Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Keindahan Balaghah dalam Al-Qur’an

Avatar photo
634
×

Keindahan Balaghah dalam Al-Qur’an

Share this article
Keindahan Balaghah dalam Al
Keindahan Balaghah dalam Al

Sama-Sama Bermakna “Jika”, Mengapa Dibedakan?

Biasanya, dalam berbicara itu hanya menyampaikan hukum asal; sekedar kabar saja kepada lawan bicara yang tidak didasari keraguan dan keingkaran (Khali al-Zihn). Ini hukum asalnya sebuah kabar. Misalnya, “Zaid sudah datang,” dikatakan kepada orang yang tidak berada pada posisi ragu atau ingkar. Sedangkan, jika lawan bicara kita berada pada posisi keraguan, maka layaknya ditambahkan dengan penguat, “Sumpah, Zaid sudah datang!”.

Kemudian, jika lawan bicara kita itu berada pada posisi ingkar terhadap kabar, maka layaknya ditambahkan penguat lagi, “Seriusan, deh sumpah Zaid sudah datang!” Nah, kira-kira begitu praktiknya dalam Balagah yang menyesuaikan keadaan. Makanya, kalau ada orang tiba-tiba dateng ke kita sedangkan kita itu biasa saja (tidak berada pada posisi ragu atau ingkar), kemudian orang tersebut kasih kabar ke kita, “Sumpah ege asli dah si Zaid udah sampe!” Kaya aneh saja, gitu. Apalagi sama orang yang sedikit-sedikit sumpah, rawan tidak dipercayai sama lawan bicaranya ketika dia tidak bersumpah.

Begitu, pun ketika praktik pada ayat al-Quran. Misalnya pada surat Yaasin:

قالوا ربنا يعلم إنا إليكم لمرسلون

“Padahal, toh bisa-bisa saja menggunakan tanpa penguat kata (Inna dan Laam), malahan kaya pemborosan kata gitu, padahal kan al-Quran kalamnya Ijaz simple tapi ngena,” kata orang yang kritis —cuman berhenti belajarnya—. Jadi “Ilaikum Mursalun”. Nah, kenapa ayat tersebut menggunakan kata penguat? Karena Allah menurunkan ayat itu kepada lawan bicara yang mengingkari utusan Allah. Udah mah susah dibilangin, dikasih tau juga teka, akhirnya digunakan kata penguat.

Tapi, yang perlu kita ingat ada beberapa huruf yang menjadi penguat yang masuk kepada kata kerja seperti Adat Syartiyyah. Ex: In dan Idza. Dalam gramatika bahasa Arab (baca:Nahwu) In dan Idza sama-sama bermakna “Jika & Apabila”. Lalu, mengapa kalau sama itu digunakannya berbeda tempat?

Imam Muhammad Thahir bin Asyur bilang begini:

بأن إن يدل على عدم اليقين بوقوع الشرط سواء كان مستقرب الوقوع لكن بلا جزم كقوله – تعالى – (و إن تؤمنوا و تتقوا يؤتكم أجوركم) فإن إيمانهم و تقواهم واقعان أو كان مشكوكا في وقوعه ضعيف الاحتمال كقول المعري “قال أستطع في آتك زائرا * و هيهات لي يوم القيامة اشغال”. و أما إذا فأصلها الدلالة على اليقين بوقوع شرطها نحو قوله – تعالى – (إذا جاء نصر الله و الفتح) هذا هو الأصل و قد جاء على ذلك قوله – تعالى – (فإذا جاءتهم الحسنة قالوا لنا هذه و إن تصبهم سيئة يطيروا بموسى و من معه) لأن نعم الله على العباد كثيرة و المصائب نادرة.

موجز البلاغة للطاهر بن عاشور ص 16

Yang intinya perbedaan In dengan Idza adalah bahwa In itu masuk kepada sesuatu yang jarang terjadi atau tidak terjadi, sedangkan Idza itu digunakan pada sesuatu yang sering terjadi dan yang pasti terjadi. Misalnya contoh In dan Idza dalam al-Quran:

‎فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗۗ  اَلَآ اِنَّمَا طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Maka, apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Kami pantas mendapatkan ini (karena usaha kami).” Jika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan tentang nasib mereka (baik dan buruk) di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-‘Araf: 131)

Baca juga di sini

Lafaz “al-Hasanatu” sebelumnya itu didahului oleh Idza yang bertujuan bahwa banyak sekali kebaikan-kebaikan yang selalu menghampiri kita (tanpa kita sadari), sedangkan pada lafaz “Sayyi’atun” sebelumnya didahului oleh In yang menunjukkan bahwa sebenarnya musibah itu jarang menghampiri kita. Sehingga, tanpa kita sadari kita suka menjadikan masalah terhadap sesuatu yang bukan menjadi masalah. Intinya, kata In itu digunakan untuk sesuatu yang jarang terjadi, sedangkan kata Idza itu digunakan untuk sesuatu yang sering terjadi.

Contoh lainnya lagi huruf Idza digunakan pada Solat yang sering terjadi 5 kali sehari sedangkan In pada Junub (hadats besar) yang jarang terjadi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

Nah, akan tetapi ada sebuah ayat di al-Quran menggunakan kata (huruf) In pada lafaz kematian yang di mana kematian itu sesuatu yang sering terjadi dan pasti terjadi. Bahkan, sering kita lihat kematian yang menimpa seseorang.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ

“Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Nabi Muhammad). Maka, jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya: 34)

Ada faidah yang disampaikan oleh Imam al-Zamakhsyari: Tatkala manusia lalai (tidak sering ada = sedikit) dari mengingat kematian, maka al-Quran memosisikan kematian pada posisi yang jarang terjadi.

Sehingga kesibukan kita ini membuat kita lupa akan kematian yang sudah pasti terjadi bahkan sering kita lihat. Atau contoh mudahnya istrimu di depan matamu, cuman kamu menganggapnya (memosisikan) seperti tidak ada. Nah, kira-kira begitu banyak manusia yang lalai dari kematian.

Seperti itu praktik ilmu Balagah dalam al-Quran. Sehingga kita mampu menemukan keindahan yang belum bisa ditemui oleh orang lain. Dan tidak mudah mengatakan bahwa kalam Allah penuh dengan kesia-siaan.

فائدة: الفرق بين “إن” و إذ” في البلاغة “إن” تدخل على نادر الوقوع و على قليل الوقوع و على مستحيل الوقوع. بخلاف “إذا” فتدخل على كثير الوقوع و محقق الوقوع. فلفظ الموت في القرآن يستعمل بإن، مع أن الموت كثير الوقوع و محقق الوقوع؟ قال الزمخشري “لما غفل الناس عن الموت نزله القرآن منزلة نادر الوقوع.

مستفاد من درس شيخنا محمد سالم

Kontributor

  • Habib Muhammad Jinan

    Mahasiswa asal Jakarta yang sedang menempuh jenjang pendidikannya di fakultas Syariah Islamiyah, universitas al-Azhar, Kairo. Suka membaca untuk menjalani kehidupan. Bisa dihubungi melalui Instagram: @jjinan_