Rabu (28/10) sore hari yang lalu, saya bersama KH. Ma'ruf Khozin  menziarahi kompleks pemakaman sultan-sultan Pontianak yang terletak di Batu Layang.

Di sana dimakamkan para sultan dari generasi ke generasi, mulai dari Sultan Pontianak pertama, Syarif Abdurrahman b. Husain al-Qadri yang wafat pada 1223 Hijri (1807 Masehi) hingga Sultan Pontianak terakhir, Syarif Hamid II b. Muhammad al-Qadri (w. 1398 H/1978 M).

Dalam epitaf (syawahid al-qubur) makam Sultan Syarif Abdurrahman al-Qadri yang bercorak arsitektur khas makam sultan Melayu, tertulis keterangan berikut:

فد تاريخ سنة ١٢٢٣ هجرة تاهون د ال كفد سهاري ست اول بولن المحرم فد مالم سبت جم فوكل سبلس...؟...

(Pada tarikh sanat 1223 hijrah tahun Dal kepada sehari satu awal bulan Muharram pada malam Sabtu jam pukul sebelas ...?...)

Baca juga: Membongkar Isi Lemari Kitab Syaikh Basyuni Imran Sambas, Murid Rasyid Ridha Mesir

Epitaf yang terpahat pada makam, yang menginformasikan waktu kewafatan serta nama sang empunya makam, juga terdapat pada makam-makam saudara Sutan Abdurrahman al-Qadri lainnya yang terdapat di kompleks makam Syarif Husain al-Qadri (w. 1184 H/1771 M), ayah sang sultan yang juga mufti di Kesultanan Mempawah.

Menariknya, dalam epitaf tersebut, selain mencatatkan tahun Hijri, juga mencantumkan tahun Jawa Islam (Mataraman), seperti tahun Dal, Jim, Ze, Alip dan seterusnya. Hal ini menegaskan adanya pengaruh tradisi Jawa Islam yang kuat dan sampai hingga ke wilayah Kesultanan Pontianak.

Misalnya, pada makam istri Sultan Syarif Abdurahman al-Qadri, yaitu Ratu Cendramidi yang ada di Mempawah, tertulis masa kewafatanya pada "sanat 1221 Hijri tahun Jim". Tetulis di sana:

فد تاريخ سنة ١٢٢١ هجرة تاهن جيم ...

(Pada tarikh sanat 1221 Hijrah tahun Jim ...)

Penyertaan tahun Jawa Islam (Mataram) dalam catatan titimangsa juga saya dapati pada inksripsi Masjid Besar Keraton Pontianak yan dibangun di masa Sultan Usma nb. Abdurrahman al-Qari (w. 1855), penguasa ketiga Pontianak.

Dalam insksripsi tersebut, dimaklumatkan jika masjid besar keraton diselesaikan pembangunannya pada "sanah 1238 Hijri tahun Ze".

Baca juga: Buku Verslag Tentang Perdebatan Mengucapkan Ushalli di Sumatera Timur Awal Abad 20

Namun, tampaknya tradisi penulisan tahun Jawa Islam itu tidak termaktub lagi pada makam sultan-sultan Pontianak generasi akhir, seperti makam Sultan Muhammad al-Qadri (w. 1944) dan Sultan Hamid II al-Qadri (w. 1978). Titimangsa yang terdapat pada makam keduanya mencakup tahun Hijri dan Masehi.

Saya jadi berasumsi lebih jauh, jika tradisi penulisan tahun Jawa Islam tidak hanya terdapat pada epitaf nisan atau inskripsi bangunan bersejarah (seperti masjid besar keraton) Kesultanan Pontianak saja. Perihal ini juga tampaknya berkembang pada tradisi penulisan manuskrip (naskah tua tulis tangan) yang berkembang di wilayah kesultanan tersebut. Wallahu A'lam

Pontianak, 16 Rabi'ul Awwal 1442 Hijri