Artikel

Nuaiman, Sahabat Suka Mabuk Namun Mencintai Allah dan Nabi

29 May 2021 01:40 WIB
583
.
Nuaiman, Sahabat Suka Mabuk Namun Mencintai Allah dan Nabi

Cinta bisa tumbuh dengan perkenalan. Tak kenal maka tak sayang. Namun cinta butuh dipupuk agar akarnya menguat dan tumbuh dengan sehat. Mencintai Rasulullah atau orang shaleh dan wali Allah juga demikian: dengan membaca sirah, mendengar kisah dan manaqib para wali dan kaum shaleh bisa menumbuhkan benih-benih cinta. Cinta akan semakin berkembang setelah perkenalan semakin mendalam.

Semua orang yang bermazhab Syafi’i mencintai Imam Asy-Syafi’i. Tapi kecintaan para pengikut awam tidak sama dengan kecintaan para ulama. Pengikut awam mencintai imam Asy-Syafi’i dengan cinta yang bersifat umum, tapi para ulama mencintai Imam Asy-Syafi’i dengan cinta yang khusus dan lebih mendalam. Semua ini berkat intensitas ulama dalam membaca karya-karya Imam Asy-Syafi’i; kedalaman ilmu Asy-Syafi’i tak pelak membuat mereka semakin mengagumi dan mencintai sang Imam.

Demikian ilustrasi Imam Al-Ghazali dalam Ihya. Al-Ghazali sepertinya menempatkan mahabbah (cinta) dalam maqamat kesufian yang bisa diusahakan. Sementara kaum sufi lain menganggap mahabbah sebagai ahwal (trance) yang tak bisa diusahakan (mawhibah/terberi).

Cinta membuat seorang pecinta meniru kekasihnya. Sehingga banyak pengkaji, seperti Ibn Hazm, mengatakan bahwa cinta bisa terwujud bila kedua kekasihnya memiliki munasabah, musyabahah dan musyakalah (keserupaan, kemiripan). Sehingga ketaatan pada Allah bisa diasumsikan kecintaan hamba pada Tuhannya. Meniru jejak Rasul (ittiba’) adalah ekspresi cinta pada Rasullah. Sebab dengan meniru tergambar munasabah dan musyabahah.

Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah yang tidak ittiba’ berarti tidak cinta? Apa standar ittiba’ harus total?

Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa ittiba’ bukan syarat cinta. Ittiba’ merupakan tanda cinta. Pendapat ini didasarkan pada kisah Nuaiman, seorang sahabat yang kecanduan minuman keras (khamar). Nuaiman tak pernah jera minum meski sudah dihukum cambuk berkali-kali. Hingga pada sutau waktu ada sahabat Nabi lain yang kesal pada sikapnya mengeluarkan sumpah serapah dan laknat.

Mendengar ucapan Sahabat ini Nabi mengingatkan “jangan kau laknat (Nuaiman)! Sebab dia mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. At-Tirmizi).

Jadi cinta ada dalam hati dan tak bisa diukur oleh perilaku seseorang. Bisa saja hatinya diliputi cinta tapi dia belum sanggup membahagiakan kekasihnya. Ini setidaknya menegaskan pada kita bahwa tak ada yang sanggup ittiba’ pada Rasulullah secara total karena beliau adalah manusia sempurna. Namun kita bisa mencintai beliau secara totalitas dalam hati.

Demikian pula mencintai para wali dan ulama; kita tak akan sanggup meniru jejak, perilaku, akhlak dan ketekunan mereka. Tapi kita bisa menumbukan dan menguatkan perasaan cinta kita pada mereka. Dengan cinta yang semakin mengakar kuat maka biasanya seseorang akan sanggup mengikuti dan membahagiakan kekasihnya tanpa lelah dan pamrih.

Abdullah bin Al-Mubarak menggubah sebuah syair:

Kamu bermaksiat pada Tuhan sementara dirimu mengaku cinta + sungguh demi Allah, ini sangat aneh”

“Jika cintamu sejati niscaya kamu akan taat padaNya + sesungguhnya sang pencinta dengan kekasihnya akan selalu taat”

Al-Ghazali lebih menyukai amal ibadah yang sedikit namun diliputi perasaan cinta yang membuncah dari amal ibadah yang banyak namun kering dari cinta dan kerinduan. Meski cinta juga memiliki tingkatan: ada yang murni karena cintanya pada Allah, ada yang mencintai Allah karena berharap surgaNya, ada yang mencintaiNya karena merasa mendapat perhatian dan nikmatNya di dunia. Semua didasari cinta pada Sang Khalik, dengan alasan yang beragam. Yang tercela adalah mencintai pemberian namun lupa pada Sang Pemberi.


Abdul Munim Cholil
Abdul Munim Cholil / 41 Artikel

Kiai muda asal Madura. Mengkaji sejumlah karya Mbah Kholil Bangkalan. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Katib Mahad Aly Nurul Cholil Bangkalan dan dosen tasawuf STAI Al Fithrah Surabaya

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: