Syekh Abdullah ad-Diraz, ulama yang dijuluki filsuf al-Quran, penulis buku fenomenal ‘Dustur al-Akhlaq fi al-Qur’an’, menulis buku berjudul ‘ad-Din’. Hal yang menarik dari buku tersebut dan harus selalu diulang dalam konteks arus pemikiran Islam adalah soal perspektif dalam memandang agama. 

Agama dipelajari oleh dan dari berbagai sisi keilmuan: antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat, dan seterunya. Tetapi lantaran maraknya perangkat analisis itu, agama lupa dikaji berdasarkan agama itu sendiri. Maka tidak mengherankan agama yang dipelajari berdasarkan perangkat eksternalnya itu akan menghasilkan kajian yang terkadang melenceng dari isi agama itu sendiri: agama adalah candu (Marx), agama adalah delusi berjamaah (Freud), dan agama adalah proyeksi masyarakat (Durkhem). 

Syekh Diraz tidak menampik pentingnya kajian eksternal terhadap agama, karena agama tidak lahir dari ruang hampa. Tetapi Syekh Diraz mewanti-wanti bahayanya kajian-kajian tersebut bagi eksistensi agama itu sendiri. Oleh sebab itu, sebelum membedah agama dari sisi mana pun, agama sebagai agama itu sendiri harus sudah selesai.

Pengantar singkat soal agama di atas ingin saya tarik ke persoalan esoterisme Islam.

Beberapa waktu yang lalu seorang Profesor bernama Sumanto Al Qurtuby, nama yang sudah saya dengar semenjak saya kuliah di UIN Walisongo karena dia ternyata pernah tinggal di asrama yang dulu saya tinggali, menulis dalam status facebooknya soal ‘menggambar Nabi’. 

Di status pertamanya, dia mengajukan pertanyaan yang isinya ngetes: kenapa dalam tradisi Islam dewasa ini menggambar Nabi dianggap pelecehan? Dia kemudian membandingkan beberapa tradisi dalam agama lain yang sangat selow menanggapi nabi atau bahkan tuhan mereka divisualisasikan dalam bentuk lukisan atau patung. 

Di status kedua, Sumanto menjawab pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya. Dia memakai perspektif antropologi dan kesenian Islam. Premisnya begini: beberapa kelompok dalam Islam tidak mempermasalahkan gambar Nabi (dalam hal ini dia menyebut kelompok Syiah di Iran dan beberapa kelompok di daerah Turki, Asia Tengah, dan Asia Selatan). Sejarah juga mencatat bahwa Nabi pernah dilukis dalam beberapa adegan. Dan, ini yang paling penting: baginya al-Quran tidak menyebutkan secara eksplisit larangan menggambar Nabi.

Pandangan eksternal terhadap Nabi (bagian dari agama Islam) semacam di atas bagi saya tidak berangkat dari penalaran yang benar. Kesalahan pertama tentu karena melihat agama dari luar, dari teropong yang terlalu jauh. Antropologi mempelajari agama dari ‘gerak’ tradisi yang dilakukan oleh oknum tertentu dari pemeluk agama yang ada kalanya: (i) mendapat legalisasi sebagai sumber hukum, sebagaimana ijmak, dan (ii) tidak mendapat legalisasi, semisal akulturasi budaya. 

Akulturasi budaya itu sendiri tidak dapat diterima jika melenceng dari prinsip-prinsip hukum. Jadi, adanya oknum yang di suatu masa pernah melukis Nabi sama sekali tidak bisa dipakai sebagai pembenaran bolehnya Nabi dilukis atau digambar. Perkara penerimaan masyarakat atas gambar tersebut adalah hal yang lain. 

Sumanto mengkritik orang zaman sekarang yang sudah selalu menaruh garis marka terhadap segala macam bentuk visualisasi atas Nabi. Apakah kritikan ini berdasar? Bagaimana kalau kita asumsikan bahwa lukisan Nabi di zaman dahulu tidak terekspos oleh banyak orang sehingga tidak ada tanggapan dari masyarakat. Dan bedakan dengan sekarang, di mana informasi dapat diakses siapa saja dan di mana saja. Sikap masyarakat harusnya tidak boleh dipisahkan dari media yang melatarinya.

Kesalahan kedua Sumanto terdapat pada ‘celah’ analisisnya yang timpang. Secara mendasar, ajaran Islam menolak semua bentuk pemberhalaan. Dan ‘alat’ pemberhalaan paling efektif bagi seluruh kalangan (terutama orang awam) adalah visualisasi bentuk: bisa lewat sketsa, lukisan, patung, dan seterusnya. 

Bayangkan, sahabat yang sudah mengetahui ajaran Islam soal tauhid saja isykal soal praktik mencium hajar aswad yang dilakukan oleh Nabi. “Jika tidak karena Nabi menciummu,” kata sahabat Umar ketika hendak mencium hajar aswad, “niscaya saya tidak akan menciummu.” Ya, alasannya karena hajar aswad tidak bisa memberi manfaat apa-apa secara logika. 

Jika Nabi divisualisasi, ya Nabi yang agung, maka sangat rawan umat terjebak pada pemberhalaan dan mengakui sesuatu selain Allah punya daya untuk A atau B.

Betul bahwa dalam al-Quran tidak ada larangan yang secara eksplisit menyitir soal ‘menggambar Nabi’, tetapi secara eksplisit kita tidak pernah disuguhi oleh al-Quran dengan gambaran fisiknya Nabi. Al-Quran justru mengatakan bahwa Nabi ‘memiliki akhlak yang agung’. Umat Nabi tidak dituntut oleh agama kecuali meneladani akhlaknya Nabi, bukan fisiknya Nabi. 

Jadi, menggambar fisik Nabi dan menempelkannya di dalam kamar atau di baleho jauh tidak lebih penting dari meneladani akhlaknya. Di dalam Hadis memang terdapat banyak riwayat yang menjelaskan soal perawakan, fisik, dan wajah Nabi. Tetapi justru di sanalah sisi kesenian dalam menggambarkan Nabi. Membaca riwayat-riwayat tersebut orang akan memiliki bentuk visual Nabi dalam kepala mereka masing-masing. Mereka berhak untuk mengimajinasikan Nabi sesuai dengan kapasitas mereka. Berbeda jika kasusnya ada kanon berupa sketsa atau lukisan. Orang akan terpaku dengan lukisan itu dan imajinasi mereka tidak akan melenceng dari yang sudah tergambar di sana.

Alhasil, dalih kesenian sangat tidak bijak untuk mengafirmasi bolehnya Nabi digambar. Memandang agama dari segi keseniannya saja jelas akan mereduksi agama itu sendiri. Seperti halnya kasus dalam memandang agama dari segi keilmuan eksternal lainnya. Pun jika kita paham tentang hakikat seni, maka kita justru akan terpukau dengan kesenian dalam menggambarkan Nabi lewat kata-kata. 

Bukankah kita tidak kekurangan puisi, syair, dan prosa, yang dapat membantu kita untuk menyaksikan keagungan fisik Nabi? Mau berkata apa lagi? Tradisi Arab pada waktu itu yang lebih condong ke syair daripada seni visual? Itu perlu ditunjau ulang. Bukankah sebelum Fathu Makkah amat banyak berhala yang nongkrong di sekitar Kabah? Apakah orang Arab pada waktu itu tidak mengenal seni patung? Lalu kenapa sampai hari ini kita tidak menemukan satu pun sahabat yang dulunya ahli seni pahat yang akhirnya mematungkan fisik Nabi sehingga hari ini kita bisa menyaksikannya di museum?

Tidak, Nabi dan agama tempatnya bukan di museum maupun galeri. Agama ada di dada kita, Nabi ada di perilaku kita, seharusnya, ya, seharusnya.