bumi (baca QS. Ghafir ayat 57). Firman tersebut secara tidak langsung menjelaskan bahwa tidak ada yang lebih Islami dibanding menjaga dan melestarikan alam sebagai ciptaan paling berharga Tuhan.

Pendekatan tersebut senantiasa harus digalakkan dalam menggerakkan hati nurani 1,8 milyar umat Islam di seluruh dunia, hal yang barangkali akan lebih mudah lagi bila dibarengi pembentukan gerakan-gerakan melestarikan lingkungan secara merata.

Nabi Muhammad SAW. mengajarkan rahmat serta kepedulian melalui sikap mendasar dan ringan dilakukan setiap orang, hal yang seyogyanya dijadikan contoh setiap Muslim. Dalam merawat binatang misalnya, beliau melarang membunuh atau menyiksa binatang untuk keperluan olahraga; menyerukan supaya tidak memberikan beban terlalu berat kepada unta maupun keledai; juga mengajarkan etika serta tata cara yang baik dalam menyembelih binatang konsumsi; bahkan ada kisah yang sangat populer bagaimana beliau memercayakan untanya memilih tempat untuk dijadikan masjid pertama di Madinah.

Hasil sebuah studi tahun 2013 di Indonesia menunjukkan bahwa menyelipkan pesan-pesan ekologis dalam ceramah-ceramah keislaman berhasil meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Pada tahun 2014, MUI bahkan mengeluarkan fatwa yang mewajibkan umat Islam di Indonesia turut aktif melindungi spesies-spesies yang terancam punah, melarang keras perburuan ilegal dan perdagangan hewan langka.

Gerakan seperti Alliance for Religions and Conservation (ARC) agaknya layak ditiru dan dipromosikan, mereka mempersembahkan layanan publiknya dengan cara menggunakan agama untuk menyampaikan salah satu pesan intinya, yaitu semangat konservasi. Bukti keberhasilan mereka misalnya, bersama kaum santri mereka berhasil menghentikan tradisi nelayan di Tanzania dengan menggunakan peledak dan potas dalam menangkap ikan karena sangat bertentangan dengan spirit beragama.

Keberhasilan tersebut juga menunjukkan bahwa bujukan dari atas ke bawah tidak selamanya efektif. Sebelumnya mereka sudah berulang kali menolak perintah pemerintah, namun giliran narasi agama yang berbicara walhasil mereka terdorong merubah cara bernelayan.

Kabar baik juga terdengar sekitar setahun lalu ketika Forum Dhaka mengadakan seminar panel tentang masalah-masalah ekologis paska Covid-19 dengan mendatangkan sebagian besar nara sumbernya Muslim. Terselenggaranya forum itu adalah bukti bahwa tidak sedikit para pemimpin Muslim memiliki kepekaan terhadap nasib lingkungan.



Fazlun Khalid, Direktur Pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) dan penggagas Islamic Declaration on Global Climate Change (Deklarasi Islam untuk Perubahan Iklim Global).


Agaknya penting ditekankan bahwa negara-negara Muslim sejatinya beberapa langkah lebih depan dalam kepemilikan kerangka dasar dan kerja nyata melindungi bumi pertiwi. Lebih spesifik lagi, misalnya tokoh lingkungan sekelas Sayyed Hossein Nasr menegaskan bahwa abad pencerahan Barat telah berhasil melahirkan sebuah ideologi bahwa manusia memiliki kekuasaan penuh atas bumi, yang mana jelas melahirkan kesan congkak dan bebas berbuat apa saja terhadapnya. Berbeda dengan Islam, sebagai pemilik prinsip rahmatan lil ‘alamin memosisikan manusia sebagai pengelola yang diberi tanggung jawab secara penuh.

Kerangka kerja sudah jelas, aksi nyata sudah dimulai, jika hasil belum tampak bukan berarti panduan dan gerakannya keliru. Besar kemungkinan kampanye dan sosialisasinya perlu dioptimalkan.


Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 48 Artikel

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Al-Hikmah Purwoasri, Walisongo Sragen, Al-Ishlah Bandar Kidul, Al-Azhar Kairo, dan PTIQ Jakarta. Saat ini mengabdi di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: