Di dalam pembahasan suatu permasalahan, seringkali kita menemukan ikhtilaf atau perbedaan pendapat antar ulama, baik itu di dalam forum-forum diskusi, debat, maupun di dalam literatur-literatur islam.

Ikhtilaf pada makna asal lughawi (kebahasaan)nya, tidak mengandung makna perdebatan atau perselisihan. Akan tetapi keadaan manusia dan jiwanyalah yang mengantarkan pada perdebatan dan perselisihan itu. Mereka tidak menerima pandangan orang lain sehingga menyebabkan suatu perbedaan pandangan. Inilah yang menjadikan cikal bakal munculnya perdebatan dan perselisihan.

Namun perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara definisi ikhtilaf dan khilaf. Imam Abul Baqa’ Al-Kafawi menjelaskan di dalam kitabnya, “Kulliyatihi” bahwa keduanya memiliki perbedaan dalam 4 hal, yaitu:

1. Ikhtilaf, adalah sesuatu yang proses atau caranya berbeda, akan tetapi maksud dan tujuannya satu. Sedangkan khilaf, antara proses (cara) dan tujuannya berbeda.

2. Ikhtilaf, (perbedaannya) disandarkan pada dalil. Sedangkan khilaf tidak didasarkan pada dalil

3. Ikhtilaf, merupakan bagian dari rahmat. Sedangkan khilaf, merupakan bagian dari bid’ah (sesuatu yang baru).

4. Ketika seorang hakim membuat keputusan dan berbeda dari yang lain, kemudian mengoreksinya, maka keputusan itu dapat ditarik kembali, karena tempat perbedaannya dalam ranah ikhtilaf. Berbeda dengan khilaf, perbedaannya tidak memungkinkan untuk berijtihad karena tidak sesuai dengan al-Qur’an, hadits, dan ijmak.

Maka dapat disimpulkan bahwa makna khilaf adalah sesuatu yang di dalamnya mengandung perbedaan, perselisian dan pertentangan (secara nyata). Sedangkan ikhtilaf adalah sesuatu yang memungkinkan adanya perubahan lafal (perbedaannya tidak secara nyata), sehingga apabila terdapat ikhtilaf dari segi lafal, maka masih memungkinkan untuk menggabungkan dua pendapat.

Ruang lingkup ikhtilaf sangat luas sekali, namun di sini saya akan lebih menyinggung tentang ikhtilaf di dalam permasalahan furu’ fikih.

Dalam kitab “Adab Al-Ikhtilaf fi Masa'il Al-ilmi wa Ad-din” dijelaskan bahwa sebab-sebab ikhtilaf di dalam permasalahan-permasalahan furu’ islam, itu karena tiga poin besar, yaitu:

1. Keadaan akal seorang mukalaf dan jiwanya.

2. Keadaan nash-nash taklifiyah.

3. Tabiat bahasa Arab yang ada pada nash tersebut.

Daya Tangkap Pemahaman Ulama

Manusia memiliki akal, dan kapasitas akal manusia berbeda-beda, sehingga terkadang melahirkan pemahaman yang berbeda-beda pula. Adakalanya seseorang memiliki pemikiran yang luas, terus berkembang, sehingga mudah memahami teks dan sesuatu yang didengarnya. Ada juga yang memiliki pemahaman, pemikiran luas di satu bidang tertentu, namun lemah di bidang yang lain, dan sebagainya.

Seseorang yang sudah familiar, terbiasa menggunakan akalnya, bersinggungan langsung dengan permasalahan-permasalahan ikhtilaf, maka cara berpikirnya akan lebih terbuka dan semakin luas, sehingga hal itu dapat mempengaruhi pandangannya dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Begitu juga jiwa (perasaan) seseorang, berbeda antara satu orang dan orang lain. Ada seorang yang mudah menerima perbedaan dengan perasaan ridha dan lapang dada. Ada jiwa seseorang yang selalu merasa ingin berbeda dari yang lainnya, dan susah menerima pandangan orang lain. Ada jiwa yang lebih mengedepankan nafsu sehingga bersifat ambisius, namun ada juga jiwa seseorang yang lebih mengedepankan kehati-hatian, jiwa yang selalu meluaskan pandangannya di dalam memandang fleksibilitas syariat terutama yang berkaitan dengan masalah-masalah furu’, dan lain sebagainya.

Maka keanekaragaman jiwa atau perasaan ini dapat mempengaruhi akal seseorang di dalam memahami teks-teks nash yang ada.

Seseorang jika memiliki jiwa yang bersih, maka ia akan menggunakan akalnya untuk merekam, menyimpan apa yang didengarnya, memahami tiap-tiap huruf yang ada pada nash, tujuan dari nash, dan makna yang diinginkan oleh mutakallim (pembicara) dari nash tersebut. Kemudian dia mendalaminya serta menghubungkannya dengan maklumat-maklumat (informasi) lain yang dimilikinya, hingga kemudian dapat menyimpulkan dan beristinbat menjadi sebuah pandangan dan hukum.

Tabiat Nash Al-Quran dan Hadits

Kemudian tabiat dari nash-nash juga memiliki pengaruh yang besar yang menjadikan perbedaan pandangan.

Ada sebagian nash-nash syariat baik yang berasal dari al-Quran maupun hadits yang memiliki kemungkinan terjadinya perbedaan penafsiran dan pemahaman. Namun apabila dipandang pada keseluruhan nash-nash yang berkaitan dengan satu permasalahan, maka itu dapat membantu dalam mentarjih dari dua kemungkinan, sehingga permasalahan dapat terselesaikan lebih cepat. Hal ini dapat dilalui, tentunya setelah berusaha keras dan mengerahkan segenap tenaga, pikiran dengan maksimal.

Karakteristik Bahasa Arab dalam Nash Al-Quran dan Hadits

Faktor terpenting selanjutnya, adalah yang berhubungan dengan tabiat bahasa Arab yang ada pada teks al-Quran dan hadits.

Ada bahasa di dalam ayat al-Quran maupun hadits yang mengandung hakikat dan majaz; ada yang maknanya bisa didapatkan secara tekstual di dalam nash (mantuq) dan ada juga yang baru bisa didapatkan setelah memahami nash secara kontekstual (mafhum).

Seperti dalam hadits tentang shalat Ashar di Bani Quraidzah:

لا يصلين أحد منكم العصر إلا في بني قريظة

"Janganlah salah seorang dari kalian menunaikan shalat Ashar, melainkan apabila sudah tiba di Bani Quraidzah."

Sebagian sahabat memahami hakikat larangan nabi tersebut secara dzahirnya, sehingga mereka melewatkan waktu Ashar hingga tiba di Bani Quraidzoh pada waktu magrib, dan menunaikan shalat disana.

Namun sebagian sahabat lain memahami dengan alasan atau mafhum di balik larangan tersebut. Nabi menyarankan agar mereka mempercepat perjalanan mereka agar sempat shalat Ashar pada waktunya.

Ada juga nash yang memiliki makna yang berlawanan, seperti dalam ayat:

والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء...”

"Wanita-wanita yang ditalaq hendaknya menahan diri (menunggu) sampai tiga kali quru'..."

Kalimat quru’ merupakan lafal yang memiliki dua makna, yaitu haid atau suci, sehingga dalam ayat ini bisa diartikan 3 kali haid atau 3 kali suci.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan tabiat nash di dalam al-Quran dan hadits. Kita bisa memahami itu setelah kita memahami kaidah-kaidah tata bahasa Arab (seperti nahwu, sharaf, balaghah), dan juga ilmu-ilmu alat lainnya sperti ushul fikih, dll.

Maka dapat disimpulkan bahwa 3 faktor di atas merupakan faktor inti yang menjadi pokok dasar sebab terjadinya perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Para sahabat setelah Nabi seperti Khulafaurrasyidin, juga sahabat ahli fikih seperti Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Sayyidah Aisyah, kemudian para tabi’in dan ulama-ulama setelahnya, mereka semua pernah berbeda pendapat. Sebagai bukti dari perbedaan pendapat mereka, lahirlah 4 mazhab dalam fikih Islam pada sekitar kurun 2 Hijriyah.

Perbedaan mazhab ini merupakan suatu fadhilah (keutamaan) bagi umat Islam, dan dapat dipahami bahwa syariat Islam sangatlah luas, bersifat fleksibel, menerima, dan memudahkan. Karena Allah SWT berfirman:

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu..."

Dan juga di dalam ayat yang lain,

وما جعل عليكم في الدين من حرج

"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan."

Selama ikhtilaf yang terjadi masih dalam permasalahan furu’, dan didasari oleh dalil-dali syar’i, maka ikhtilaf yang terjadi boleh-boleh saja dan itu merupakan sebuah rahmat. Sebagaimana hadits nabi:

اختلاف أمتي رحمة

“Perbedaan pendapat pada umatku adalah sebuah rahmat.”

Allahu a’lam
Jabal Muqottom, 8 Dzulhijjah 1442H.