Nasab sering menjadi bahan perbincangan dalam masyarakat Muslim. Namun, menurut Ketua Umum Lembaga Peradaban Luhur, KH. Rakhmad Zailani Kiki, yang lebih penting untuk diperkuat justru adalah sanad ilmu. “Orang yang nasabnya buruk, tapi ilmunya baik, ia akan baik. Sebaliknya, orang yang nasabnya baik, tapi ilmunya buruk, maka ia akan buruk. Karena itu kita ingin kuatkan diri dengan sanad ilmu,” ujarnya saat membuka Seminar Nasional Memperkuat Sanad Keilmuan Islam di Nusantara: Jalur Maghribi sampai Hadhramaut di Kantor KODI DKI Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Dalam sambutan berikutnya, Ketua Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta, KH. Jamaluddin Fuad Hasyim, menegaskan bahwa sanad sejatinya adalah bagian dari sejarah. “Sanad adalah sejarah. Jangan sampai kita ahistoris. Mengenal sanad berarti mengenal identitas kita sebagai Muslim Nusantara,” paparnya di hadapan puluhan peserta yang memenuhi ruangan seminar.
Acara yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB ini dibagi ke dalam dua sesi. Empat narasumber dihadirkan untuk membentangkan peta transmisi sanad ulama Nusantara dari berbagai jalur: Maghribi, Haramain, hingga Betawi. Seminar ini dimoderatori oleh Mabda Dzikara, Dosen Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta sekaligus Manager Operasional Sanad Media, yang dengan lugas mengarahkan jalannya diskusi dan memantik dialog antara narasumber serta peserta.
Pada sesi pertama, KH. Ahmad Baso memulai dengan menyingkap peran ulama Maghribi dalam mewarnai Islam Nusantara. Menurutnya, Islam tidak hadir sendirian, melainkan melalui jejaring ulama dan tradisi para wali. “Tradisi guyub, kumpul dan makan bersama di Idul Fitri, adalah salah satu warisan dari para ulama,” papar Peneliti Sejarah Islam Nusantara ini.
Ia menguraikan, berkembangnya mazhab Syafi’i di Nusantara tidak lepas dari peran para pelaut ulama yang menguasai industri maritim di kawasan Timur Tengah. Kota-kota pelabuhan besar seperti Aden dikuasai oleh komunitas Syāfi’iyah yang terbiasa dengan navigasi laut dan perdagangan jarak jauh. Dari pusat-pusat dagang inilah, ajaran Syafi’i dibawa ke Timur Jauh, termasuk Nusantara, dan dengan cepat beradaptasi dengan budaya setempat.
Berbeda dengan mazhab Maliki atau Hanafi yang lebih dominan di jalur darat, Syāfi’iyah justru hadir melalui jalur laut yang dinamis dan kosmopolit. Dari jaringan ini pula lahir tokoh-tokoh besar seperti Sunan Gunung Jati, yang dipengaruhi ajaran Ibnu Athāillah al-Sakandari, serta Syekh Yusuf al-Makassari yang menjalin hubungan erat dengan ulama Bā‘alawi di Yaman.
Melanjutkan paparan pada sesi kedua, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum. menekankan peran Makkah dan Madinah sebagai pusat utama sanad ulama Nusantara sejak abad pertengahan. Menurutnya, Haramain bukan hanya tempat ibadah belaka, tetapi juga pusat transmisi ilmu yang menghubungkan ulama dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Nusantara.
Ia menyebut, pengaruh ulama Maghrib (Mauritania, Tunis, Mesir) seperti Imam Sanusi dengan kitab Ummul Barahin sangat besar karena menjadi salah satu rujukan utama akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah di abad ke-15. Kitab tersebut kemudian disyarahi oleh ulama Nusantara, misalnya Syekh Muḥammad Zain Faqīh Jalāluddīn Aceh dalam Bidāyat al-Hidāyah, hingga diteruskan oleh generasi setelahnya seperti Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Zariyat al-Yaqīn. Bahkan, tradisi pembacaan Dalā’il al-Khayrāt karya Sulaimān al-Jazūlī dari Maghrib Aqṣā (Maroko) juga menyebar luas di kepulauan ini.
Dalam jejaring yang lebih spesifik, Ginanjar menyoroti kiprah Syekh Yūsuf al-Makassarī (1626–1699), seorang ulama besar Nusantara yang menimba ilmu selama puluhan tahun. Ia berguru kepada Aḥmad al-Qusyāsyī di Madīnah, Amīn Dimashqī di Damaskus, dan Muḥammad ‘Alī bin ‘Allān al-Ṣiddīqī di Makkah.
Namun kiprahnya yang luas membuat Belanda menganggapnya ancaman. Setelah ditangkap, Syekh Yusuf dibuang ke Sri Lanka (Sailān), dan kemudian ke Cape Town, Afrika Selatan, pada 1699. Meski jauh dari tanah air, sanad keilmuannya tetap hidup dan bahkan menjadi fondasi bagi komunitas Muslim di wilayah-wilayah tersebut. Nelson Mandela sendiri pernah menegaskan bahwa gerakan perlawanan apartheid di Afrika Selatan terinspirasi oleh perjuangan Syekh Yusuf Makassar, sebuah bukti bahwa transmisi keilmuan Islam dari Haramayn ke Nusantara tidak berhenti pada tataran teks, tetapi juga menyalakan api perlawanan dan pembebasan di berbagai belahan dunia.
Jaringan sanad ini, lanjut Filolog Santri ini, tidak terputus. Murid-murid Syekh Yusuf seperti Syekh Ibrahim Kurani menulis al-Maslak al-Mukhtār yang dibaca para ulama Nusantara, di antaranya Syekh Abdussyakur Banten. Dari jalur inilah sanad berlanjut ke tokoh-tokoh besar abad ke-19–20, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, Syekh Soleh Darat, Syekh Nawawi Banten, hingga Mufti Betawi, Syekh Usman bin Yahya. Dengan demikian, Haramain benar-benar menjadi simpul pertemuan antara ulama dunia dengan ulama Nusantara.
Dr. Fakhriati, M.A, membawa perhatian ke tokoh penting abad ke-18, Syekh Abdussamad al-Palimbani (1710/1732–1789). Menurutnya, bagi Abdussamad, sanad bukan sekadar legitimasi ilmu, tetapi juga warisan nilai yang membentuk identitas sosial dan spiritual umat.
Abdussamad menempuh pendidikan panjang: sekitar 20 tahun di Makkah, 5 tahun di Madinah, serta singgah ke Mesir sebelum kembali ke Palembang. Di sana, ia berguru pada tokoh-tokoh besar seperti Syekh Ibrahim al-Kurani dan Syekh Muhammad Samman. Dari Ibrahim Kurani, ia mendalami Syattariyah, lalu melanjutkan ke Syekh Samman di Madinah dan menjadi murid utama Tarekat Sammaniyah.
Selain menulis karya besar seperti Naṣīḥat al-Muslimīn yang sebagian disusun saat ia berada di Betawi. Abdussamad juga aktif berdakwah di berbagai kawasan, termasuk Jembatan Lima, Pekojan, Luar Batang, hingga Sawah Besar. Jejaringnya di Betawi memperlihatkan bagaimana tarekat dan sanad keilmuan ikut membentuk wajah keislaman kota pelabuhan itu.
Murid-muridnya tersebar luas, salah satunya Syekh Abdul Ghani Bimawi. Melalui mereka, Tarekat Sammaniyah berkembang pesat di Sumatra, Betawi, Banten, hingga Ternate. Praktik Ratib Samman bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga menjadi energi perlawanan terhadap kolonialisme. Dalam syair Menteng, misalnya, digambarkan para haji berpakaian putih membaca Ratib Samman sebagai simbol resistensi umat.
“Abdussamad menulis kitab jihad di Betawi. Jadi, ia bukan ulama yang mengasingkan diri dari dunia, melainkan tokoh yang menjadikan sanad dan tarekat sebagai energi sosial dan politik umat Islam,” jelas Dosen UIN Jakarta dan Peneliti BRIN ini.
Di sesi terakhir, KH. Rakhmad Zailani Kiki kembali menekankan pentingnya memahami genealogi ulama Betawi. Ia menegaskan bahwa dalam sejarah Batavia, ulama dan habaib sering kali menjadi simpul utama keilmuan.
“Dulu, Habib yang bodoh tidak akan diikuti masyarakat. Yang diterima adalah yang berilmu dan dekat dengan budaya lokal,” ujarnya. Ia menyebut figur seperti Habib Husein Luar Batang, Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, hingga Habib Salim Otista sebagai simpul penting sanad keilmuan Betawi.
Menariknya, para habaib Betawi di masa lalu jarang menggunakan nama marga di belakang nama mereka. “Kalau sekarang, kenapa kembali lagi nama marga digunakan?” tanya Ketua RMI PWNU DKI Jakarta retoris, disambut senyum peserta.
Ia menambahkan, sanad keilmuan ulama Betawi seperti Guru Marzuki juga terhubung dengan jaringan habaib, dan melalui mereka bersambung hingga ke Haramayn. Meski tradisi ijazah kitab di Betawi tidak seketat pesantren Jawa, kredibilitas ilmu tetap terjaga dan menjadi ciri khas keilmuan Betawi.
Diskusi berlangsung hangat dengan peserta yang antusias mengajukan pertanyaan, mulai dari relevansi sanad dengan pendidikan Islam masa kini hingga tantangan menjaga tradisi di era modern.
Acara ditutup dengan penegasan bahwa memperkuat sanad ilmu berarti menjaga identitas keislaman Nusantara sekaligus merawat jembatan antara Muslim Indonesia dengan warisan peradaban Islam dunia.









Please login to comment